Syaikhona Kholil Bangkalan, Haji dari Hasil Memanen Kelapa Saat Nyantri Di Banyuwangi

 Syaikhona Kholil Bangkalan, Haji dari Hasil Memanen Kelapa Saat Nyantri Di Banyuwangi

HIDAYATUYNA.COM – KH. Muhammad Kholil (1820 – 1924) atau lebih dikenal dengan sebutan Syaikhona Kholil Bangkalan merupakan ulama besar yang menjadi simpul kiai-kiai pendiri pesantren besar di Nusantara ini.

Sebut saja, Hadratussyekh KH. Hasyim Asyari Jombang, KH. Makrus Ali Lirboyo, KH. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, KH. Maksum Ali Lasem, KH. Bisri Mustofa Rembang dan ratusan kiai lain adalah sederet nama yang pernah menangguk ilmu dari Kiai Kholil Bangkalan.

Selain kealiman, kewaskitaan, dan segala keampuhannya, Kiai Kholil semakin melegenda tatkala dikaitkan dengan ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Ialah yang memberikan “persetujuan” kepada KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan NU.

Atas perananan itulah, Kiai Kholil ditasbihkan sebagai sosok teramat penting dalam kosmos Islam di Nusantara. Tentu saja, sosok Kiai Kholil yang melegenda namanya hingga kini tersebut, tak terlepas dari sosok para guru yang telah mengajarkannya. Termasuk, Kiai Basyar sendiri.

Sebenarnya, sebelum nyantri kepada Kiai Basyar di Banyuwangi, Kholil muda telah melanglang ke beberapa pesantren untuk menuntut ilmu agama. Seperti halnya belajar KH. Muhammad Noer di Pesantren Langitan Tuban, KH. Asyik di Pesantren Cangaan, Bangil, Kiai Arif di Pesantren Darussalam Pasuruan, dan Pesantren Sidogiri yang juga ada di Pasuruan. Akan tetapi, saat-saat di Banyuwangilah yang menjadi momentum penting bagi karir pendidikan Kiai Kholil.

Pesantren Jalen

Pesantren Jalen Banyuwangi asuhan Kiai Basyar ini, menjadi titik penting sebelum Kiai Kholil bertolak ke Mekkah untuk kembali menuntut ilmu. Disinilah, ia tidak hanya menyiapkan bekal ilmu dan mental, tapi juga mengumpulkan bekal materi untuk berangkat ke tanah suci.

Pada pertengahan abad 19, sebagaimana kita ketahui, melakukan perjalanan ke tanah suci Mekkah bukanlah perkara mudah. Perlu waktu yang panjang untuk berlayar kesana. Sehingga, otomatis, bekal yang diperlukan pun berlipat ganda.

Menurut Henri Chambert-Loir dalam buku Naik Haji di Masa Silam, disebutkan banyak orang-orang yg melakukan perjalanan tanah suci, harus terlantar terlebih dahulu karena kehabisan bekal. Dengan demikian, menjadi persoalan penting untuk menyiapkan bekal yang cukup sebelum ke Mekkah

Kiai Kholil menghabiskan waktu selama tiga tahun belajar kepada Kiai Basyar. Di Jalen ini, Kiai Kholil tak hanya menjadi santri, tapi juga menjadi abdi Kiai Basyar. Ia menjadi salah seorang buruh petik buah kelapa di kebun pengasuhnya tersebut.

Banyuwangi memang dikenal sebagai salah satu penghasil buah kelapa di Jawa. Pada saat itu, industri berbahan dasar kelapa berkembang pesat. Seperti halnya kopra dan minyak kelapa. Kiai Kholil sendiri mendapatkan upah 3 sen tiap pohonnya.

Hasil upah tersebut, tak pernah diambil oleh Kiai Kholil. Ia kumpulkan digurunya tersebut. Setelah dinilai cukup, baik keilmuwan, mentalitas, maupun bekalnya, Kiai Basyar menyuruh Kiai Kholil untuk menunaikan ibadah haji dan kembali menuntut ilmu di sana.

Hasil tabungan Kiai Kholil selama tiga tahun dari upah memanen kelapa itu, diserahkan Kiai Basyar dalam sebuah kotak besar. Atas bekal dan restu gurunya itulah, pada 1859, Kiai Kholil berangkat ke Mekkah. Disanalah, ia mencapai puncak keilmuannya. Hingga Ia menjadi ulama tersohor

Waba’du, 29 Ramadan ini merupakan haul dari Kiai Kholil. Mari kita kirimkan bacaan Suratul Fatihah bagi gurunda ulama Nusantara tersebut.

Source: Komunitas Pegon

Redaksi

Terkait

Leave a Reply