Tiga Muslim AS Gugat Tuduhan Penargetan Muslim di Perbatasan

 Tiga Muslim AS Gugat Tuduhan Penargetan Muslim di Perbatasan

Tiga Muslim AS Gugat Tuduhan Penargetan Muslim di Perbatasan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, AS – Tiga Muslim Amerika telah menggugat otoritas imigrasi federal. Ketiganya mendapat tuduhan menjadikan sasaran, hingga menahan, dan menginterogasi tentang agama setiap kali mereka kembali ke AS.

Ketiga warga AS itu mendapat tuduhan akan melakukan pemeriksaan sekunder oleh saat bertugas perbatasan. Di mana mereka yang melintas isunya akan ditanyai pertanyaan “apakah mereka Muslim, Sunni atau Syiah”, masjid mana yang mereka hadiri, dan seberapa sering mereka salat.

Gugatan itu mengklaim perlakuan mereka sama dengan diskriminasi agama di bawah Konstitusi. Hal ini tentu melanggar hak Amandemen Pertama untuk kebebasan beragama karena, agama lain tidak sama.

Gugatan itu juga meminta badan Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai AS (CBP) untuk menghapus catatan tiga Muslim tersebut. Sebab, menurut ACLU catatan akan disimpan dalam database hingga 75 tahun dan dapat diakses oleh lembaga penegak hukum AS.

“Sama seperti petugas perbatasan yang tidak boleh memilih orang Kristen Amerika untuk menanyakan denominasi apa mereka, gereja mana yang mereka hadiri, dan seberapa sering mereka berdoa. Memilih Muslim Amerika untuk pertanyaan serupa adalah inkonstitusional. Penggugat berhak atas keanggotaan penuh dan setara dalam masyarakat Amerika,” kata gugatan itu.

“Dengan menargetkan penggugat untuk pertanyaan agama hanya karena mereka Muslim. Petugas perbatasan Tergugat menstigmatisasi mereka karena menganut agama tertentu dan mengutuk agama mereka sebagai subjek kecurigaan dan ketidakpercayaan.”

Kecemasan Muslim AS

Salah satu penggugat, Abdirahman Aden Kariye, yang adalah seorang imam di sebuah masjid di Bloomington, Minnesota. Ia mengatakan bahwa setiap kali melakukan perjalanan pulang ke Amerika Serikat, dirinya cemas.

“Saya terus-menerus khawatir tentang bagaimana saya akan dianggap.”

Selama kejadian di mana Kariye dihentikan dan ditahan, dia mengatakan dia ditanyai oleh petugas ketertiban termasuk apakah dia Salafi atau Sufi. Di mana dia belajar Islam, dan apa pandangannya tentang ulama Islam abad ke-13 Ibn Taymiyyah.

Akibatnya, Kariye mengatakan bahwa dia sekarang tidak lagi mengenakan topi salat ke bandara.

Gugatan yang diajukan oleh American Civil Liberties Union (ACLU) di pengadilan distrik di Los Angeles, mengatakan Kariye juga telah dimasukkan ke dalam daftar pengawasan pemerintah AS.

 

 

Source: Middle East Eye/IQNA

Redaksi

Terkait

Leave a Reply