Qubbat As-Sakhrah Bangunan Berarsitektur Islam Paling Awal

 Qubbat As-Sakhrah Bangunan Berarsitektur Islam Paling Awal

Qubbat As-Sakhrah Bangunan Berarsitektur Islam Paling Awal

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Masjid Qubbat As-Sakhrah memiliki nama lain dengan sebutan Dome of the Rock atau Masjid Kubah Batu. Masjid ini merupakan bangunan berarsitektur Islam paling awal.

Banyak orang kerap kali keliru menyebut bangunan masjid berkubah emas itu sebagai Masjid al-Aqsa. Padahal tidak. Masjid Masjid Qubbat As-Sakhrah bukan masjid al-Aqsa sekalipun letaknya berada di kompleks Al-Haram asy-Syarif, Masjid Al-Aqsa, di Kota Yerusalem.

Sama-sama berada dalam satu kompleks, perlu diketahui bahwa Masjid Qubbat As-Sakhrah memiliki ciri kubah berwarna emas, sementara Masjid al-Aqsa yang terletak di sebelahnya memiliki warnah kubah hitam. Namun keduanya berada pada satu kompleks sama yang disebut komplek Al-Haram asy-Syarif, Masjid Al-Aqsa.

Mengenai Masjid Qubbat As-Sakhrah ini kita bisa menyaksikan bagaimana arsitektur masjid ini adalah bentuk dari gaya arsitektur Islam paling awal. Karena ia paling awal maka Qubbat As-Sakhrah ini telah melewati berbagai zaman.

Mulai dari zaman kejayaan Islam, zamaan Perang Salib, zaman Mandat Britania, hingga zaman pendudukan Israel. Dilansir dari Republika, pada masa awal perkembangan Islam, bangunan ini menjadi saksi bisu peristiwa Isra dan Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad SAW.

Sebab, di lokasi berdirinya Qubbat As-Sakhrah terdapat sebuah batu besar yang diyakini umat Islam sebagai tempat Nabi Muhammad SAW berdiri ketika peristiwa Isra dan Mi’raj.

Di zaman Khalifah Umar bin Khattab, bangunan ini menjadi simbol penaklukan Islam terhadap musuh-musuhnya. Ketika kaum Muslimin mengadakan pengepungan terhadap Kota Baitul Maqdis selama empat bulan, penduduk kota itu rela untuk mengadakan perdamaian dengan kaum Muslimin.

Kemudian di masa Perang Salib bangunan ini sempat jatuh ke tangan tentara Salib. Oleh Kaisar Augustinian, bangunan Kubah Batu ini kemudian dialihfungsikan menjadi gereja.

Selanjutnya di era Salahuddin Al-Ayyubi, pasukan Islam merebut kembali bangunan ini pada 1187. Saat itu, kompleks Al-Haram asy-Syarif ditetapkan sebagai tempat ibadah kaum Muslimin. Salib di atas Kubah Batu diganti menjadi bulan sabit emas.

Pada masa Kesultanan Ottoman (1517-1917), dilakukan sejumlah renovasi terhadap bangunan Kubah Batu ini. Renovasi berskala besar dilakukan semasa pemerintahan Mahmud II tahun 1817. Berdekatan dengan Qubbat As-Sakhrah, Kesultanan Ottoman membangun Kubah Nabi pada 1620.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply