Viral Load Tingi Menyebabkan Infeksi Virus Corona Menjadi Lebih Buruk?

 Viral Load Tingi Menyebabkan Infeksi Virus Corona Menjadi Lebih Buruk?

HIDAYATUNA.COM – Menurut sebuah studi dari Royal College of Physicians di Inggris, seperlima dari dokter rumah sakit yang ada disana tidak dapat masuk kerja karena sakit ataupun sedang di karantina karena terkena COVID-19.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah ratusan staf medis profesional yang telah meninggal akibat COVID-19 tersebut, yang menurut laporan dari Medscape jumlah korbannya yang sudah mencapai kurang lebih 630 orang.

Salah satu teori tentang mengapa banyak staf medis di garis terdepan yang awalnya sehat berakhir meninggal akibat virus corona, adalah karena mereka telah terpapar partikel COVID-19 dengan jumlah yang sangat tinggi saat merawat pasiennya.

‘viral load’ yaitu jumlah partikel virus yang dibawa oleh orang yang sedang terinfeksi, yang kemudian dilepaskan atau ditularkan ke lingkungan sekitarnya.

Seperti yang diketahui, para staf medis harus sangat dekat dengan pasiennya untuk melakukan rutinitas prosedur yang ada, seperti mengambil sampel dari mereka, atau melakukan intubasi dan ekstubasi (memasukkan dan mengeluarkan tabung pernapasan), sehingga diasumsikan bahwa akan lebih banyak partikel virus yang akan ditransfer ke para staf medis di garis terdepan.

Viral Load dan Tingkat Keparahan

Jika anda memiliki viral load yang tinggi, akan lebih memungkinkan bagi anda untuk menginfeksi orang lain. Tetapi pertanyaan baru pun muncul, tentang apakah kondisi viral load yang tinggi dapat membuat hasil anda dari terinfeksi COVID-19 menjadi semakin buruk.

Dalam infeksi seperti sindrom pernapasan timur tengah (MERS) dan sindrom pernapasan akut (SARS), yang memiliki beberapa kesamaan dengan COVID-19, telah ditemukan adanya korelasi.

Dalam wabah SARS di tahun 2002-2003, ditemukan bahwa pasien dengan kondisi viral load awal yang lebih tinggi dapat memiliki hasil yang lebih buruk, dan disarankan bahwa viral load harus menjadi poin pertimbangan selain usia dan komorbiditas ketika staf medis memprediksi prognosis pasien yang terinfeksi oleh SARS.

Temuan serupa juga ditemukan dalam studi influenza. Dalam satu studi, seorang peserta dalam kondisi sehat diberikan influenza tipe A dengan dosis yang terus menerus bertambah, dan hasilnya telah didokumentasikan bahwa jumlah dan tingkat keparahan dari sebuah gejala, akan berkorelasi dengan viral load awalnya.

Namun, dengan COVID-19 sejauh ini hasilnya masih belum konklusif.

Dalam sebuah tinjauan terhadap 5.000 pasien COVID-19 di Italia, tidak ditemukan adanya perbedaan dalam viral load pasien yang memiliki gejala dengan mereka yang tanpa gejala, yang menyiratkan bahwa viral load tidak menentukan tingkat keparahan dari seorang pasien.

Dalam studi yang dilakukan terhadap 94 pasien di China, ditemukan bahwa pasien yang sedang terinfeksi COVID-19 akan menumpahkan (atau melepaskan) virus paling banyak pada permulaan awal, atau sebelum gejala mereka menjadi jelas, dan bahwa sebagian besar penularan kemungkinan akan terjadi sebelum gejala pertama muncul. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa viral load tidak selalu berkorelasi dengan seberapa parah gejalanya.

Namun, sebaliknya, studi lainnya di China yang dilakukan terhadap 76 pasien, menunjukkan bahwa mereka dengan kondisi COVID-19 yang parah, memang memiliki viral load yang tinggi, dan bahkan ditemukan bahwa mereka akan lepas dari virus itu dalam waktu yang lebih lama lagi, yang akhirnya memberi kesan bahwa viral load adalah penanda akan keparahan dari seorang pasien.

Untuk saat ini, akan sangat sulit bagi kita untuk mengetahui secara pasti apakah viral load ini dapat dikaitkan dengan keparahan pada pasien COVID-19. Hal ini dikarenakan proses studi seperti yang pernah dilakukan dengan influenza A (di paragraph sebelumnya) harus dilakukan terlebih dahulu, dimana anda akan menginfeksi orang sehat dengan dosis virus yang terus menerus bertambah, dan kemudian dinilai tingkat keparahannya dari gejala mereka. Namun, ini akan menjadi sangat tidak etis mengingat betapa parahnya akibat dari virus ini sendiri terhadap beberapa orang.

Mengapa Banyak Staf Medis di Garis Terdepan Berjatuhan?

Dengan datangnya hasil yang beragam dari studi-studi pendahulu tersebut, masih sangat penting bagi kita untuk melihat kemungkinan lainnya yang menyebabkan banyak dari staf medis di garis terdepan jatuh sakit akibat COVID-19.

Beberapa orang berpendapat bahwa kurangnya jam tidur dari para staf medis dapat menjadi sebuah elemen.

Sebuah bukti juga telah mendukung klaim tersebut, dengan menekankan perlunya tidur selama tujuh hingga delapan jam di setiap malam, dan juga menunjukkan bahwa mereka yang setiap harinya kurang tidur akan memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena masalah kesehatan serius, seperti penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Dalam hal infeksi, kita tahu dari saat mempelajari rhinovirus (flu biasa), bahwa mereka yang tidur kurang dari lima jam di setiap harinya, secara signifikan akan lebih memungkinkan untuk terserang flu daripada mereka yang dapat tidur tujuh jam atau lebih.

Karena itu, mungkin para staf medis professional yang berada di garis terdepan yang jarang mendapatkan waktu tidur, menjadi lebih rentan terhadap COVID-19 dibandingkan rekan-rekan mereka yang mendapatkan waktu istirahat dengan baik.

Dan ada juga kemungkinan dari kerentanan sebuah genetik, yang membuat individu tertentu menjadi lebih rentan terhadap suatu virus. Walaupun ini tidak dapat menjelaskan secara pasti mengapa para staf medis profesional secara khusus memiliki risiko yang lebih tinggi, hal itu akan menjelaskan mengapa beberapa orang-orang yang masih muda, bugar, dan sehat (yang umumnya juga termasuk staf medis profesional), secara tak terduga dapat terkena dampak dari virus tersebut.

Ada beberapa contoh tentang kerentanan sebuah genetik terhadap banyak infeksi lainnya. Salah satu contohnya adalah virus herpes simpleks. Bagi banyak orang, virus ini hanya menyebabkan luka dingin yang menjengkelkan tetapi tidak akan mengancam nyawa. Namun, pada 1/10.000 orang yang terinfeksi oleh virus ini, akan ada penyakit yang disebut herpes simplex encephalitis, yang dapat menyebabkan kejang-kejang, dan bahkan berakibat fatal jika tidak segera diobati. Hal itu diperkirakan disebabkan oleh mutasi dari genetik yang membuat sang pasien menjadi jauh lebih rentan terhadap virus ini.

Kesimpulan dari semua ketidakpastian ini adalah tentang masih pentingnya bagi semua kalangan, termasuk staf medis, untuk meminimalkan paparan virus sebanyak mungkin, dengan cara memakai sebanyak mungkin peralatan pelindung, dengan mempraktikkan social distancing, dan dengan menerapkan secara ketat tentang kebersihan tangan masing-masing. (Aljazeera.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply