Sejarah Hari Ini: Tokoh Muslim Afrika-Amerika Dibunuh, Tan Malaka Meninggal

 Sejarah Hari Ini: Tokoh Muslim Afrika-Amerika Dibunuh, Tan Malaka Meninggal

Perlu Diketahui Bahwa Sejarah Hari Ini Telah Terjadi Tokoh Muslim Afrika-Amerika Dibunuh, Tan Malaka Meninggal

HIDAYATUNA.COM – Membaca sejarah masa lalu, tidak hanya semata-mata untuk mengetahui peristiwa di masa lampau, lebih dari itu untuk konsumsi pengetahuan hari ini, dan inspirasi untuk masa-masa di masa mendatang. Ada banyak peristiwa di masa lalu yang penting untuk diketahui. Salah satunya peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal 21 Februari.

Redaksi hidayatuna.com, memilih dua peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 21 Februari. Pertama dibunuhnya Tokoh Muslim Afrika-Amerika yang dikenal dengan Malcolm X dibunuh oleh anggota Nation of Islam di New York. Kedua, ialah meninggalnya Tokoh Kiri Indonesia yakni Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka.

Malcolm X lahir dengan nama Malcolm Little dan dikenal sebagai El-Hajj Malik El-Shabazz (El-Hajj adalah nama gelar kehormatan yang diberikan setelah ia menunaikan ibadah haji ke Mekah) adalah seorang tokoh Muslim Afrika-Amerika dan aktivis hak asasi manusia. Tokoh Muslim yang meninggal karena dibunuh pada meninggal 21 Februari 1965 ini lahir pada lahir 19 Mei 1925.

Malcolm X dikenal sebagai sosok yang berani memperjuangkan hak-hak kulit hitam setidaknya bagi para pengagumnya. Sedang bagi para penentangnya menuduhnya mengajarkan rasialisme, supremasi kulit hitam, dan kekerasan. Kendati demikian, ia dikenang sebagai salah satu orang Afrika-Amerika terhebat dan paling berpengaruh dalam sejarah.

Nasib sama terjadi pada sang ayah. Ayah Malcolm X juga meninggal sebab dibunuh oleh para pendukung supremasi kulit putih ketika ia masih anak-anak, dan setidaknya salah satu dari pamannya tewas dalam kondisi lynching. Ketika ia berusia tiga belas tahun, ibunya dikirim di rumah sakit jiwa, dan dia ditempatkan di beberapa panti asuhan. Pada tahun 1946, pada usia 20, ia dijebloskan ke penjara karena membobol masuk sejumlah gedung dan mencuri.

Malcolm X menjadi anggota Nation of Islam saat ia mendekam dalam penjara dan setelah pembebasan bersyaratnya pada tahun 1952, ia dengan cepat naik menjadi salah satu pemimpin organisasi tersebut. Selama belasan tahun Malcolm X adalah cerminan dari kelompok yang kontroversial itu, namun kekecewaannya terhadap ketua Nation of Islam, Elijah Muhammad membuatnya meninggalkan organisasi tersebut pada Maret 1964.

Setelah perjalanannya mengunjungi negara-negara di Afrika dan Timur Tengah, ia kembali ke Amerika Serikat, di mana ia mendirikan Muslim Mosque, Inc. dan Organisasi Persatuan Afro-Amerika. Pada bulan Februari 1965, kurang dari setahun setelah meninggalkan Nation of Islam, dia dibunuh oleh tiga orang anggota kelompok tersebut.

Begini kronologi pembunuhan tersebut. Pada 21 Februari 1965, tulis The New York Times, saat Malcolm bersiap untuk berbicara pada sebuah acara Organisasi Persatuan Afro-Amerika di Audubon Ballroom, Manhattan, keributan pecah di antara 400 orang penonton, seseorang berteriak, “Negro! Keluarkan tanganmu dari sakuku!”. Saat Malcolm X dan pengawalnya berpindah tempat untuk menenangkan keributan, seorang pria yang duduk di barisan depan bergegas ke depan dan menembaknya sekali di dada dengan senapan sawed-off berlaras ganda. Dua orang lainnya naik ke panggung dan menembaki Malcolm menggunakan pistol semi-otomatis.

Malcolm X dinyatakan meninggal pada pukul 3:30 sore, tak lama setelah ia tiba di Columbia Presbyterian Hospital. Menurut laporan otopsi, tubuh Malcolm X memiliki 21 luka tembak di dadanya, bahu kiri, dan lengan dan kaki, sepuluh peluru tertanam di dada kirinya dan bahu dari ledakan senapan awal.

Satu penembak, anggota Nation of Islam, Talmadge Hayer (juga dikenal sebagai Thomas Hagan) ditangkap dan dipukuli oleh orang banyak sebelum polisi tiba beberapa menit kemudian, saksi mengidentifikasi orang lain seperti Norman 3X Butler dan Thomas 15X Johnson, juga merupakan anggota NOI. Hayer mengaku di pengadilan telah menjadi salah satu penembak, namun menolak untuk mengidentifikasi penyerang lain kecuali untuk menegaskan bahwa mereka bukanlah Butler dan Johnson. Ketiganya dihukum.

Pada tanggal 21 Februari bebera tahun sebelumnya, di Indonesia, seorang tokoh Kiri meninggal dunia. Ia adalah Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka. Ia menghembuskan nafas terakhir di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, pada 21 Februari 1949 di usia 51 tahun. Ia adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan tokoh Partai Komunis Indonesia. Tan Malaka juga dikenal dan dikenang sebagai pendiri Partai Murba dan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. (AS/Hidatatuna.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply