Pengetahuan: Jalan Menuju Akhirat

 Pengetahuan: Jalan Menuju Akhirat

Ilmu kalam tidak tercela (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Sistem nilai berupa angka-angka itu sedikit punya andil membelokkan pengetahuan atau ilmu tidak pada tempatnya. Kecenderungan untuk mendapat nilai fantastis seolah menyelewengkan tujuan pokok ilmu pengetahuan.

Hal ini bukan berarti menganggap bahwa sistem nilai berupa angka sebagai sesuatu yang tidak penting. Diakui atau tidak itu memang penting sebagai barometer kualifikasi peserta didik. Tetapi, bukanlah satu-satunya tujuan pokok.

Oleh sebab itu, yang menjadi tujuan sejatinya tidak lain adalah sistem terapan dari pengetahuan itu sendiri. Ilmu tidak hanya dipandang sebuah ritual pikiran melainkan sebagai saran untuk mendekonstruksi tingkah laku.

Akhirnya kita bisa mengambil kesimpulan antara ilmu dan usaha kontekstualisasi adalah hal sepaket. Ini menarik musabab detik ini kita telah kebanjiran pengetahuan.

Ruang digital yang terbuka dengan segala tetek bengeknya memicu banjirnya pengetahuan. Ia tidak hanya sebagai sesuatu yang di dapat di ruang akademis—umpama sekolah dan kampus—tetapi juga di luar itu.

***

Klasifikasi yang jelas antara tujuan pokok dan hal-hal yang instrumental memang harus diperjelas. Tujuan-tujuan pokok seseorang mencari ilmu atau wawasan harus kembali diperjelas.

Mengutip Ulil abshar Abdalla dalam kajian tematik Ihya’ Ulumiddin, mencari wawasan bukan hanya sebagai suatu kerja intelektual. Ia bahkan mewanti-wanti agar wawasan dibersihkan dari tujuan-tujuan duniawi.

Dengan bahasa yang lebih kasar, tujuan wawasan bukan hanya untuk kenaikan pangkat atau tujuan senada. Bagi Ulil, tentu juga bagi al-Ghazali, hal tersebut hendaknya diarahkan kepada tujuan-tujuan ukhrawi.

Lalu, apakah hal-hal yang tujuannya bersifat duniawi tersebut tidak boleh? Tentu boleh, tetapi bukan tujuan pokok. Kembali lagi ke muka, tujuan pokok dari pengetahun tidak hanya terkait dengan hal-hal pragmatis.

Lebih jauh, ia seyogianya berdampak terhadap tingkah laku dari manusia yang memiliki wawasan. Itulah mengapa saya garis bawahi antara wawasan dan etika dari orang yang berpengetahuan penting diulik.

***

Rasa-rasanya memang benar, jika hari ini kita hampir alpa terhadap hal tersebut. Wawasan hanya diletakkan sebagai kegiatan yang hanya berurusan dengan pikiran—tidak lebih.

Di ladang berupa media sosial, hal itu akan marak kita jumpai. Seorang yang mengklaim dirinya berilmu seringkali bertingkah hal-hal yang kontranaratif dengan ilmunya.

Tentu sangat disayangkan karena hal demikian memberi gambaran bahwa pengetahun yang dimilikinya tidak berada pada tujuan pokok. Sementara, sistem nilai di lembaga akademis hanya terbatas menghitung hasil dari yang empiris.

Ia hanya dapat menghitung hasil dari apa-apa yang telah diujikan, tidak dengan yang diimplementasikan. Hemat saya, ini juga merupakan salah satu sebab mengapa orang yang punya wawasan alpa untuk menerpakan apa yang ada di tempurung kepalanya. Satu paket antara pengetahuan dan tingkah laku orangnya adalah hal yang tidak bisa terlepas.

Setidaknya begitu yang dapat kita pahami hari ini. Antara orang yang punya ilmu dan gerak-geriknya harus selaras. Kesadaran akan hal ini penting agar kita tidak terlampau jauh memberi sekat antara keduanya.

***

Disadari atau tidak, sekat antara pengetahuan dan etika pengetahuan pelan-pelan mulai terbangun—atau mungkin telah berdiri kokoh. Tugas kita adalah merobohkan kembali tabir tersebut.

Langkah yang paling mungkin untuk mencapai itu semua bisa dimulai dari tenaga pendidik. Idealnya mungkin tenaga pendidik kembali mengingatkan antara wawasan dan tahapan aplikatifnya harus terus bergandengan.

Serta memberi pandangan bahwa nilai bukanlah satu-satunya tujuan pokok dalam mencari wawasan. Sebab, wawasan yang ideal hanyalah pengetahuan yang dapat merubah orang yang mengetahuinya.

Narasi-narasi yang bebas dan memisahkan antara pengetahuan dan etika orang yang punya pengetahuan harus segera mendapat wacana tandingan. Kecenderungan yang berkembang dalam tahap pemisahan antara kedua hal tersebut setidaknya mesti dikritik habis.

Ini adalah sebuah upaya agar wacana tersebut lama-lama tidak menjadi domain public. Seolah-olah pengetahuan memang tidak punya ikatan intim dengan etika pengetahuan.

M Rofqil Bazikh

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga dan bermukim di Garawiksa Institute Yogyakarta. Menulis di berbagai media cetak dan online. Bisa dijumpai di surel [email protected]

Terkait

Leave a Reply