Urgensi Mengais Keteladanan Pendakwah

 Urgensi Mengais Keteladanan Pendakwah

Urgensi Mengais Keteladanan Pendakwah. Sebagai pendakwah hal ini yang perlu untuk diketahui mengenai urgensinya.

Oleh: Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi

HIDAYATUNA.COM – Akhir-akhir ini banyak tokoh keagamaan, tokoh politik, tokoh masyarakat, dan bahkan bangsa yang tidak tahan uji dan akhirnya terjerumus kepada tindak-tindak amoral. Bukti-bukti tindakan amoral itu ada yang merupakan fakta yang tak terbantahkan, ada yang baru merupakan rumor, dan ada pula yang tidak terbukti secara hukum, namun masyarakat menghakimi mereka.

Naluri manusia adalah bermasyarakat dan hidup teratur di bawah suatu undang-undang atau peraturan dan suatu undang-undang atau peraturan tidak akan berjalan kecuali dikendalikan oleh seorang figur atau pemimpin.

Adapun pemimpin yang dapat  menjadikan aturan berjalan, adalah pemimpin yang tegas, berdisiplin, berintegritas moral yang tinggi, dan berwibawa. Dalam bahasa yang sederhana,pemimpin yang berwibawa adalah pemimpin yang berakhlak. Jika akhlak hilang, maka hilanglah kepercayaan masyarakat kepadanya.

Banyak orang mungkin tidak percaya dengan kekuatan moral, khususunya orang-orang sekuler dan ateis. Mereka tampaknya hanya melihat hal in dari situasi Barat sekuler dan liberal saat ini yang menganggap moralitas itu hanyalah kepantasan publik atau kesepakatan manusia. Padahal konon di zaman pertengahan Eropa, para pendeta yang dipilih menjadi pemimpin politik adalah mereka yang telah diuji integritas moralnya hingga tujuh turunan. Namun setelah itu, semakin sulit ditemukan pemimpin atau pemuka agama yang sekaligus memiliki integritas moral yang seperti itu. Akhirnya, pemimpin agama dan politik dipisahkan. Itulah yang menjadi wajah barat sekuler sekarang ini.

Moral pun kini sudah digantikan oleh karakter. Padahal karakter itu adalah sesuatu yang ditempelkan kepada seseorang dan bukan perilaku asli yang bersangkutan. Seorang bintang film non-Muslim bisa saja misalnya memainkan ‘karakter’ seorang ulama atau seorang santri. Seorang pejabat pemerintahan bisa saja berkarakter pemimpin karena tegas, disiplin, tidak korupsi, administrasi beres, namun di sisi lain mempunyai kehidupan pribadi kelam karena selingkuh, berzina, sering menghina orang, dan sebagainya.

Islam memiliki konsep akhlak. Akhlak seseorang itu adalah bagian dari fitnah penciptaannya yang diciptakan Allah dengan sebaik-baik ciptaan. Akhlak juga merupakan konsekuensi atau hasil dari iman dan ilmu. Orang yang beriman dan beilmu berkewajiban untuk beramal dan amalnya berdasarkan ilmu dan keimanannya. Amal yang berdasarkan pada iman dan ilmu pasti dihiasi oleh akhlak. Maka, dalam Islam seorang ulama itu dijamin memiliki akhlak yang mulia karena dia pasti beriman.

Berbeda dengan saintis yang boleh jadi dia adalah ateis. Sebab, dalam pandangan sekuler, ilmu itu tidak ada hubungannya dengan agama. Bagi mereka sains itu untuk sains dan bersifat netral. Oleh karena itu, para saintis hebat seperti Albert Einstein, Dalton, Darwin dan lain-lain, tidak hebat soal moralitas. Demikian pula pemimpin-pemimpin Barat yang sangat berkuasa seperti Hitler, Stalin, Gorbachev, tidak dijamin memiliki integritas moral yang kuat.

Tidak seperti peradaban Barat yang terus berubah, konsep Islam tentang akhlak tetap tidak berubah hingga saat ini. Pemimpin dalam-Islam  baik pemimpin agama ataupun politik-dituntut integritas moral atau kemuliaan akhlaknya. Sebab, kekuatan peradaban Islam itu terletak pada keshalihan ilmuwannya dan keadilan pemimpinnya, atau terletas pada keshalihan ulama dan keadilan umara.

Pepatah Arab menyatakan bahwa “Sesungguhnya tegaknya suatu bangsa itu adalah karena akhlak. Jika akhlak sudah menghilang maka bangsa itu juga akan hilang”. Terkait itu, maka tentulah bahwa kekuatan akhlak itu terutama berada pada para pemimpin-baik ulama maupun umara- yang diikuti oleh rakyatnya secara alami.

* Direktur-pendiri INSISTS dan Wakil Rektor Universitas Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur

Sumber: 50 Pendakwah Pengubah Sejarah

Redaksi

Terkait

Leave a Reply