Rasionalitas dalam Beragama

 Rasionalitas dalam Beragama

Rasionalitas dalam Beragama (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Bagaimana agama dipahami dalam batas-batas rasio (akal-budi), atau rasionalitas dalam beragama? Di dalam buku seorang filsuf terkenal, Immanuel Kant, yang berjudul Agama dalam Batas-Batas Akal Budi menjelaskan perihal batas rasionalitas beragama tersebut.

Lalu, bagaimanakah peranan dan posisi akal budi dalam sebuah agama? Kalau kita sadari, dewasa ini kita dapat menemui sebagian orang yang beragama tampak memiliki sikap yang cenderung mengesamping akal budi atau rasionalitas.

Agama seakan-akan dipahami hanya sebatas yang berkaitan dengan iman atau sebuah kepercayaan dan mandeg pada sebuah doktrin-doktrin saja. Meyakini seolah-olah beragama hanya cukup dengan “Amin” saja.

Saya kira dewasa ini, tidak sedikit orang yang mengaku beragama tapi justru malah memusuhi rasio atau pikiran logisnya. Secara keliru mereka juga beranggapan bahwa kalau mereka menggunakan rasio atau akal budinyanya.

Mereka pun akan kehilangan kepercayaan atau keimanan. Ini menandakan bahwa mereka menganggap tak butuh rasionalitas ketika beragama.

Inilah yang saya kira menjadi penyebab atau membuat sulitnya diskursus rasionalitas yang dilakukan dalam wilayah agama. Perbedaan pendapat pun kemudian dengan mudah dihadapinya secara emosional.

Lantas dengan mudahnya pula melabeli orang lain dengan label-label tertentu, sebagai kafir, dan sebagainya. Bahkan tidak jarang begitu mudahnya membumbuinya dengan kekerasan. Fenomena-fenomena ini lah saya kira, menjadi bukti nyata atas defisitnya rasionalitas dalam beragama kita kini.

Citra Agama

Kita telah paham, bahwa agama Islam merupakan agama yang mengajarkan serta mengajak kepada seluruh umatnya untuk selalu istikamah dalam melakukan hal-hal yang bersifat kemaslahatan. Agama yang mengajar keluhuran. Agama yang bercita-cita untuk melahirkan perdamaian di setiap sendi-sendi kehidupan.

Akan tetapi, kalau kita melihat fenomena-fenomena di atas, bahwa agama tampaknya kini telah ternodai citra luhurnya, agama tampak berwajah buruk, bercitra rasis, dan sebagainya. Pertanyaannya, darimanakah datangnya citra buruk agama, terkhusus agama Islam?

Mari kita mencoba melihat dengan seksama, bahwa belakangan banyak beredar tentang sikap-sikap Islamofobia atau alergi dengan agama Islam. Tidak sedikit juga sekelompok orang mengatakan, agama Islam-lah yang melahirkan paham-paham radikalisme, terorisme, agama dengan nuansa kekerasan, dan sebagainya.

Baru-baru ini ada orang yang sampai menyuruh Menteri Agama kita untuk menghapus beberapa ayat Alquran yang dianggap kerap disalahpahami oleh umat muslim. Menurutnya, hal itulah yang melahirkan kekerasan dalam beragama dnaberdampak pada ketidakmaslahatan bersama.

Ya, memang begitu faktanya kini. Banyaknya radikalisme, paham-paham dengan kultur kekerasannya, tidak sedikit terorisme yang terjadi dengan dalih agama. Mau tidak mau, citra agama yang berwajah penuh dengan cinta, kasih sayang, kelembutan, keteladanan dan saling menghormati pun menjadi hilang sirna begitu saja. Lalu berubah menjadi wajah yang bengis, wajah yang garang dan menakutkan.

Pentingnya Rasionalitas dalam Beragama

Seluruh isi Alquran mengandung kebenaran hakiki, tetapi manusia kerapkali tidak berhati-hati dalam mekanainya. Sebagian mereka mudah melahirnya tafsir-tafsir yang tanpa dasar, kemudian dijadikannya dokma dengan membabi buta sehingga kesalahpahaman pun terjadi.

Kita sadari atau tidak, setuju atau tidak, dalam agama Islam, memang banyak terjadi keragaman, baik opini maupun praktik dalam beragama yang berdasar pada afiliasi kultur masing-masing pengikutnya. Hal ini tidak bisa dihilangkan, maka hanya dengan mensyukuri melalui sikap-sikap yang bijaksana-lah yang kemudian dapat melahirkan kemaslahatan bersama karena, semua itu telah menjadi Sunnatullah.

Kalau rasa syukur melalui kebijaksanaan tidak diindahkan, dengan memfungsikannya akal budi atau rasionalitas kita dalam keberagamaan, merelevansikan ayat-ayat suci, sunnah-sunnah yang agung yang agung dengan logis dengan bijaksana, maka jangan heran, manakala akan mendapati kesulitan dalam perjuangan membangun wajah atau citra yang bagus tentang Islam. Karena, yang dapat membuat citra Islam ya orang Islam sendiri, begitu pun yang dapat membuat citra Islam itu buruk, ya orang sesungguhnya orang Islam sendiri.

Bijaksana dalam Beragama

Sebagai pungkasan, kisah Syeckh Hamzah Yusuf yang saya kutip dalam bukunya Imam Syamsi Ali (2017) berikut barangkali menjadi hikmah. Hamzah Yusuf adalah seorang imam terkemuka, tidak hanya di Amerika tetapi juga di Barat, bahkan di Dunia.

Beliau orang Amerika keturunan Irlandia. Berkulit putih dan jago beretorika. Jika beliau menyampaikan ceramah maka Anda akan terbuai keindahan argumentasi dan kedalaman analisanya.

Beliau pernah berstatemen bahwa, “Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan karena sempat menemukan Islam sebelum sempat bertemu dengan orang-orang Islam. Sungguh hati ini merasakan keindahan Islam. Tapi di saat bertemu pemeluknya, justru hati kerap kali merasakan keresahan. Apa jadinya, kalau saya bertemu mereka sebelum menemukan Islam, boleh jadi saya merasa telah mengambil jalan yang semakin jauh dari keindahan itu.”

Dari kisah itu, maka dapat kita petik hikmahnya, bahwa Islam itu diyakini oleh pengikutnya sebagai agama yang sempurna. Namun, manusia yang menjadi pengikut atau pemeluk agama ini jauh dari kesempurnaan sehingga terlalu banyak melahirkan kegagalan dalam membangun hidup berdasarkan idealisme agamanya yang sempurna itu.

Oleh sebab itu, sebagai manusia yang tidak sempurna, maka harus senantiasa berhati-hati dan senantiasa bijaksana dalam melakukan apa pun. Termasuk, manusia harus selalu menyadari atas pesan-pesan (perintah atau pun larangan) yang telah diajarkan oleh Islam melalui kitab sucinya secara rasional.

Sesungguhnya ajaran Islam melalui pesan-pesan dalam kitab sucinya itu, memiliki cita-cita rasional dan cita-cita empiris. Dengan seluruh manusia menerapkan paradigma agama yang rasional dan empirirs tersebut. Maka, mereka tidak akan memandang secara sempit atas agama mereka sendiri.

Mereka tidak akan memandang kitab suci Alquran hanya sebatas tekstual dan dogmatis, yang agama menjadi tidak rasional, serta cita-cita empirisnya pun tidak akan dapat terlaksana. Semoga.

Tabik.

Rojif Mualim

https://hidayatuna.com

Alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pengajar dan Peneliti, Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Terkait

Leave a Reply