Hikmah Dibalik Ibadah Sa’i

 Hikmah Dibalik Ibadah Sa’i

Sa’i merupakan salah satu rukun haji dan umroh dengan berlari-lari kecil di antara Shafa dan Marwah. Sa’i sendir berarti berusaha mencari kehidupan yang dinisbatkan pada kisah hidup Siti Hajar dan Nabi Ismail semasa kecil. Kedudukan Sa’i menurut Allah SWT sebagai berikut:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah:158)

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah menyukai orang  yang menegrjakan kebaikan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh sebagaimana Sa’i. Kisah Sa’i bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim bersama keluarganya yaitu Siti Hajar dan Ismail untuk pergi dari Palestina menuju Mekkah. Padahal saat itu Mekah sangatlah gersang dan kering, sebagimana dikisahkan berikut:

و ليس بمكّة حينئذ شأن و لا معون و لا ذرع و لا إنس و لا جنّ

“Di  Mekkah pada saat itu, tidak ada apapun, tidak ada pertolongan, tanaman, manusia, bahkan jin sekali pun tidak ada”.

Sesampainay di Mekkah Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan istri dan anaknya yang waktu itu masih sangat kecil. Ketika itu Siti Hajar bingung dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Namun setelah tahu kalau yang dilakukan adalah perintah Allah, ia lega dan berucap Laa yudhoyyi’una Allah” Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.

Setelah beberapa waktu ditinggal oleh Nabi Ibrahim bekal kurma dan air habis. Sehingga tidak bisa menyusui Ismail. Kemudian Siti Hajar meletakkan Ismail diberusaha mencari sumber air sampai bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah tidak juga ditemukan sumber air. Sampai kemudian Allah menunjukkan pertolongan tepat di bawah kedua kaki Ismail muncul sumber air yang melimpah. Sumber air itu yang kita kenal dengan telaga Zam-zam. 

Dari kisah di atas ibadah Sa’i merupakan bentuk diabadikannya usaha pencarian air oleh Siti Hajar untuk dirinya dan anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa Sa’i inilah yang dikatakan sebagai haji, yaitu sebuah tekad untuk melakukan gerak abadi ke suatu arah yang tertentu. Sa’i adalah perjuangan fisik yang berarti mengerahkan tenaga di dalam pencarian (usaha) untuk menghilangkan lapar dan dahaga yang engkau tanggungkan beserta anak-anakmu.

Sa’i adalah gambaran hidup manusia di dunia dalam berusaha. Apa yang dilakukan Siti Hajar dalam mencari air untuk minum dirinya dan Ismail, benar-benar bersifat materiil, kebutuhan yang dimiliki manusia. 

Secara sederhana Sa’I memberikan kita makna tentang dua hal yaitu tawakkal dan ikhtiar. Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan karena merupakan merupakan satu-kesatuan yang saling berkaitan untuk tercapainya keseimbangan dalam perjalanan kehidupan kita untuk meraih kebahagian.Sa’I mengajarkan tentang makna perjuangan hidup pantang menyerah. Dalam hidup ini setiap orang harus siap berjuang keras dan pantang menyerah. Namun demikian, juga selalu disertai dengan tawakkal, kesabaran, keuletan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply