Siapa yang Mengurutkan Penomoran Ayat dan Juz Al-Quran ?

 Siapa yang Mengurutkan Penomoran Ayat dan Juz Al-Quran ?

Mungkin sampai saat ini kita masih bertanya-tanya bagaimana dan siapa yang mengurutkan penomoran ayat dan juz Al-Quran?

HIDAYATUNA.COM – Mungkin sampai saat ini kita masih bertanya-tanya bagaimana dan siapa yang mengurutkan ayat, surah, penomoran dan pembagian juz-juz Al-Quran. Kita semua tahu bawah surah al-‘Alaq adalah ayat yang pertama turun, lalu kenapa justru surah al-Fatihah yang diletakkan dalam urutan pertama ?

Kita juga tahu bahwa tidak semua ayat dalam satu surah turun sekaligus, apakah ketika itu sudah dijelaskan bahwa Yasin misalnya adalah satu ayat ? lalu siapa yang membagi Al-Quran dalam 30 Juz ? mengapa ada sebagian ayat dalam satu surah masuk dalam satu juz dan sebagian ayat lainnya masuk dalam juz lain ? semua pertanyaan ini Insyaallah akan kita bahas singkat dalam tulisan ini.

Penjelasannya adalah bahwa memang lima ayat pertama surah al-Alaq merupakan yang pertama kali turun, selanjutnya turun beberapa ayat surah al-Muddatstsir dan demikian seterusnya. Namun penyusunan perurutan surah-surah al-Quran dalam mushaf tidaklah sesuai dengan perurutan turunnya.

Perurutan surah-surah al-Quran seperti penempatan surah al-Fatihah lalu surah al-Baqarah dan seterusnya adalah berdasarkan petunjuk dari Allah SWT yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Demikian pendapat mayoritas Ulama.

Ada juga yang berpendapat bahwa perurutan surah-surah itu pada umumnya berdasarkan petunjuk nabi, kecuali surah Bara’ah atau at-Taubah (QS. 9) yang tidak memakai Basmalah diawalnya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa perurutan surah-surah itu adalah hasil pemikiran atau ijtihad tim penulis mushaf di masa pemerintahan Utsman Bin ‘Affan, namun pendapat terakhir ini mengandung banyak kelemahan.

Karenanya susunan ayat-ayat al-Quran seperti yang terbaca saat ini menurut kesepakatan para ulama adalah berdasarkan petunjuk Allah SWT yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW, artinya setiap kali datang membawa wahyu Malaikat Jibril sekaligus menyampaikan bahwa ayat dibacakannya adalah lanjutan ayat A atau B dan lain-lain, atau ia adalah awal dari satu surah (kumpulan ayat) yang akan turun. Itulah sebabnya hubungan antar ayat dan surah al-Quran sangat serasi.

Sepanjang penulis ketahui, Malaikat Jibril tidak menjelaskan bahwa ini adalah awal ayat dan akhirnya. Ia hanya membaca dan Rasulullah SAW pun hanya membaca tanpa menjelaskan awal dan akhirnya. Namun demikian, sebagian besar dapat diketahui awal dan akhirnya dengan memperhatikan redaksi ayat-ayat atau setelah mengetahui tempat Rasulullah SAW memulai dan berhenti.

Karena tidak adanya keterangan pasti dari Rasulullah SAW tentang tempat-tempat memulai dan berhenti itu maka meski disepakati tentang kata dan kalimat al-Quran dan tidak ada perbedaan menyangkut teksnya, toh jumlah ayat-ayatnya diperselisihkan.

Demikian juga, tidak ada perbedaan ihwal jumlah ayat surah al-Fatihah yakni tujuh ayat. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang mana ayat pertama dan dari mana bermula ayat ketujuh. Ada yang mengatakan bahwa Basmalah adalah ayat pertama, ada juga yang mengatakan bahwa ayat pertama adalah kalimat Alhamdulillahi Rabbil ‘Alaamin.

Sumber : Prof. Dr. Quraish Shihab

Redaksi

Terkait

Leave a Reply