Puntung Rokok

 Puntung Rokok

HIDAYATUNA.COM – Aksi ocehan pahlawan bertopeng sudah melampaui batas. Bukan Cuma keterlaluan lagi. Racauan mereka sudah bukan lagi gambaran berpikir bebas, tetapi sudah menuhankan kebebasan pemikiran dan berpendapat. Entah, apakah ingin sekedar gaya-gaya’an agar di pandang liberal sejati, ataukah memang akalnya sudah diracuni liberalisme akut. Begitu bebasnya, sampai urusan masuk surge dan neraka pun dipermainkan sekehendak hatinya.

Mahbub Q-Think, seorang dari mereka, ngoceh. Lucu banget ocehannya. Dia enggak mau masuk surge lantaran jika di surge ada orang-orang yang dia abggap enggak pantas masuk surga. Dia rela mengalah. Katanya, dia lebih baik masuk neraka aja.

Weleh!

Maka, makin jelaslah ocehan si habib itu di warung mie rebus.

“Kalo di surga ketemu Farhat Abbas. Hafidz Ary, dan Osama mending gua masuk neraka aja !” kata si Q-Think sambil menyantap mie rebus di warung juga rokok yang sedang dinikmatinya. Isi kepala Pak Lukman belum nyambung, untuk apa rokok itu. Lagi pula, mengapa kyai kolot itu tidak mau di kasih batang rokok yang baru.

Kyai Adung mengambil rokok dari tangan Pak Lukman. Tidak untuk dihisap, tapi rokok itu ditaruh di bangku si Q-Think yang tengah berdiri dari bangkunya untuk ambil kerupuk. Rupanya, kurang sedap makan mie rebus enggak pake kerupuk.

Terjadilah insiden itu.

“Wadaaw!” teriak si Q-Think.

“Nape lu ?” Siapa yang naro puntung rokok di bangku gua ?”

Bwuahahahhaha, rupanya pantat si Q-Think menduduki punting rokok. Pantatnya ngebul. Bara api menembus dan mencium kulit bokongnya. Celananya bolong dan sapnya bau sangit.

Dengan muka sewot, si Q-Think nepuk-nepuk pantatnya. Blingsatan. Sementara Kyai Adung mulai cengar-cengir. Pak Lukman malah bengong. Pak Lukman sendiri berpikir, sadis banget nih, Kyai kolot. Tapi, Pak Lukman segera sadar. Biasanya, setiap aksi Kyai Adung pasti ada maksud tersembunyi.

“Emang nape!” sahut Kyai Adung nyantai.

“Panas, kampret! Lu kira pantat gua dari seng ?”

Gubrak !

Bwuahahhaha. Kyai Adung enggak bisa menahan tawanya. Mengerti jugalah Pak Lukman sekarang. Saking ngertinya, tanpa disuruh lagi, Pak Lukman langsung nyerocos, “Itu baru punting rokok, pagaimane neraka ?”

Bagai orang baru menang main kasti, Pak Lukman melangkah sambil bersiul dan mengandeng tangan Kyai Adung ngeloyor pergi.

Qiqiqiqiq….

Ternyata ocehan Q-Think soal sok jago masuk neraka baru sekelas punting rokok. Segitu juga udah blingsatan.

Source : Kyai kocak VS Liberal Ronde #2

Redaksi

Terkait

Leave a Reply