Quraish Shihab: Surah Ad-Dhuha Ajarkan Pentingnya Mendahulukan Nilai Kemanusiaan

 Quraish Shihab: Surah Ad-Dhuha Ajarkan Pentingnya Mendahulukan Nilai Kemanusiaan

Quraish (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Cendekiawan muslim Prof H. M. Quraish Shihab menyinggung soal surah Ad-Dhuha. Surah tersebut memiliki makna sebagai tuntunan untuk mendahulukan nilai kemanusiaan dari pada keberagamaan jika tidak dapat dikompromikan.

Setidaknya ada tiga tuntutan dalam surah yang cukup populer di kalangan umat Islam itu. Pertama, kata Prof Quraish tentang hak anak yatim, kedua soal memberi, dan yang terakhir yaitu tentang nikmat Tuhan.

“Pertama, perhadap anak yatim, jangan sewenang-wenang. Kedua, terhadap peminta, jangan menghardik. Ketiga, terhadap nikmat Tuhan, sampaikanlah. Dua yang didahulukan itu terkait dengan manusia, dan satu yang terakhir berkaitan dengan Tuhan,” kata Quraish Shihab dalam video yang diunggah akun YouTube, Najwa Shihab, Selasa (13/04/2022).

Menurut doktor jebolan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini, seseorang yang harus membayar zakat termasuk hak Tuhan. Akan tetapi, di sisi lain ada orang yang butuh diutangi, maka yang menjadi prioritas diberi adalah orang yang membutuhkan utangan.

“Dahulukan kemanusiaan, baru hak Allah. Karena hak Allah dasarnya adalah toleransi, sedangkan hak manusia itu dasarnya tuntutan,” jelasnya.

Oleh karena itu, ketika manusia berdosa dan selama ia meminta ampunan pasti akan diampuni oleh Tuhan. Berbeda jika seseorang berutang atau ingin meminta maaf kepada orang lain, belum tentu diberi atau dimaafkan.

Prof Quraish menerangkan, dalam ayat terakhir surat Ad-Dhuha memiliki makna nikmat yang diberikan Tuhan harus disampaikan dengan cara bersedekah dan menggunakan pakaian yang bagus.

“Bukan tujuan pamer. Tetapi menampakkan bahwa kita bersyukur. Tuhan senang melihat dampak anugerah-Nya pada diri seseorang. Jadi, jangan kikir pada dirimu sendiri. Kalau bisa berpakaian bagus, maka pakailah dan jangan berlebihan atau pamer,” tandasnya.

Ia menegaskan, Tuhan itu maha cantik dan mencintai kecantikan sehingga jangan ada yang mengharamkan perhiasan yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada hamba-Nya.

“Karena itu kita perlu hidup di dunia dengan nyaman. Agama tidak melarang selama tidak berlebihan,” pungkas Prof Quraish.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply