Pengertian Ijtihad dan 3 Model Ijtihad Awal

 Pengertian Ijtihad dan 3 Model Ijtihad Awal

Adz-Dzahabi sebut di masanya tidak ada lagi mujtahid (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Secara leksikal, ijtihad biasa dimaknai sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk menemukan produk dari sumber hukum. Biasanya kata ini dikonfrontasikan dengan taklid yang berarti menerima perkataan seseorang tetapi tidak paham dari mana asalnya.

Dalam artian, menerima sebuah produk hukum tetapi tidak tahu dari mana ia didapat. Kedua hal ini seringkali dikonfrontasikan oleh beberapa orang yang menaruh perhatian di dalam hukum Islam.

Orang yang semangat ijtihadnya menggebu akan mengesampingkan taklid. Sedang orang yang masih memegang bertaklid—bahkan dengan kedok merawat tradisi—justru sering menegasi ijtihad. Inilah ilustrasi tentang problem yang dihadapi kita hari ini di dalam hukum Islam.

Sejujurnya, alangkah lebih menarik justru jika kita berani melihat bagaimana dinamika ijtihad itu sendiri. Ijtihad sebagaimana yang kita pahami sejujurnya mempunyai model tersendiri di fase awal.

Tidak hanya ijtihad, hukum Islam sendiri juga mengalami dinamikanya sendiri. Klasifikasi di dalam ijtihad fase awal dapat dikelompokkan ke dalam tiga entias; ra’yu, qiyas, dan istihsan.

Ketiga hal inilah yang dalam fase ijtihad awal menjadi model penalaran mujtahid. Tetapi kemudian mulai bermetamorfosa hingga saat ini. Untuk lebih memahami lebih lanjut, alangkah menarik jika satu persatu dari 3 entitas tersebut diuraikan.

1. Ra’yu

Secara leksikal berarti pendapat dan pertimbangan, namun orang-orang Arab sering menggunakan istilah ini bagi pendapat dan pertimbangan yang baik dalam menangani suatu urusan. Seseorang yang mempunyai mental dan pertimbangan yang matang dianggap sebagai dzu al-ra’y.

Ini sekaligus menegaskan bahwa ra’yu sendiri bukan hanya pandangan yang sewenang-wenang. Meski ia menjadikan akal sebagai basis utama analisis, tetapi tidak mengesampingka kompetensi.

Telah kita pahami salah seorang yang dicap sebagai ahl-ra’y adalah Imam Abi Hanifah. Salah satu diskursus yang sering mewarnai kajian dalam hukum Islam yakni ihwal ahl-ra’y dan ahl-hadits.

Jika yang pertama berbasis di Iraq—secara spesifik Kufah, maka yang kedua di basisnya di Hijaz secara khusus Madinah. Di Madinah inilah kelak akan tumbuh salah seorang sekuel dari Abi Hanifah, yakni Imam Malik.

Namun, nama yang terakhir inilah yang masuk ke dalam kelompok ahl-hadits. Kedua orang tersebut juga merupakan guru dari Imam as-Syafii.

2. Qiyas

Sanad keguruan terhadap Imam Abi Hanifah lewat perantara as-Syaibani(murid Abi Hanifah), musabab Imam Hanifah mangkat bersama dengan lahirnya Imam as-Syafii. Itulah yang dimaksud sebagai ra’yu, yakni salah satu bentuk yang menggunakan akal sebagai basisnya.

Sedang di seberangnya ada ahl-hadits yang lebih berbasis pada teks. Ra’yu inilah yang selanjutnya dalam masa Imam as-Syafii disistematiskan ke dalam bentuk qiyas(analogi).

Meski qiyas dapat ditemukan pada generasi sahabat, namun sistematisasi yang ketat justru terjadi pada masa Imam as-Syafii. Barangkali dengan inilah, ia sering diklaim sebagai orang yang menyintesa antara ahl-ra’y dan ahl-hadits.

Qiyas tidak sepenuhnya bergantung kepada akal tetapi mencari suatu sistem bernama illat untuk menyocokkan kedua kasus. Sebagian hukum asal ia menggunakan apa yang telah ditetapkan sebelumnya, untuk menghasilkan hukum cabang(furu’).

3. Istihsan

Pada bagian yang ketiga adalah istihsan yang dinggap sebagai sebuah penalaran dari ra’yu. Pada fase awal ra’yu juga sering disamakan dengan istihsan, atau katakanlah hal yang terakhir adalah bentuk lain ra’yu.

Bahkan, Ahmad Hasan(pemikir Pakistan), mengartikan istihsan sebagai pilihan tak berlasan yakni, sebuah perpindahan dari qiyas dengan penalaran yang ketat kepada penalaran mutlak nonanalogis. Ahmad Hasan bahkan menulis, bahwa seorang ahli hukum terkadang dipaksa untuk melepaskan diri dari suatu aturan yang mengikat.

Hal ini lantaran pertimbangan tertentu yang serius. Istihsan inilah juga menjadi ciri khas yang dipakai oleh Imam Abi Hanifah. Istihsan ini juga menjadi salah satu sumber hukum(mashadir ahkam) dari mazhab Hanafi, namun berada pada taraf yang diperselisihkan(mukhtalaf fih) di antara imam lain.

Itulah tiga konsep dalam ijtihad Islam awal, kemudian bermetamorfosa hingga saat ini. Yang harus kita pahami bahwa sesungguhnya kontestasi penalaran mengalami seleksi yang ketat. Pada akhirnya alam yang menyeleksa dan yang paling sesuai dengan kebutuhan. Betapapun bedanya dalam penalaran, tetapi tujuannya tetap ‘menemukan maksud Tuhan’.

M Rofqil Bazikh

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga dan bermukim di Garawiksa Institute Yogyakarta. Menulis di berbagai media cetak dan online. Bisa dijumpai di surel [email protected]

Terkait

Leave a Reply