Tradisi Perang Ketupat di Lombok ( Simbol Keharmonisan )

 Tradisi Perang Ketupat di Lombok ( Simbol Keharmonisan )

HIDAYATUNA.COM – Bagi warga Indonesia, Hari Raya Idul Fitri berarti perayaan agama sekaligus tradisi. Di Lombok misalnya, keriaan tak hanya terasa pada hari Lebaran. Enam hari setelahnya ada Lebaran Topat, selebrasi unik dan sarat makna.

Sebagai pulau dengan mayoritas umat Muslim, hampir seluruh masyarakat Lombok merayakan Lebaran Topat. Selebrasi ini berlangsung 6 hari usai Lebaran. Kata ‘Topat’ diambil dari ‘ketupat’, panganan khas masyarakat Indonesia saat Lebaran tiba.


Tradisi Lebaran Topat rupanya sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan masih digelar hingga saat ini untuk mempertahankan tradisi leluhur di Lombok.

Begini selebrasi utamanya. Pagi hari saat Lebaran Topat, peziarah akan memenuhi Makam Loang Baloq yang berlokasi tepat di sebelah Pantai Tanjung Karang. Mereka memanjatkan doa dan mencuci muka di makam keramat tersebut. Hal yang sama dilakukan di Makam Bintaro. Ini adalah dua makam bersejarah yang ada di Kota Mataram.

Para peziarah datang dengan membawa perbekalan berupa ketupat, ayam, daging, opor telur, sayur paku dan pakis, urap, serta plecing kangkung. Semua panganan ini dimakan bersama di halaman sekitar makam.

Usai ziarah, warga berpindah ke pantai mulai dari Pantai Bintaro sampai Pantai Tanjung Karang. Mereka menyusuri tepian pantai sambil membawa ketupat. Dalam tradisi Lebaran ini, ketupat memang menjadi unsur utama yang digunakan. Bentuknya yang segi empat menunjukkan bahwa manusia terdiri dari air, tanah, api dan angin.

Perayaan Lebaran Topat tak sampai di situ. Ada tradisi Perang Topat yang juga turun-temurun dilakukan antara umat Islam dan Hindu di Lombok. Menggunakan pakaian adat Sasak dan Bali, ribuan warga Muslim dan Hindu dengan damai saling lempar ketupat. Upacara tersebut dilakukan di Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Tradisi Perang Topat adalah cerminan kerukunan umat beragama di Lombok. Prosesinya dimulai dengan mengarak sesaji berupa makanan, buah, dan sejumlah hasil bumi sebelum kemudian saling melempar ketupat. Ini merupakan ungkapan rasa syukur umat manusia atas keselamatan, sekaligus memohon berkah kepada Sang Pencipta.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply