Pesan Alquran Kepada Kaum Mustad’afin

 Pesan Alquran Kepada Kaum Mustad’afin

Pesan Alquran Kepada Kaum Mustad’afin (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Sebagai kitab suci, Alquran memiliki sekian muatan anjuran, pesan, kewajiban, dan larangan yang dapat dijadikan pedoman oleh umat manusia sampai akhir zaman. Terlebih bagi umat muslim, Alquran menduduki posisi penting yang tidak bisa untuk diabaikan dalam rangka menjaga-jalani kehidupan di dunia ini.

Maka dari itu, ejawantah konkret dari ayat-ayat Alquran menjadi penting untuk ditunaikan. Selain memang bernilai pahala dengan ganjaran surga, ejawantah ini juga sebagai bentuk pengamalan yang paripurna di tengah-tengah kebisingan dan kekacauan masa ini.

Barangkali, salah satu di antara sekian ayat yang perlu peroleh perhatian adalah kaitannya dengan ayat-ayat berkalam mustad’afin (mereka yang tertindas). Ayat-ayat ini tidak banyak, akan tetapi di dalam masyarakat kita, kuantitas yang tergolong sebagai mustad’afin dapat dikatakan relatif lebih banyak. Dibandingkan dengan yang memiliki kehidupan sejahtera dan mapan.

Di masa silam, kebanyakan nabi-nabi yang diutus baik untuk memperbaiki kondisi manusia maupun menyebarkan ayat-ayat di kitab suci, juga memiliki perhatian kepada kaum mustad’afin. Sebut saja yang paling dekat dengan umat muslim, Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Melalui serangkaian laku dan keputusannya, ada banyak keberpihakan kepada kaum mustad’afin. Selain itu, sebagian dari para sahabat Kanjeng Nabi di masa-masa awal perjuangannya di tanah Makkah dan Madinah, juga termasuk kaum mustad’afin.

Mustad’afin Zaman Nabi

Akan tetapi, konteks mustad’afin di masa Kanjeng Nabi dengan kondisi hari ini sudah jauh berbeda. Jika dulu terjadi karena memang tidak berdaya tanpa pertolongan-Nya, dalam menangkal serangkaian tekanan dari pihak yang tidak senang dengan Kanjeng Nabi.

Sementara sekarang, mustad’afin terjadi karena adanya struktur yang memang sengaja dibuat timpang sebelah. Makanya ada beberapa peneliti dan penulis, yang mengidentifikasi gerak memperhatikan mustad’afin dalam Islam ini, persis dengan yang dilakukan oleh Karl Marx.

Keduanya sama-sama memiliki semangat untuk memperhatikan dan  membela kaum mustad’afin dari segala penindasan. Iffatus Sholehah dalam artikelnya Keberpihakan Alquran Terhadap Mustad’afin (2018) mengklasifikasi kaum mustad’afin berdasarkan dua kategori; ekonomi dan perempuan.

Mustad’afin dari sisi ekonomi meliputi orang-orang fakir dan miskin, anak yatim dan atau piatu, peminta-minta, dan hamba sahaya. Mereka yang telah disebutkan itu, dapat kita temui pada ayat-ayat Alquran.

Di samping bernada memperingatkan, ayat-ayatnya juga menganjurkan untuk membantu mereka supaya dapat hidup lebih baik. Kendati mereka memiliki potensi untuk berkembang dan memobilisasi diri sebagai manusia yang bermartabat, akan tetapi dalam kehidupan di keseharian, mereka cenderung didiskriminasi.

Akibatnya potensi yang dimiliki tidak pernah memperoleh peluang dan kesempatan untuk dikembangkan, sebagai upaya pemenuhan hajat hidup di keseharian. Mereka menjadi manusia yang dilemahkan, atau dinilai lemah oleh pihak-pihak yang ada di sekitarnya.

Perempuan Mustad’afin

Problem serupa juga dialami oleh perempuan. Sekian kasus yang terjadi mulai dari domestifikasi, kekerasan seksual, sampai pembungkaman melalui legitimasi doktrin agama masih banyak ditemui di sekitar kita.

Perempuan yang masuk kaum mustad’afin ini, saya rasa juga memiliki potensi dan keterampilan tertentu. Hanya karena budaya yang tidak memihak, diakumulasikan dengan minimnya dukungan kepada perempuan, akhirnya membuat mereka menjadi jarang atau malah tidak diperhitungkan. Mereka terdesak ke pinggir oleh keadaan yang tidak diinginkan.

Berangkat dari itu, di momen bulan Ramadan ini mungkin bisa menjadi langkah awal untuk membela kaum mustad’afin. Mereka yang tengah membutuhkan bantuan sandang dan pangan, bisa dibantu kendati hanya sekadarnya.

Mereka yang membutuhkan tempat tinggal, dapat dicarikan akses supaya dapat peroleh bantuan tempat berteduh. Toh, di bulan Ramadan, segala kebaikan akan dibalas ganjaran berlipat.

Terlebih jika bantuan itu memang dialokasikan kepada kaum mustad’afin. Kaum yang tercatat dalam Alquran memang memerlukan bantuan dan dukungan, baik moril maupun materiil.

Wallahul’alam

Ahmad Sugeng Riady

Masyarakat biasa merangkap marbot di pinggiran kota Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply