Pondok Pesentren Pancasila Sakti dan Ajaran Nasionalisme Mbah Lim

 Pondok Pesentren Pancasila Sakti dan Ajaran Nasionalisme Mbah Lim

Pondok Pesentren Pancasila Sakti dan Ajaran Nasionalisme Mbah Lim

HIDAYATUNA.COM – Pondok Pesantren adalah sebuah wadah untuk menimba ilmu keagamaan Islam. Karena kultur dan budaya pondok pesantren ini sangat berbeda dengan lainnya. Sebab dari namanya saja sangat unik, masyarakat mengenalnya dengan sebutan Pondok Pesantren Al Mutattaqien Pancasila Sakti.

Ponpes Pancasila Sakti di dirikan oleh Tokoh ulama besar dengan julukan Mbah Lim pada tahun 1974. Pesantren ini berada di Dukuh Sumberejo, Troso, Karanganom, Klaten Jawa Tengah.

Kyai Haji Moeslim Rifa’I Imampuro adalah nama lengkap pendiri Ponpes Pancasila Sakti. Beliau menamai terinspirasi atas kegigihan para ulama dalam menegakkan eksistensi Pancasila dan untuk menunjukkan bahwa pesantren ini berusaha menggagas tentang nilai-nilai kebangsaan.

Ponpes Pancasila Sakti ini merupakan sebuah warisan dari Mbah lim atas tentang Islam dan Pancasila yang paripurna. Karena Pancasila ini bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam dalam masyarakat yang majemuk.

Nama Besar Mbah Lim sosok ulama yang dikenang terus oleh masyarakat nahdiyin. Beliau sebagai sosok Kyai yang nyentrik dan bersahaja. Ia bercita-cita mewujudkan Indonesia aman dan damai.

Semasa hidup mbah Lim mempunyai jiwa nasionalisme yang sangat tinggi untuk bangsa. Beliau selau menegaskan adanya NKRI Harga Mati yang akhirnya kalimat itu menjadi pelopor atau pencetus “NKRI Harga Mati” sampai saat ini.

Cerita bahwa Mbah Lim yang menjadi mencetuskan “NKRI Harga Mati” diperoleh dari kesaksian ulama besar Habib Luthfi bin Yahya dalam Fragmen Sejarah NU karya Abdul Mun’im DZ (2017).

Pada saat Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani datang ke Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Mbah Lim meneriakkan yel yel, NKRI Harga Mati…! NKRI Harga Mati…! NKRI Harga Mati…! Pancasila Jaya. Maka sejak itulah yel yel NKRI Harga Mati menjadi jargon, slogan tidak hanya di NU tapi di beberapa pihak seperti di TNI hingga sampai saat ini.

Baginya, untuk menjadi seorang Muslim tidak perlu mendirikan negara Islam. Ketika tahun 1980-an muncul ideologi Islam transnasional di Indonesia yang mempertanyakan relevansi bentuk dan dasar negara, Pesantren Pancasila Sakti menjadi salah satu pembela Pancasila lewat inspirasi perjuangan Mbah Lim lewat pesantren yang didirikannya.

Dengan berdirinya Pesantren Pancasila Sakti ini, mbah Lim mengajarkan tentang teoleransi antarumat. Pesan beliau yang diwarisankan ke dalam Ponpes Pancasila Sakti ini adalah semangat persaudaraan antarmanusia, sekalipun berbeda agama dan kepercayaan.

Pesan beliau selalu ditanamkan kepada santri-santrinya untuk menjadi orang yang cinta damai untuk persatuan bangsa Indonesia.

Karena, Islam mengajarkan cinta tanah air adalah bagian dari iman. Nafas dakwah pesantren Pancasila Sakti adalah Islam rahmatan lil alamin, agama pembawa kebaikan bagi seluruh alam.

Ini salah satu catatan dari Ali Mahbub tentang doa mbah lim sebelum iqomah  berikut doanya yang selalu di ajarkan di Ponpes Pancasila Sakti (Subhanaka Allahumma wabihamdika tabaroka ismuka wa ta’ala jadduka laa ilaha ghoiruka) artinya.

Duh Gusti Allah Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho Negoro Kesatuan Republik Indonesia Pancasila Kaparingan Aman, Makmur, Damai. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekkah”.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply