Sahur tapi Lupa Niat, Bagaimana Puasanya ?

 Sahur tapi Lupa Niat, Bagaimana Puasanya ?

HIDAYATUNA.COM – Seseorang yang sebelum subuh telah makan sahur dan pada siang harinya juga menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalakan puasa namun ia lupa tidak berniat puasa. Apakah makan sahur ini sudah bisa dianggap menggantikan niat puasa ?

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan bahwa makan sahur belum mencukupi sebagai pengganti niat berpuasa. Namun sahur juga dapat dianggap sebagai niat dengan syarat ketika makan sahur di dalam hatinya terbesit keinginan bahwa makan sahur tersebut dilakukan untuk menjalankan puasa Ramadhan serta menghadirkan sifat-sifat yang wajib dijelaskan dalam niat, jika tidak maka makan sahurnya belum mencukupi untuk menggantikan niat.

فتح المعين : ( فَرَضَهُ ) أيِ الصَّوْم ( نِيَةً ) بِالْقَلْبِ وَلاً يُشتَرَطُ التَّلَفُّظُ بِهَا بَل يُنذَبُ وَلاً يُجزِى عَنْهَا التَسَحُّرُ وَإِنْ قَصَدَ بِهِ التَّقْوَي عَلَى الصَّوْم وَلا الإمْتِنَاعُ مِنْ تَنَاوُلِ مُفطِرٍ حَوْفَ الْفَجْرِ مَا لَمْ يُخطَر بِباَلِهِ الصَوْمُ بالصِّفَاتِ الّتي يَجِبُ التَّعَرُّض له في النَّيَّةِ . ( قَوْلَهُ مَا لَمْ يُخْطَرُ بِبَالِهِ الصَوْمُ بالصِّفَاتِ إِلَخ ) قيَّدَ في عَدَمِ الِإجْزَاء أيمَحَلُّهُ مَا لم يُخْطَر بِبَالِهِ الصَّوْمُ بَصِفَاتِهِ وَإلاَّ أَجَزَأَ مَا ذُكِرَ مِنَ الصَّوَرَتَيْنِ أعْني التّسَخُّرَ وَالامْتِنَاعُ مِنْ تَنَاوُلِ مُفطِرٍ عَنْهَا . اهـ

“Fardlunya puasa adalah niat di dalam hati dan tidak disyaratkan harus mengucapkan niat, namun hanya disunnahkan. Sedangkan makan sahur belum bisa dianggap mencukupi sebagai pengganti dari niat berpuasa, sekalipun hal tersebut dimaksudkan untuk kekuatan berpuasa. Begitu juga dengan perbuatan mencegah dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa karena khawatir akan terbitnya fajar juga tidak mencukupi sebagai pengganti niat selama tidak terbersit di hatinya untuk berpusa dengan sifat-sifat yang wajib dinyatakan (ta ‘ arrud) dalam berniat.”

“Dan apabila di hatinya ada keinginan untuk berpuasa, maka sesuatu yang telah disebutkan dari dua contoh diatas, yakni makan sahur dan menahan diri dari sesuatu yang bisa membatalkan puasa itu sudah bisa mencukupinya.” Wallahu ‘Alam

Redaksi

Terkait

Leave a Reply