Social Distancing Bagi Warga Miskin Mesir

 Social Distancing Bagi Warga Miskin Mesir

HIDAYATUNA.COM – Sebagai pedagang sayur jalanan, yang biasanya harus melakukan perjalanan sekitar 90 kilometer dari Monufia ke Kairo, Mesir setiap harinya, Samira Outt, yang berusia 46 tahun, telah melanggar pedoman social distancing yang menuntut orang-orang untuk tinggal di rumah saja untuk menekan penyebaran virus corona.

Seperti jutaan warga Mesir lainnya, bagi Outt, seorang janda dengan empat orang anak, tinggal di rumah bukanlah sebuah pilihan. Jika dia melakukannya, sebagai tulang punggung keluarga, dia tidak akan bisa menyediakan makanan, pakaian dan tempat tinggal untuk keluarganya.

Outt menjual sebagian besar produknya ke pelanggan di jalanan dan kepada wanita yang bekerja di kementerian pertanian di distrik Dokki, Giza, tempat dimana dia memajang barang dagangannya. “Jika saya tidak datang ke Kairo untuk satu hari saja, saya tidak akan mampu membeli makanan dan menabung untuk (membayar) biaya sewa dan sekolah,” katanya.

Dengan tidak mengenakan masker wajah dan sarung tangan, Outt berbaur dengan 120 orang yang berbeda setiap harinya, termasuk pelanggannya. “Jika saya tertular virus (corona), saya akan mati, dan jika saya tidak bekerja, saya dan anak-anak saya juga akan mati, tapi karena kelaparan. Jadi sama saja,” katanya.

Outt juga mengatakan bahwa di desa-desa Monufia, sebuah kegubernuran Delta Nil di barat laut Kairo; “Tidak ada jam pembatasan pergerakan (curfew). Lokakarya, pabrik, lokasi konstruksi dan tempat kerja lainnya terus berjalan sehingga dapat menanggung kerugian akibat turunnya angka penjualan”.

Pada hari-hari dimana dia tidak bisa datang ke Kairo untuk menjual dagangannya, Outt pun bekerja sebagai pembersih rumah untuk menutupi kekurangan pendapatannya.

Vendor lainnya di wilayah kelas pekerja Ain Shams, Zien Awad, mengatakan bahwa dia belum mendengar atau melihat adanya kampanye tentang cara penanganan virus corona, dan dia juga tidak memiliki akses untuk ke internet ataupun TV. Pria berusia 56 tahun itu hanya disarankan oleh teman-temannya untuk tidak merokok shisha.

Berlindung dari sengatan sinar matahari di bawah pohon yang rindang, Awad menunggu pelanggan untuk datang dan membeli madu dan painya. “Tinggal di rumah hanyalah untuk orang kaya, saya tidak akan pernah sanggup (menjalankannya),” kata Awad mengenai upaya lockdown.

Sambil menunjuk pada pedagang kaki lima lainnya, dan antrian orang-orang yang sedang menunggu di sebuah lembaga pemerintahan, Awad mengatakan: “Jika bukan karena kemiskinan dan kelaparan, orang-orang ini akan tinggal di rumah dengan damai.”

Di kota Nasr di Kairo, puluhan pekerja bangunan, yang kebanyakan berasal dari daerah Mesir yang miskin, sedang duduk-duduk dengan peralatan mereka. Salah satunya adalah Ashraf, yang berusia 36 tahun dan berasal dari Sohag. Dia tinggal di kandang kuda bersama 20 orang lainnya, yang kebanyakan dari mereka adalah pekerja bangunan, pedagang, tunawisma, ataupun petugas kebersihan.

“Saya bangun sekitar jam 4 pagi setiap harinya, dan pergi ke sebuah tempat (kota Nasr), dimana para kontraktor atau pemilik rumah dapat mendatangi kami dan meminta kami untuk melakukan sebuah pekerjaan atau membangun sesuatu,” katanya.

“Dulu saya berpikir bahwa kesehatan adalah satu-satunya aset saya, tetapi sekarang saya ikhlas menyerahkannya demi memenuhi makanan dan kebutuhan keluarga saya,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia belum bisa mendapatkan satu pekerjaan pun selama dua minggu terakhir.

“Banyak orang yang saya kenal (yang dulu sama-sama bekerja di bidang konstruksi) sampai harus mengumpulkan sampah dan menjualnya, sementara yang lainnya mulai mengemis di jalan-jalan. Saya tidak mempunyai uang untuk dikirim kepada ibu dan ayah saya, apalagi untuk membeli masker dan sanitiser,” kata Ashraf.

Pemerintah Mesir telah menjanjikan beberapa bantuan kepada mereka yang sudah tidak memiliki uang di sakunya. Mereka mengatakan bahwa 500 pound Mesir (sekitar 500.000 rupiah) akan diberikan kepada para pekerja lapangan mulai tanggal 13 April jika mereka sudah mendaftarkan dirinya sebelum tanggal 9 April.

Bantuan tersebut akan didistribusikan melalui kantor-kantor pos di seluruh negara, serta cabang-cabang Bank Pertanian yang telah berafiliasi dengan negara Mesir. (Middleeasteye.net)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply