Puasa Salah Satu Cara Mengasah Kepekaan Sosial

 Puasa Salah Satu Cara Mengasah Kepekaan Sosial

Puasa menjadi ajang mengasah kepekaan sosial (Ilust/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Puasa Ramadan tidak hanya dimaknai dengan persembahan untuk Allah semata. Tetapi puasa sekaligus melatih kita untuk mengasah kepekaan sosial (hablum minannas).

Kepekaan sosial ini penting terlebih di bulan Ramadan. Ramadan menjadi ajang untuk mengasah hal tersebut dengan, misal, berbagi takjil, sedekah kepada orang yang kurang mampu, dan ibadah-ibadah sosial lainnya.

Bagi-bagi Takjil, misalnya, adalah fenomena yang mampu memberi kesempatan setiap orang untuk berbagi. Di Indonesia, kegiatan berbagi takjil ini sering kita jumpai, di masjid-masjid, jalan-jalan, dan tempat umum lainnya.

Berbagi seperti ini adalah bentuk dari upaya mengasah kepekaan sosial. Dengan begitu, di luar Ramadan telah terbiasa dan menjadi bagian dari kebiasaan baik untuk saling berbagi kepada orang-orang yang kurang mampu.

Ibarat mata pisau yang harus selalu diasah, kepekaan sosial juga butuh diasah terus menerus. Puasa di bulan Ramadan adalah momentum untuk mengasahnya.

Terlebih Ramadan hari ini yang masih dalam suasana pandemi Covid-19. Momentum ini jangan sampai terlewat begitu saja tanpa sedikitpun ibadah-ibadah sosial yang dapat kita lakukan semampunya.

Sedakah sebagai Tanda Cinta

Tanda cinta yang bersifat mengasah kepekaan sosial, salah satunya adalah bersedekah. Inilah bentuk kepekaan sosial terhadap orang-orang yang kurang mampu disekeliling kita. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa persentase penduduk miskin pada September 2021 sebesar 9,71 persen, menurun 0,43 persen poin terhadap Maret 2021 dan menurun 0,48 persen poin terhadap September 2020.

Walaupun terjadi penurunan 0,43 persen dari bulan Maret 2021, tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Tugas untuk memberantas dan membantu rakyat miskin adalah tanggung jawab bersama. Terlebih di bulan Ramadan dalam keadaan pandemi covid-19. Sedekah, selain zakat fitrah, adalah jalan terbaik untuk berbagi bersama kepada siapa saja yang membutuhkan.

Dalam QS. At-Taubah [9]: 60 Allah mewajibkan manusia untuk bersadaqah wajib (zakat) tehadap kaum muslimin. Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir (jilid 5, hlm. 505) memberi penjelasan terhadap ayat di atas dengan mengatakan bahwa harus bagi seseorang untuk mendistribusikan zakan kepada jalan yang benar dan adil. Sehingga, orang-orang kaya tidak boleh mencari jalan untuk memberikannya kepada selain orang yang berhak tersebut. Ayat tersebut juga, lanjutnya, merupakan pengingat yang abadi agar orang-orang kaya peduli terhadap orang-orang yang memerlukan.

Penjelasan di atas menggambarkan bahwa sedekah, baik itu yang wajib ataupun yang sunnah, merupakan salah satu pilah penting dalam ajaran Islam. Ia tidak hanya berfungsi untuk membersihakn dan mensucikan (QS. At-Taubah [9]: 103, lebih dari itu sebagai pencegahan terjadinya kejahatan serta supaya harta tidak berputar hanya di orang-orang kaya belaka.

Hikmah Sedekah (Zakat)

Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafatih al-Ghaib (jilid 16, hlm. 101-106) menguraikan beberapa dihikmahannya zakat baik bagi yang mengeluarkan maupun yang menerima, diantaranya; 1) bagi yang mengeluarkan, mengikis dan menghapus rasa cinta dunia. Bagi yang menerima, zakat adalah sebagai penutup dan kekurangan hidup.

2) Zakat merupakan realisasi syukur terhadap nikmat-nikat yang telah diberikan Allah kepada manusia. Sedangkan bagi sang penerima, secara tidak langsung telah membatu orang kaya untuk selamat dari celaan dan keburukan di dunia, serta adzab neraka di akhirat, sehingga orang fakir seperti orang yang memberi kebaikan kepada orang kaya dengan membebaskannya dari neraka.

Terakhir, 3) harta adalah milik Allah, sedangkan orang adalah para penyimpan harta-Nya dan orang-orang fakir miskin adalah orang yang menjadi tanggungan-Nya. Keduanya harus membangun solidaritas, saling mengasihi, dan kerja sama. Juga haru ada pelaksanaan terhadap perintah Allah sebagai Sang Maha Kaya sesungguhnya. Dengan memberikan harta tersebut kepada para hamba-Nya yang kekurangan, serta menafkahkannya kepada orang-orang yang menjadi tanggungan-Nya. Semoga kita selalu diberi kemampuan untuk berbagai kepada sesama. Wallahu’alam bish-showab.

 

Abdus Salam

Santri di PP. Sunan Pandanaran, Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply