Qur’an Hadis Tidak Cukup Pahami Islam Secara Utuh

 Qur’an Hadis Tidak Cukup Pahami Islam Secara Utuh

Menurut KH Said Aqil Siraj dalam konteks beragama Qur’an Hadis dinilai tidak cukup pahami Islam secara utuh

Oleh:  Said Aqil Siroj

HIDAYATUNA.COM – Suatu ketika ada seorang gubernur bernama Abdul Rahman Al Mahdi, gubernur Asia Tengah, jika sekarang Afganistan dan sekitarnya.  Kirim surat pada Imam Syafi’i.  Isi suratnya begini, “Syekh, aku ingin paham agama Islam yang utuh”.  Imam Syafi’i segera memanggil muridnya, Rabi’ bin Sulaiman al Muradi.  “Rabi’ sini ambil kertas ambil pulpen, ini ada gubernur tanya, ayo kita jawab, ayo naktubur risalah, ayo nulis risalah (surat)”.  Imam Syafi’i mendikte, Rabi ‘menulis.  Akhirnya risalahnya Imam Syafi’i berjumlah 300 halaman, yang terkenal dengan kitab Al-Risalah. 

Ini awal mula ada ilmu ushul fiqh.  Imam sebelumnya sudah memakai praktik ushul fiqh, tapi ilmu ushul fiqhnya belum ada.  Seperti zaman Imam Hanafi, Imam Malik.  Jadi, llmu yang bernama ushul fiqh ya baru Imam Syafi’i.  Makanya jika ada orang yang bilang, “Saya tidak bermadzhab, Qur’an langsung, hadis langsung Bukhari, hadis Turmudzi!”.  Tahu gak, Imam Bukhori itu taklid untuk madzhabnya Imam Syafi’i. 

Imam Turmudzi itu muridnya Imam Ishaq bin Rohaweh, Ishaq Rohaweh itu muridnya Imam Syafi’i!  Nah, Imam Syafi’i menulis Al-Risalah.  Diantara isinya, “Kalau kamu mau paham Islam wahai Gubernur, pertama harus setuju bayan ilahi (Al-Qur’an). Tapi ayat Al-Qur’an tidak satu tipe. Ada ayat muhakamah, ada mutasyabihat.  Ada ayat ‘amm, ada khos. Ada ayat maknanya haqiqi, ada majazi. Ada ayat nasikhah, ada mansukhah. Kalau sudah perbaiki bayan ilahi, masih perlu dilihat lagi tentang Islam yang sudah lengkap, kembalikan ke yang sudah ada, bayan nabawi (hadis).  hadis juga tidak satu tipe. Ada mutawattir, itupun ada mutawattir lafdzon wa ma’nan. Tapi yang banyak ma’nan la lafdzon. Ada masyhur, aziz, yang utuh ada ahad.

Kalau sudah hadis mutawattir dicari masih belum sempurna, pindah pada hadis masyhur. Kalau masyhur masih belum ada, azis. Kalau azis belum ada, ahad boleh dipakai. Itu paling terakhir, yang rawinya individual. Sudah paham bayan ilahi, bayan nabawi masih juga belum paham Islam yang utuh, maka menurut Imam Syafi’i, pindah ke bayan aqli. Akal harus digunakan, akalnya ulama bukan akalnya saya. Akalnya ulama itu kalau melalui pertemuan, musyawarah, diskusi, berdebat kemudian mengeluarkan keputusan hukum namanya ijma (konsensus). Ada qouli, ada sukuti. Kalau akalnya ulama sporadis artinya dewe- dewe tidak melalui musyawarah, namanya Qiyas. Adapun Qiyas terdiri dari Sembilan yaitu, qiyas aulawi, istiqra’i, burhani, jadali, syi’ri, khitobi, iqna’i, tamsili.

Kalau Imam Syafi’i cukup sampai Qiyas, tidah seperti Imam Hanafi, yaitu maslahah mursalah, tidak seperti Imam Malik yaitu arau ahlil madinah, tidak usah seperti Imam Hambali, Istishab. Kenapa? Menurut Imam Syafi’i ketiganya itu termasuk Qiyas. Itu kalau mau paham Islam yang sebenarnya.

Contoh, di Al-Qur’an berulangkali perintah shalat. Kalau gak shalat ma salakakum fi sakor qolu lam naqum minal mushollin. Jangankan tidak shalat, alladzina hum ‘an sholatihim sahun. Itu saja sudah wailun. Tapi sebegitu pentingnya shalat, Qur’an tidak menjelaskan berapa kali shalat yang wajib, namanya shalat apa? gak ada di Qur’an! Kalau ada khatib yang ngomong,”Semua ada di Qur’an”. Gak tamat ibtidaiyah itu rupanya. Qur’an tidak menjelaskan namanya shalat yang wajib itu apa, berapa kali, berapa rokaat, waktunya kapan? Di hadis ada. Di hadis shalat yang wajib lima kali, (khomsi maktuban). Namanya dluhur, ashar, magrib, isya, fajar. Rekaatnya 4-4-3-4-2. Waktunya thuluu’i fajris shodiq ila syurukis syams. Tapi hadis pun tidak menjelaskan apa-apa saja yang harus kita penuhi ketika kita akan shalat. Namanya syarat; Islam, baligh, aqil, suci dari najis pakaian, badan, dan tempat. Suci dari hadats shoghir, hadats Kabir, Dluhulil waqt (masuk waktu). Itu tidak ada di hadis.

Apa saja komponen sholat itu? Arkanus sholati arba’ata ashar: al awwal takbiratul ikhram, was tsani anniyah, was tsalisu al-qiyamu limanistatho’a, arrobi’u lifatihati fihi, Al-khomisu arruku’.. tidak disebutkan dalam hadis! Itu adalah produk ijitihadnya ulama bil ijma. Jadi, kalau ada orang hanya pegang Al-qur’an dan Hadis saja, belum pernah shalat, kemudian ingin belajar shalat, tidak mungkin bisa shalat kalau hanya dengan qur’an-hadis. Belum lagi masalah haji, mabit di Mina tidak dijelaskan dalam di Al-Qur’an. Yang ada mabit di muzdalifah. Walhasil, masalah-masalah praktek ibadah sudah disiapkan matang oleh ulama mujtahidin.

Sumber: Risalah NU, Volume VII

Redaksi

Terkait

Leave a Reply