Setetes Embun Cinta Niyala (Part 2)

 Setetes Embun Cinta Niyala (Part 2)

SETETES EMBUN CINTA NIYALA (PART 2)

HIDAYATUNA.COM – Namun memenuhi isi surat itu dan menerima menjadi istri Roger tak ada bedanya dengan hidup terhina dan sengsara selamanya.

Tak ada bedanya dengan melacurkan diri. Menggadaikan jiwa raga untuk menebus materi delapan puluh juta demi kemerdekaan ayah. Oh alangkah nistanya! Ia merasa lebih pelacur dari pelacur. Lebih terhina dari perempuan yang diperkosa seribu durjana. Bisa jadi niatnya suci, menikah dengan terpaksa. Tapi nuraninya terdalam mengingkari itu bukanlah pernikahan tapi pelacuran. Bukankah imbalan pernikahan itu adalah lunasnya hutang delapan puluh juta rupiah. ”Oh celakalah diriku, aku akan melacurkan diriku dengan kedok pernikahan!” Ia meratap sedih. Ia belum bisa mengakui itu pernikahan, sebab tak ada nurani cinta dan keikhlasan yang mengiringinya. Bukankah pernikahan adalah ibadah? Dan bukankah ibadah harus disertai kecintaan dan keikhlasan agar diterima. Rasanya ia mau membenci ayahnya. “Ini semua gara-gara ayah!” Serapahnya.

Namun buru-buru nuraninya mengingatkan bahwa ayahnya lebih menderita dari dirinya. Ayahnya rela menggadaikan kemerdekaannya demi ketulusan cinta pada almarhumah ibunya. Kalau bukan karena kekuatan cinta mustahil ayahnya mengorbankan semua yang dimilikinya, termasuk kemerdekaannya. Bukankah semua yang berhutang pada dasarnya menggadaikan

kemerdekaannya? Tiba-tiba wajah ayahnya yang tirus, tua, tulang menonjol dan mata berkacakaca hadir dalam batinnya. Tidak ayah, ayah tidak bersalah! Tegasnya dalam hati.  Lalu siapa yang bertanggungjawab atas nestapa yang sedang mengintainya bagaikan seekor serigala buas ini? Oh, andai saja nama itu bukan Cosmas dan Roger, tentu ia tidak akan terpuruk membenci keadaan seperti ini. Cosmas! Siapa yang tidak kenal nama itu. Sintua yang kini masuk islam. Ya, hampir semua orang di desanya bergembira karena Sintua kaya itu masuk Islam, dan setahun kemudian langsung naik haji. Tapi dirinya tidak. Biasa saja.

Ia hanya merasa cukup mengucapkan hamdalah mendengar ayah Roger itu ber-syahadat. Meski ia tidak tahu persis motif keislamannya. Namun yang jelas mantan Sintua itu masuk islam menjelang pemilihan kepala desa berlangsung. Dan ternyata, setelah itu ia terpilih menjadi kepala desa. Tapi ia merasa tidak perlu melihat apa motifnya. Yang penting masuk islam dan ia mengucapkan hamdalah. Itu saja. Titik. Dan tidak ada perasaan apapun dalam hatinya. Gembira atau tidak, sama. Biasa saja. Lalu Roger. Nama brengsek itu. Nama yang selalu menghidupkan bara kebencian dan kemarahan dalam hatinya. Bagaimana mungkin ia akan menyerahkan jiwa raganya pada manusia tengik itu, meskipun Roger katanya kini telah akrab dengan remaja mesjid di desa kelahirannya.

Apakah ia terlalu berlebihan membenci Roger, ia tidak tahu. Yang jelas apapun yang akan dilakukan Roger tidak akan mengubah pandangannya. Roger itu tengik, bajingan yang paling bajingan di dunia ini. Titik! Entah kalau Tuhan menurunkan mukjizat pada Roger sehingga bisa mengubah pandangan hatinya atas dirinya. Ia masih ingat, waktu kecil dulu, saat masih duduk di kelas empat SD, bagaimana Roger yang saat itu sudah kelas enam nyaris menggagahinya di kebun sekolah. Ia nyaris kehilangan kesuciannya. Untung ada penjaga sekolah yang menolong dan menyelamatannya. Dan kejahatan Roger itu tidak pernah ia lupakan seumur hidup. Kebenciannya pada Roger telah mendarah daging dan tak akan luntur meskipun Roger menjelma menjadi seorang nabi sekalipun.

 Itulah kebencian seorang perempuan pada lelaki yang telah mencoba berbuat kurang ajar dan merenggut kehormatannya.  Apalagi saat ia pulang ke Sidempuan dua tahun yang lalu, ia mendapatkan berita yang sangat menyakitkan. Ia berkunjung ke rumah sahabat karibnya, Hesti. Namun Hesti tidak ada. Yang ia jumpai justru kisah tragis yang menimpa Hesti.

Dari Bibi Hesti mengalirlah cerita yang membuat perih hatinya. Hesti kini menjual diri di Brastagi. Dan Rogerlah yang membuat Hesti melacur. Hesti dihamili Roger dengan iming-iming akan dinikahi dan dibuatkan rumah mewah. Ternyata Roger tak lain adalah serigala berkepala manusia, ia tidak mau bertanggungjawab setelah menodai Hesti. Keluarga Hesti tidak berani menggugat atas apa yang dilakukan roger. Mereka semua takut pada monster-monster yang berdiri di belakang bungsu Sintua itu. Untuk menutup aib, Hesti mengaborsi kandungannya.

Ia membawa lari lukanya ke Brastagi dan mengobati lukanya dengan melacuran diri.  Kalau memang Roger kini telah masuk Islam dan bertaubat, tentunya yang pertama kali harus ia lakukan adalah memperlihatkan tangungjawabnya dengan mengentaskan Hesti dari lembah hitam itu. Ia tidak bisa membayangkan pedihnya luka Hesti, teman sebangkunya di SD yang manis dan lugu itu.

 Jika ia pasrah mau menjadi istri Roger, apakah luka Hesti tidak akan semakin parah? Kepedihan hati Hesti mungkin bukan karena si bajingan itu berhasil memperistri perempuan berjilbab yang tak lain adalah teman setia Hesti sendiri. Tapi kepedihan Hesti mungkin lebih dikarenakan melihat betapa bodohnya seorang Niyala yang telah mengecap pendidikan tinggi di ibukota, bahkan tertinggi di kampungnya, sampai jatuh ke dalam pelukan makhluk tengik Roger. Dan yang menjadi ganjalan pedih dalam pikirannnya, apakah ayah dan kakaknya tidak tahu ini semua? Apakah mereka tidak tahu siapa Roger dan apa yang telah dilakukannya? Ia masih bingung mencari dalang penyebab datangnya nestapa yang siap menerkamnya itu.

 Tibatiba ia merasa dirinyalah penyebabnya. Ya, dirinyalah penyebabnya. Kenapa ia mesti terlahir sebagai perempuan? Perempuan yang sering harus pasrah pada nasib. Dan kenapa ia harus berwajah cantik menawan, sehingga banyak serigala mengincarnya, termasuk Roger. Pelan ia bangkit dan berdiri didepan cermin. Ia memandangi dirinya sendiri. Tiba-tiba bara amarahnya membucah dalam dada, “Tidak! Bajingan seperti Roger tidak berhak menyentuh Niyala!” Namun pada saat yang sama bayangan ayahnya hadir dengan wajah tirus dan mata berkaca seolah berkata, “Tolong, merdekakan ayah Nak! Dan bukankah menikahi Roger itu dakwah? Jangan berprasangka buruk atas motif keislaman Roger dan ayahnya. Dengan menikahi Roger mungkin kamu berpeluang untuk mengislamkan banyak orang. Mereka kaya raya dan terpandang. Kau bisa berdakwah dengan baik di tanah kelahiranmu.

Dan kau juga bisa membantu orang-orang kecil yang kesusahan.” Pikirannya beku. Bibirnya kelu. Ubun-ubunnya bagaikan ditancap paku. Namun tiba-tiba ia memberontak, “Bukankah dakwah adalah sumber cinta, Ayah!? Apakah menikah dengan selain Roger, menikah dengan lelaki yang lebih bersih dalam pandangannya, tidak juga dakwah!?” Di pelupuk matanya ayahnya menangis tersedu-sedu. Ia merasa sangat berdosa telah berani membantah ayahnya. Apalagi tiba-tiba tadzkirah (nasihat untuk diingat) Ustadz Hasbiyallah terngiang di telinganya, “Jalan dakwah tidak mudah dan mulus, jalan dakwah itu terjal penuh hambatan, penuh onak dan duri, badai sering datang menghadang. Berjalan di jalan dakwah memerlukan ketabahan dan pengorbanan yang besar!” Ia terus tergugu sendirian di kamar, perang batinnya terus berkecamuk sampai alunan azan subuh terdengar mendayu-dayu. 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply