Penyelenggaraan Haji Indonesia Dinilai yang Terbaik, Ini Rahasia-Nya

 Penyelenggaraan Haji Indonesia Dinilai yang Terbaik, Ini Rahasia-Nya

Jamaah haji sang mengelili Ka’bah di Masjidil Haram

HIDAYATUNA.COM, Mekkah – Kepala Daerah Kerja Mekkah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2019 Subhan Cholid mengungkapkan sejumlah rahasia yang menjadi indikator penyelenggaraan haji Indonesia banyak dinilai terbaik oleh negara-negara lain, termasuk Arab Saudi.

“Kita ini yang pertama menjadi concern kita adalah untuk pengelolaan kegiatan dari yang pertama sampai akhir tentu harus ada jadwal. Jadwal inilah yang dijadikan panduan kita untuk seluruh kegiatan pelayanan,” kata Subhan Cholid dari Kota Mekkah, Sabtu, (24/8/2019).

Menurut Subhan, ketepatan dan konsistensi terhadap jadwal membuat penyelenggaraan ibadah haji Indonesia tergolong rapi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya adanya jadwal yang meskipun di tengah jalan terjadi perubahan yang sifatnya kasuistik untuk menyesuaikan situasi di lapangan, tetapi ada patokan yang bisa dijadikan pijakan bagi semua pemangku kepentingan untuk melakukan kegiatan pelayanan.

“Karena jadwal ini dipedomani tidak hanya oleh kita, tapi juga oleh maktab, muassasah, Kementerian Haji dan Umrah Saudi, penyedia layanan, dan sebagainya, semua berpatokan pada jadwal itu,” kata Subhan.

Ia mencontohkan, untuk transportasi misalnya, angkutan kapan harus disiapkan kendaraannya dasarnya adalah jadwal.

“Katering kapan dia harus masak, bungkus, mendistribusikan itu dasarnya adalah jadwal. Kemudian kegiatan bimbingan ibadah kapan mereka akan melakukan pembimbingan itu dasarnya jadwal,” katanya.

Indikator kedua, lanjut Subhanm yakni pengorganisasian dalam setiap penyelenggaraan haji, termasuk di setiap penerbangan yang terdiri dari kloter, rombongan, dan regu. Bahkan, kata dia, di Arab Saudi istilah kloter, rombongan, dan regu telah diserap sebagai bahasa yang dikenal oleh seluruh pengelola ibadah haji.

“Jadi kalau kita terjemahkan kloter malah mereka enggak tahu. Kalau kita panjangkan kemudian kita terjemahkan, pemangkubkepentingan di Arab Saudi malah bingung apa itu,” katanya.

“Tapi dengan kloter mereka paham. Di bawah kloter ada rombongan. Rombongan itu juga sudah diserap menjadi bahasa Arab. Di bawahnya lagi ada regu,” imbuh Subhan.

Tak hanya itu, Subhan menyampaikan bahwa, pengorganisasian yang rapi itu juga menjadi salah satu rahasia yang membuat penyelenggaraan haji Indonesia terkoordinir dengan baik, misalnya maktab yang mengelola layanan kepada jamaah haji tidak perlu berkomunikasi dengan 450 anggota jamaah haji.

“Cukup dengan satu ketuanya kalau dia ingin lebih banyak ya tinggal mengumpulkan rombongan. Satu kloter ada 10 rombongan, dia hanya akan berkomunikasi dengan 10 orang ketua rombongannya saja. Ini yang menjadi bagian dari penilaian dia,” katanya.

Selain itu, kata dia lagi, indikator dan rahasia sukses haji Indonesia terkait soal teknis pemberangkatan, pengelolaan di lapangan, hingga cara bagaimana jamaah datang dalam satu kloter untuk menempati satu hotel.

“Kemudian mereka juga berangkat, ini juga menjadi perhatian mereka. Jadi dinilai oleh mereka itulah yang menjadi salah satu indikator penilaian layanan jamaah haji Indonesia dinilai baik oleh mereka,” katanya.

Bahkan saat memobilisasi 214.000 anggota jamaah Indonesia ketika puncak musim haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, Indonesia justru lebih cepat dibanding negara yang jamaahnya jauh lebih sedikit.

“Maka wajar, jika setiap tahun ada negara-negara yang ingin menimba ilmu dari Indonesia dalam hal penyelenggaraan haji,” katanya.

“Ada setiap tahun, ada yang berulang, seperti Malaysia ini kita rutin tiap tahun ada pertemuan. Turki, Dirjen hajinya datang kemari. Tahun sebelumnya dari Pakistan, tahun sebelumnya dari India. Bahkan ada beberapa negara yang kirim surat ingin menimba ilmu dari Indonesia tentang pengelolaan ibadah haji dari Indonesia,” tambah Subhan menutup.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply