Puisi Selendang Sulaiman; Haji Sayuri

 Puisi Selendang Sulaiman; Haji Sayuri

Haji Sayuri

Haji Sayuri, sosok legendaris di kalangan kami
Humoris, murah senyum, dan begitu sederhana
Kami pun tahu filosofi hidupnya yang sejati
Sepulang ia dari tanah suci, dari kota nabi

“Dalam hidup, aku hanya mencari barokah,”
Ucapnya pada Jumat Berkah yang disyukuri
Dengan senyum khas tak terlupakan
Dengan humor dahsyat menggetarkan

Haji Sayuri, jauh lebih tua dari kami
Tapi jiwanya semuda jiwa-jiwa kami
Ia setia pada jalan hidup yang ia pilih
Setia membuat kami tertawa: bahagia

Seolah hidup tak lain untuk disyukuri
Bukan diratapi, disesali, apalagi dikutuki
Kepadanya kami diam-diam menata diri sendiri

Selebihnya, kami tautkan doa pada Ilahi
Sembari merampungkan ikhtiar demi ikhtiar
Seperti Haji Sayuri menekuninya setiap hari

Jakarta, 2019


Aku Ingin Hidup dalam Doamu

aku ingin hidup dalam doamu
doa orang-orang tertindas
yang setiap baitnya menggema
di altar langit ketujuh
dimana Tuhan memakbulkan segala pinta

aku ingin hidup dalam wirid-zikirmu
wirid si khidir atau zikir gelandangan
yang setiap lafadznya melengking
di kedalaman goa para pertapa
dimama Tuhan pancarkan sinar kebenaran

aku ingin hidup dalam lantunan Kalam Ilahimu
tilawah para sahabat atau wali
yang setiap ayatnya berdentum-dentum
di kedalaman jiwa setiap ciptaan
dimama Tuhan menunjukkan AdaNya.

aku ingin hidup dalam perjuanganmu
lahir dan batin
dan biarkan aku berjuang pula
untuk tanah air dan bangsaku

Cikini, 28 Maret 2018
Kemayoran, 8 Januari 2020


Puisi Mempelai

Di pelataran penuh mawar kugandeng tanganmu
kita melangkah sebagai mempelai
menyatukan dua kebudayaan

Wahai, teman hidup dan matiku
Teguklah anggur cintaku
Dan kuteguk madu kasihmu

Kepadamu, yang bergelar istri abadi
Kuhadiahkan sekalung rindu Illahi
Kubimbing sama langkahmu
Dan bimbinglah aku jadi imammu.

Kekasih utama dan terakhirku,
abadilah bersamaku
Sebagaimana langit menuliskannya
Impian luhur ayah-bunda

Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika
wa jama’a bainakumaa fii khair.


Doa Ganjil

doaku tumpah
saat bibir senantiasa menyebutmu
di hati kau hadir selalu
menjelma pikiran waktu
kendati laku hidup jauh
dari padamu
duh, ampun gusti,
ampun!


Nyonson

kamis malam termanis menjelang purnama
perempuan-perempuan sisa peradaban purba
dengan keriput indah tanpa sentuh kemilau dunia
memukul-mukul batu dendam umat manusia

pada lincak bambu di bawah pohon mangga ranum
tepat saat matahari tenggelam ia songsong cakrawala
dengan sebilah sepat kelapa bertabur butir keminyan
bara kecil, api pengharapan, penebar doa ke langit

aroma sedap menyeruak ke segala penjuru kampung
dari pintu ke pintu, dari jendela ke alam baka
mengantar bisikan rindu – suara nenek moyang

cinta tumbuh jadi sulur-sulur persaudaraan
gema suara ghaib, pemacu kerja keseharian
dan hidup santun dalam kesederhanaan


Zikir Jum’at Pagi

jum’at pagi cerah tembaga
batin menatapmu terlentang di savana
sayap jibril kuantar memelukmu
dari punggungku yang kekar

barisan pohon nyiur pasrah ditiup angin
gerambai rambutku menggapai langit
menudung cuaca ke puncak gairah
di sini aku terpagut menunggu

tak ada elang diserang lapar kemarau
cakrawala bersih penuh paras
benih mentimun menunas hijau samudera

aku menyambut kehadiran senyum petani
seolah mengerti maknanya insan menanti
di alamku yang dipenuhi semak sangkara


Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa seperti; Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Indopos, Suara karya, Minggu Pagi, Riau Pos, Merapi, Padang Ekspres, Lampung Post, Radar Surabaya, Rakyat Sumbar, Rakyat Sultra, Radar Madura, Majalah Sagang, Majalah Sarbi, dll. Antologi Puisi bersamanya; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Selat Sekat (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), Bendera Putih untuk Tuhan (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Yang Tampil Beda Setelah hairil (Haripuisi 2016), Ketam Ladam Rumah Ingatan (LSS Reboeng, 2016), Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2018) dlsb.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply