Tiga Situs Sejarah Islam yang Ikonik di Kota Baku Azerbaijan

 Tiga Situs Sejarah Islam yang Ikonik di Kota Baku Azerbaijan

Bagi kalian yang ingin tahu tentang Azerbaijan. Berikut ini tiga situs sejarah Islam yang ikonik di Kota Baku Azerbaijan

HIDAYATUNA.COM – Baku terletak di pesisir Laut Kaspia. Bukan laut, sebenarnya, melainkan danau besar yang membatasi Azerbaijan dengan Rusia, Kazakstan, Turkmenistan dan Iran. Beberapa orang menjuluki Baku sebagai kota kecil Paris. Jika melihat jalan besar yang membentang di pusat kota, wisatawan akan menyaksikan sisa-sisa peradaban Barat melalui kemegahan arsitektur bangunan yang masih utuh terjaga. Pertokoan ritel mewah seperti Armani, Gucci, Dior, Ferrari dan masih banyak yang lainnya pun berjejer rapi, menyatu dengan keglamoran bangunan yang berdiri.

Berjalan-jalan hingga malam hari di Baku juga terbilang aman. Di tengah pendaran lampu hias yang mewarnai sudut bangunan kota, keindahan Baku semakin jelas terasa. Tak heran jika hingga pukul dua pagi, wisatawan masih akan bertemu dengan banyak orang yang bepergian, termasuk keluarga yang membawa anak, terutama di pusat kota.

Jika hanya memiliki waktu semalam untuk menikmati Baku, berikut ini ialah beberapa tempat yang wajib dikunjungi:

  1. Old City

Old City adalah inti dari peradaban Baku. Bukti peradaban Zoroastrianisme, Sasania, Arab, Persia, Shirvani, Ottoman hingga Rusia.

Kontinuitas budaya tersebut terlihat dari gaya arsitektur bangunan yang ada, mulai dari dinding tembok, saluran air, pintu serta jendela. Beberapa peneliti berpendapat bahwa bangunan-bangunan ini berdiri sebelum abad ke-7, tetapi pendapat umum menyatakan bahwa Old City terbentuk sejak abad ke-12.

Berlokasi di pusat kota, akses menuju Old City dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi umum, seperti bus dan metro (kereta bawah tanah). Namun, untuk bisa menggunakan transportasi umum di Baku, Anda harus memiliki kartu khusus, BakiKart. Kartu pembayaran elektronik ini bisa wisatawan peroleh di loket stasiun metro atau mesin BakiKart yang tersebar di beberapa tempat.

Kawasan Old City sendiri terbagi menjadi dua, yakni Inner City dan Outer City. Di Inner City, Anda bisa menyaksikan keelokan budaya abad pertengahan yang telah diakui UNESCO dengan mengunjungi Maiden Tower dan Shirvanshah Palace. Sementara di Outer City, ada sederet pertokoan, restoran serta taman.

  • Maiden Tower

Maiden Tower, atau dalam bahasa Azeri disebut Gis Galasi, menjadi salah satu destinasi wisata andalan Baku. Menara ini dibangun dari campuran batu karang dan batu kapur, dan memiliki ketebalan dinding mencapai lima meter.

Menara setinggi 29,5 meter dan berdiameter 16,5 meter ini terbagi ke dalam delapan tingkatan. Masing-masing tingkatan dihubungkan dengan susunan bebatuan yang mengelilingi pinggiran dalam bangunan dan menjulang ke atas selayaknya anak tangga.

Menara ini konon menyimpan banyak cerita yang terkait dengan nama Maiden. Menurut salah satu legenda, nama Maiden diambil dari kisah anak perempuan shah (raja) yang bunuh diri karena ingin dinikahi oleh sang ayah.

Kisah ini sendiri memiliki beragam versi dan tak satupun yang mempunyai bukti asli akan cerita tersebut. Namun menurut peneliti, fakta tentang ayah yang menikahi anak perempuannya tercatat sebagai bukti karakteristik pra-Islam untuk melanggengkan kerajaan.

Sementara di sisi lain, beberapa meyakini nama Maiden diambil berdasarkan fakta bahwa menara ini tak pernah diambil secara paksa sehingga diartikan sebagai ‘perawan’.

Jika wisatawan ingin melihat keseluruhan kota Baku, bisa menaiki Maiden Tower hingga lantai teratas. Biaya masuk ke menara ini hanya sebesar 8 manat atau sekitar Rp64 ribu.



3. Shirvanshah Palace

Kompleks Shirvanshah Palace menjadi mutiara dari warisan arsitektur Azerbaijan. Bangunan istana, balai pertemuan, masjid, tempat pemandian hingga makam anggota kerajaan menjadi bukti peradaban Islam di kawasan semenanjung Absheron, Kaukasus dan tepi barat Laut Kaspia pada abad pertengahan.

Menurut sejarah, kompleks ini merupakan pusat kerajaan Islam Shirvani yang sebelumnya terletak di Shamakhi. Pada masa pemerintahan Ibrahim I, pusat kerajaan dipindah ke Baku akibat gempa bumi yang melanda.

Kerajaan Shirvani sendiri diketahui menganut ajaran sufi. Tak heran jika di dalam kompleks ini juga terdapat makam Seyid Yahya Bakuvi, seorang ilmuwan dan filsuf abad pertengahan yang dikenal sebagai pendakwah sufi.

Untuk bisa mengelilingi kompleks ini, wisatawan harus membeli tiket seharga 4 manat atau sekitar Rp32 ribu.

Sumber: CNN Travel

Redaksi

Terkait

Leave a Reply