Ramadhan terkunci: Umat Muslim Dunia Berpuasa di Tengah Pandemi

 Ramadhan terkunci: Umat Muslim Dunia Berpuasa di Tengah Pandemi

HIDAYATUNA.COM – Umat Muslim telah memasuki bulan suci yang dinantikan, akan tetapi Ramadhan di seluruh dunia pada tahun ini akan terlihat agak berbeda. Umat Muslim diimbau untuk mengurangi perayaan dan pertemuan besar untuk mencegah penyebaran Covid-19 lebih lanjut.

Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly mengatakan pada konferensi pers yang disiarkan televisi pada hari Kamis bahwa negara tersebut memberlakukan jam malam. Jam malam tersebut berlaku mulai pukul 9 malam. waktu setempat sampai jam 6 pagi.

Pemberlakukuan jam malam itu menjadikan umat Islam tidak akan bisa mengadakan pesta buka puasa keluarga besar, makan malam puasa selama Ramadhan, meski hanya mengundang keluarga ke rumah mereka.

Dilansir dari DW, Grand Mufti Shawki Allam, otoritas agama tertinggi di negara itu, menghimbau semua Muslim yang sehat harus tetap berpuasa meskipun ada pandemi.

“Setelah berkonsultasi dengan para ahli medis di tengah-tengah pandemi saat ini, kami menegaskan bahwa puasa tidak memiliki efek negatif pada orang yang sehat,” kata Allam dalam sebuah video yang diposting di Facebook.

Sementara lansia, orang-orang dalam kondisi sakit dan pasien Covid-19 boleh tidak menjalankan puasa.

Di Albania, para pemimpin Islam atau ulama mendesak umat untuk tinggal di rumah, mematuhi pembatasan jarak sosial dan mendorong mereka untuk menghabiskan lebih banyak waktu mengajar anak-anak mereka tentang Islam. Otoritas Turki juga telah melarang acara makan bersama selama liburan untuk menghindari penularan.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menolak untuk menutup masjid-masjid negara itu meskipun ada peringatan dari Asosiasi Medis Pakistan bahwa pertemuan publik mirip dengan cawan petri dan akan mengganggu sistem kesehatan negara yang sudah rapuh.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendorong umat Islam di seluruh dunia untuk “fokus pada musuh kita bersama, virus.”

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock berterima kasih kepada semua Muslim Inggris karena tinggal di rumah selama bulan Ramadhan dalam sebuah siaran langsung televisi dari Downing Street dan mengakui itu akan menjadi masa yang sulit bagi banyak Muslim selama lockdown.

Di AS, sekitar 3,5 juta Muslim, kelompok agama terbesar ketiga di negara itu, dilarang melakukan sholat di masjid. Sebagai gantinya, para ulama menggelar doa dan kajian secara streaming online.

Muslim di Jerman yang memulai Ramadhan pada hari Jumat, harus mematuhi aturan pembatasan karena Jerman telah menutup tempat-tempat ibadah bagi banyak orang termasuk masjid, gereja, dan sinagoge.

Jerman juga memberakukan pembatasan ketat berupa larangan melakukan aktivitas sosial lebih dari dua orang di luar rumah.

Di tengah krisis corona virus, sosialisasi di luar rumah dalam kelompok yang terdiri lebih dari dua (kecuali dari rumah tangga yang sama) dilarang.

“Sesulit apa pun bagi kita untuk menutup masjid selama bulan suci Ramadhan, adalah tanggung jawab agama dan sipil kita untuk melakukan hal itu pada fase saat ini,” Aiman Mazyek, sekretaris jenderal Dewan Sentral Muslim Jerman , dikabarkan kentor berita lokal Ruhr24. (AS/Hidayatuna.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply