Lebanon, Tidak Memiliki Dokumen Identitas, Tidak Bisa Tes Virus Corona

 Lebanon, Tidak Memiliki Dokumen Identitas, Tidak Bisa Tes Virus Corona

HIDAYATUNA.COM – Rumah sakit di garis depan dari wabah virus corona di Lebanon telah menolak orang-orang yang tidak memiliki dokumen identitas, atau menetapkan biaya yang sangat tinggi untuk melakukan tes tersebut, membuat mereka yang tidak memiliki dokumen itu merasa takut akan kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Al Jazeera berbicara dengan dua mantan pekerja rumah tangga asal Ethiopia yang ingin menjalani tes di Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri (RHUH) Beirut, pusat dari pengetesan dan perawatan pasien COVID-19 di negara itu.

Keduanya mengatakan bahwa mereka ditolak karena tidak memiliki dokumen identitas.

Perlu diketahui, banyak pekerja rumah tangga migran yang tinggal di Lebanon dibiarkan tanpa memiliki dokumen identitas ketika mereka memilih melarikan diri dari majikannya yang kejam, karena salah satu praktik para majikan saat menerima pekerja rumah tangganya dapat meliputi menyita paspor dan identitas diri.

Ketika dimintai komentar, seorang sumber di RHUH, Beirut, Lebanon, yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitifitas masalah tersebut, mengkonfirmasi bahwa kebijakan rumah sakit adalah menolak tes virus corona pada mereka yang tidak memiliki dokumen identitas selama mereka tidak membutuhkan perawatan darurat.

“Kami harus memberikan nama orang yang kami uji kepada negara, sehingga jika hasilnya positif kami dapat memberi tahu negara dan orang tersebut. Kami tidak dapat melakukan (tes) itu tanpa nama,” kata sumber itu, seraya menambahkan bahwa mereka tidak dapat hanya mengandalkan informasi kontak saja.

“Untuk jelasnya, siapapun yang datang kepada kami dalam kondisi darurat dan membutuhkan perawatan akan (langsung) diberikan perawatan, tetapi jika mereka bukan termasuk kasus darurat kami tidak bisa,” tambahnya.

Sementara itu, seorang pegawai di bangsal virus corona di Rumah Sakit St George di Beirut, salah satu rumah sakit terbesar di ibukota, mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki dokumen identitas harus membayar untuk ikut menjalani tes virus corona, dengan biaya 750.000 pound Lebanon (sekitar $498).

Itu adalah biaya yang sangat tinggi bagi orang-orang yang berjuang setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti makanan dan uang sewa tempat tinggal.

Pegawai tersebut lanjut menjelaskan tahap-tahap dari tes tersebut, pasien pertama-tama diberikan scan darah dan paru-paru, kemudian pemindaian lainnya yang lebih seksama, dan hanya kemudian, jika semua indikator mengarah ke virus corona, barulah tes COVID-19 dilakukan.

Tes itu sendiri sebenarnya telah tersedia di beberapa klinik swasta dengan biaya sekitar 150.000 pound Lebanon (sekitar $99).

Menurut data statistik pemerintah, sampai saat ini Lebanon telah mencatat 446 kasus COVID-19, dengan 11 kematian, dan 32 yang telah pulih. Pada laju penyebarannya, jumlah kasus di Lebanon terus menjadi dua kali lipat setiap lima hingga enam hari. (Aljazeera.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply