Cerpen The Omar ( Part 1)

 Cerpen The Omar ( Part 1)

HIDAYATUNA.COM – Omar kecil tinggal di sebuah kota Tangerang, di perbatasan dengan Jakarta, orang Betawi asli dan lingkungan yang ia tempati hanya satu kilo dari Jakarta, di pemukiman ini ia tinggal dengan ibunya dan dua adik-adik perempuannya. Lingkungan tempat ia tinggal agak kumuh, kalau hujan banjir dan banyak tetangganya yang terkena kasus sepert nark*ba dan judi, tetangga dan temannya sudah banyak yang tertangkap dan ada temannya yang meninggal karena narkoba. Lingkungan yang ia tempati terkenal sebagai daerah narkoba dan judi togel, polisipun sering merazia di daerah itu.

Sebenarnya mereka hidup dengan baik-baik saja, hingga bapaknya menikah lagi dengan tetangganya, setelah itu hari menjadi sulit bagi Omar dengan dua adiknya. Ibunya terserang stroke ringan yang membuatnya menjadi sulit bekerja, utungnya ia kerja sebagai pegawai negri yaitu sebagai guru SD, dengan jam kerja yang sudah panjang, Alhamdullillah ia mendapat banyak kemudahan dalam kerjanya. Tapi tidak bagi Omar dengan dua adik-adiknya, Omar kecil dan dua adik-adik perempunnya masih harus berjuang untuk menghidupi sekolahnya. Duit yang diterima ibunya hanya cukup untuk makan, minum dan biaya perharinya belum termasuk obat-obat sakit ibunya, sedangkan dari bapaknya hanya cukup buat uang jajan. Sebagian dari saudaranya memberikan razekinya semampunya untuk sekolah ia dan adik-adiknya.

Padi suatu hari, setelah pulang dari sekolah, Omar ingin bertemu dengan ibu Susi pemilik Yayasan sosial media kemanusian, dia memang terkenal sebagai orang kaya bukan saja di daerah itu tapi di Indonesia, Omar ingin berkerja apa saja untuk membantu keluargaanya. Beberapa kali Omar menunggui ibu Susi di depan rumahnya, susah sekali bertemu dia hingga satpam di rumahnya menegur Omar.

Hari itu seperti biasa ia menunggu ibu Susi didepan Yayasannya yang memang saling berhadapan dengan rumahnya, alhamdullillah terlihat sebuah mobil mercy menuju ke rumah ibu Susi, terlihat wanita setengah baya keluar dari mobil, dengan sigap Omarpun lansung mendekati, ia sempat dihadang satpam dan supir, tapi ibu Susi menolongnya, setelah diterima di teras rumahnya, ibu Susi bertanya,

“anak ini siapa namanya? dan tinggal dimana?”, terdengar halus suara ibu Susi, katanya ibu Susi masih kerabat keraton di Yogyakarta, seorang bangsawan Jawa.

“nama Saya Muhammad Omar bu, Saya orang asli Betawi dan tinggal di Cipadu, Saya mohon maaf atas kesalahan Saya”,

“tidak apa-apa, ada yang bisa ibu bantu?”

“Saya ingin bekerja dengan ibu, apa saja”,

Ibu Susi tersenyum, “kamu sekarang kelas berapa?”, terlihat oleh ibu Susi Omar masih mengenakan seragamnya.

Dengan mantapnya Omar menjawab, “Saya sudah kelas enam SD bu”,

Ibu Susi tersenyun lagi, “kamu tidak belajar atau main dengan teman-teman kamu”,

“kalau belajar bisa malam, kalau main Saya tidak perlu bu”

Ibu Susi agak tertarik berbicara dengan Omar, penuh percaya diri,

“kalau kamu kerja lalu dimana orangtua kamu?”, ibu Susi hanya ingin bicara saja, ia tidak mungkin memperkerjakan anak dibawah umur, dia tahu itu.

“ibu Saya sering sakit-sakitan sedangkan bapak Saya menikah lagi dan tidak mampu mensekolahkan Saya dan adik-adik Saya, Saya hanya ingin membantu keluarga Saya bu”, terlihat air matanya Omar berlinang.

Ibu Susi terkejut mendengar cerita itu, anak sekecil ini bisa berbicara dan berkeyakinan seperti itu, sementara satpam di tempat tinggal ibu Susi menceritakan, bahwa anak ini sudah berkali-kali ingin bertemu ibu Susi.

Dengan menghela napas panjang ibu Susi sambil mengelus kepala Omar, dengan tenang ia mengatakan,

“coba nanti ibu atau bapak kamu bertemu dengan ibu disini, ibu usahakan untuk memberikan beasiswa kepada kamu dan adik-adik kamu”, anak kecil seperti dia tidak mungkin berbohong, ibu Susi cuman ingin tahu masalah yang sebenarnya terjadi,

Tapi jawaban Omar benar-benar diluar perkiraan ibu Susi, “Saya hanya ingin berkerja bu, Saya hanya ingin membantu keluarga Saya”, dia pikir beasiswa hanya untuk dia dan adik-adik lalu untuk biaya obat-obat ibunya, uang jajanya bagaimana?.

Ibu Susi dengan tenang berkata, “kamu sudah membantu keluarga kamu, coba ibu bertemu dengan keluarga kamu dulu”

Dan dengan penuh pengertian yang diberikan ibu Susi, Omarpun kembali ke rumahnya dengan berita yang Ibu Susi sampaikan kepadanya.

Sesampainya Omarpun langsung memberitahukan kepada ibunya,

“alhamdullillah, ada yang bisa membantu kamu dan adik-adik kamu”

“iya bu, tapi Saya masih ingin berkerja bu, bukan beasiswa saja”

“kamu harus tetap bersyukur, ibu Susi orang pinter tahu apa yang harus dikerjakan, tapi berani juga kamu menemui ibu Susi pantes kamu beberapa hari ini pulang sore”

“dia mau bertemu ibu dan bapak ingin membicarakan semuanya”

“kapan dia punya waktu?”

“minggu sore, bagaimana bapak, bu?”

“coba kamu temuin bapak, ceritakan semuanya”

“Saya malas bu”

“kamu jangan begitu, biar bagaimanapun ia bapak kamu”

“iya bu”,

Sorenya Omar kerumah Bapaknya, bapaknya mengkontrakan rumah untuk istrinya yang baru, dia diberitahu oleh ibu tirinya bahwa Bapaknya sedang tidak ada, sedang ada “proyek tanah”, tidak tahu benar atau tidak.

Minggu sorepun tiba, pergilah Omar, ibunya dan pamannya adik ibunya ke rumah ibu Susi. Pamannya sengaja diajak untuk membimbing ibunya Omar karena bapaknya sudah tiga hari tidak pulang ke rumahnya. Jarak rumah ibu Susi cukup dekat hanya beda kelurahaan, mereka menaiki motor bertiga.

Di rumah ibu Susi, mereka diterirma di ruang tamu, ruangnya besar sekali banyak lukisan-lukisan besar dan patung bermacam bentuk. Ibu Susi melihat ibu Omar terlihat haru, setelah bersalam-salam, mereka kemudian berbicara,

“Saya meminta maaf, Saya yang telah menyuruh Omar untuk datang ke rumah Saya dengan ibu dan bapaknya, Saya tidak tahu kalau ibu sedang sakit”,

“kami yang meminta maaf bu, gara-gara Omar ibu Susi jadi susah”,

“ini bapak Omar?”, Tanya ibu Susi melihat laki-laki di sebelahnya Omar.

“ini pamanya Omar bu, bapak Omar sedang tidak bisa”,

Tahu-tahu Omar nyletuk, “pergi sama istri mudanya”,

“jangan begitu Omar, nggak enak dengan ibu Susi”,

Ibu Omar langsung bicara tentang banyak hal, ibu Susi yang mendengarkan terlihat terhenyak mendengar kisah hidup Omar dan keluarganya.

“Saya tidak tahu harus berbuat apa, setelah mendengar cerita ibu Omar, Saya akan usahakan selain Omar dan adik-adiknya mendapat beasiswa dan ibu juga mendapat perawatan yang baik”,

“Saya sudah baik-baik saja bu, yang penting anak-anak Saya sekolahnya bisa selesai dengan baik”, ibu Susi semakin terharu.

Tiba tiba Omar berteriak,

“Saya ingin berkerja bu!”, bicarannya ditunjukan ke ibu Susi.

“jangan nakal Omar, Saya mohon maaf bu Susi, anak ini memang sifatnya agak keras”, ibunya sedikit berbicara tegas.

“tidak apa-apa bu, memangnya Omar mau kerja apaan”, Tanya ibu Susi, usahanya untuk meredahkan keinginan Omar.

“apa saja, yang penting Saya dapat duit untuk membantu ibu dan adik-adik Saya bu”,

Sebenarnya terlihat baik keinginan Omar, tapi sekarang ini memperkerjakan anak-anak bisa terkena pidana. Namun akhirnya dengan niat yang baik dan izin keluarga Omar, dia akan tinggal di rumah ibu Susi, dia akan sering membantu kerjaan ibu Susi seperti mengambil tas, memcopy laporan dan sebagainya kebetulan anak-anak ibu Susi sedang kuliah di luar negeri, tinggal ibu Susi dengan suaminya, sedangkan bapaknya Omar akan diberitahukan setelah dia pulang.

Waktu berlalu, sekarang Omar sudah besar, sudah baru lulus SMK, sedangkan ibu Susi mengingkan ia agar kuliah bahkan kalau perlu keluar negeri sama dengan anak-anak dia, ibu Susi berkeinginan seperti itu karena ia melihat Omar rajin membantunya dari pagi setelah sholat shubuh, mencuci, mengepal, lalu sekolah sepulang dari sekolah langsung membantu kerjaan ibu Susi, dia lakukan terus sampai tidak terasa sudah ia lulus SMK, Omarpun terlihat cukup pandai di kelasnya, selalu mendapat ranking di kelasnya. Itu yang membuat ibu Susi menyuruh dia kuliah di luar negeri. Tapi dengan penuh kesadaran Omar merasa ada ibu dan adik-adiknya yang masih butuh kehadirannya.

Hal itu dia katakan di depan ibu Susi, suaminya dan kakak-kakaknya, anak ibu Susi. Akhirnya ibu Susi tidak berbuat banyak dan akhirnya memasukkan ia ke Universitas di dekat daerahnya. Ia meminta agar masuk di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur, selain sesuai dengan sekolahnya waktu dia SMK, dia juga memedam keinginan untuk menjadi seorang arsitek.

Di dalam kampus Omar bukan mahasiswa yang aktif dalam organisasi di kampusnya atau bergaul dengan sesama temannya, sedikit sekali temannya di kampus. Sama sewaktu ia sekolah dulu, selesai kuliah ia langsung pulang, langsung kerja, bedanya ia sekarang kerja di salah satu perusahaan besar ibu Susi yang sekarang dipimpin oleh salah satu anaknya. Perusahaan itu bergerak di bidang kontraktor pembangunan mall dan apartment, sesuai dengan bidang kuliah Omar.

Pagi itu, sebelum kuliah Omar dipanggil ibu Susi dan kakaknya di ruang keluarga,

“Saya ada proyek mall di Bandung, coba lihat-lihat daerah disana, kamu sekalian design mall dan perkiraan biayanya”, kakaknya memberikan pengarahan.

Dalam hati Omar berkata, “waduh ini proyek besar, tidak main-main, pertanyaannya apa Saya sanggup?”,

“Saya tidak berani mas”,

“kamu cuman melihat dulu, kalau jadi, insya Allah kamu akan dibantu oleh staf yang lain”, ibu Susi memberikan semangat namun masih dengan sifat ketenangan seperti seorang bangsawan Jawa. Ia memang sering mendapat nasehat-nasehat dari ibu Susi.

“kamu lihat dulu, Saya dengar dari staf di lapangan kamu hebat kalau design bangunan, katanya kamu punya bakat arsitek, kalau kamu mau kamu bisa usaha sendiri di bidang arsitektur, nanti insya Allah kita akan bantu”, kakaknya juga memberi semangat.

“tidak gampang punya bakat arsitek, keahlian kamu asah waktu di SMK yah”, ibu Susi menambahkan

“iya bu, Saya memang suka menggambar sejak Saya kecil bu”, diberi amanah sebesar ini, bukan saja masalah kepercayaan, tapi keyakinan bahwa mereka yakin kalau Saya bisa melakukan dengan benar, ditambah keinginan baru dia untuk membuat usaha sendiri berdasarkan keahlian sendiri, tapi harus dibuktikan dulu terutama kepada kakaknya dan ibu Susi.

“Saya usahakan mas, tapi Saya minta bimbingan dari mas, ibu Susi dan staf senior di lapangan”,

“pasti, selamat berusaha”

Dalam perjalanannya ke Bandung, ia berpikir kenapa baru sekarang terpikir untuk membuat suatu usaha, ada ibu Susi dan anak-anaknya yang mendukung, ia punya keahlian yang sudah diakui dan yang terpenting dia masih bisa menjaga ibu dan adik-adiknya setelah bapaknya meninggal tidak lama setelah ia tinggal di rumah ibu Susi. Tidak mungkin berharap terus dengan keluarga ibu Susi, mereka sudah terlalu banyak berjasa kepada keluarganya, di dalam batinnya mengatakan dia harus bisa demi ibu dan adik-adiknya. Diapun akan mulai merancang jenis usahanya setelah pulang dari Bandung.

Source :  Firdaus dari Cerpenmu.com

Redaksi

Terkait

Leave a Reply