Syafiq Mughni Hadiri Dialog Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban

 Syafiq Mughni Hadiri Dialog Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Dialog Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP), President mengutus Syafiq Mughni menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) di Jakarta selama tiga hari sejak Rabu 11 Agustus hingga Sabtu 14 Agustus untuk membangun budaya perdamaian. Pada kesempatan kali itu ia mengatakan bahwa perdamaian adalah syarat mutlak bagi stabilitas dan pembangunan yang berkelanjutan.

“Perdamaian selalu dibutuhkan di mana dan kapan saja, dan karena itulah harus merupakan perdamaian yang berkelanjutan bukan yang sporadis dan berjangka pendek,” katanya, di Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Masyarakat Indonesia memiliki potensi, baginya, yang sangat besar dalam membangun budaya perdamaian. Sebab, masyarakat Indonesia memiliki sikap yang ramah terhadap orang lain, sebuah bekal yang patut disyukuri. Dalam munas ini nantinya akan diikuti oleh sedikitnya 250 orang atau tokoh-tokoh yang berasal dari berbagai agama dan peninjau dari penghayat keagamaan, khususnya agama-agama yang diakui di Indonesia.

“Saya yakin masyarakat kita memiliki banyak potensi membangun budaya damai. Meski 250 orang tidak bisa mewakili seluruh masyarakat Indonesia, tetapi paling tidak, sudah ada keinginan untuk membangun perdamaian secara bersama,” ujar Syafiq Mughni.

Sejumlah diskusi sudah digelar, seperti mempelajari timbulnya konflik negara-negara seperti Afghanistan dan Filipina Selatan. Juga belajar dari konflik tahun-tahun lalu seperti di Maluku dan sebagainya.

“Dengan belajar dari bagaimana konflik itu muncul, kita ingin mendiskusikannya supaya hal-hal semacam itu tidak terjadi di Indonesia. Selain belajar dari hal itu, kita juga ingin membangun budaya perdamaian di semua lini kehidupan,” paparnya.

Ia juga mengkaitkan masalah Papua, yang lebih memfokuskan pada pembangunan budaya perdamaian dan aplikasinya. Sementara, masalah Papua dan masalah-masalah lainnya hanya bagian dari pembahasan, sehingga tidak terlalu banyak isu yang dibahas.

“Kita tidak akan membahas secara spesifik masalah Papua, tetapi kita akan membahas misalnya seperti bagaimana membangun perdamaian antarbudaya, suku, ras dan agama sehingga ini yang nantinya menjadi pengikat perdamaian,” tutupnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply