Pangkal Kelalaian dan Kemasiatan Adalah Merasa Puas Diri

 Pangkal Kelalaian dan Kemasiatan Adalah Merasa Puas Diri

Merasa Puas Diri, Hati-Hati Terjerumus Pada Kelalaian dan Kemaksiatan

Oleh: Prof. H. Ahmad Thib Raya

HIDAYATUNA.COM – Ibn Atha’illah ini berkata:  “Pangkal segala maksiat, kelalaian dan syahwat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Pangkal segala ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tidak puas terhadap keadaan diri sendiri.”   Alangkah dan dalam kalimat hikmah yang disampaikan oleh Ibnu Atha’illah, dalam pesan hikmahnya yang ke-35 itu, yang tertuang di dalam bukunya, Terjemah al-Hikam, hal. 56.

Maksiat adalah tindakan penentangan terhadap perintah dan larangan Allah. Engkau meninggalkan perintah-Nya adalah maksiat. Engkau melakukan larangannya adalah maksiat. Jika engkau melakukan maksiat, maka engkau akan jauh dari Allah. Bertambah banyak maksiatmu terhadap Tuhan, maka bertambah jauh engkau dari-Nya. Maksiat menyenangkan dan memuaskan dirimu. Lawan dari maksiat adalah ketaatan. Ketaatanmu adalah kepatuhanmu dalam melaksanakan semua perintah Allah dan kepatuhanmu meninggalkan semua larangan Allah

Kelalaian adalah keadaan lupanya hati akan adanya Allah. Hati yang lalai adalah hati yang lupa, hati yang tidak waspada, dan hati yang tidak sadar akan kehadiran Allah.  Kelalaianmu terhadap Tuhan menyebabkan kamu lupa Tuhan. Bertambah banyak kamu lalai terhadap Tuhan, maka bertambah banyak engkau melupakan Tuhan. Padamkan kelalaianmu dengan mengingat Tuhan. Tuhan ada dan sangat dekat denganmu. Bahkan, dekatnya Tuhan kepadamu lebih dekat dari pada urat lehermu.  Kelalaian menyenangkan dan memuaskan dirimu. Lawan dari kelalaian adalah kesadaran. Kesadaranmu membuat engkau mengingat bahwa Allah itu ada dan dekat denganmu.

Syahwat adalah keinginan terhadap sesuatu yang ada di dunia ini yang menyibukkan dirimu dan membuatmu lupa akan Allah. Syahwatmu terhadap dunia ini tidak akan pernah habis selama nyawa masih dikandung badan. Syahwatmu di dalam hatimu lebih luas dan lebih besar daripada hatimu. Kesibukan dirimu memenuhi syahwatmu menyebabkan engkau lupa akan Allah. Ketika hatimu penuh dengan syahwat, maka hatimu tidak pernah bisa mengingat Tuhanmu. Syahwat menyenangkan dan memuaskan diri. Lawan dari syahwat itu kesucian. Kesucianmu dari segala syahwat dunia akan menyebabkan hatimu suci. Kalau hatimu sudah suci dari syahwat dunia, maka yang diinginkan hatimu hanya dengan Allah.

Ibn Atha’illah mengatakan bahwa maksiatmu, kelalaianmu, dan syahwatmu bersumber dari sikap puasmu terhadap keadaan dirimu sendiri. Sebaliknya ketaatanmu, kesadaranmu, dan kesucianmu bersumber dari sikap tidak puasmu terhadap keadaan dirimu sendiri.  Artinya: Hal-hal yang menyenangkan dirimu memudahkan kamu maksiat, lalai dan senang terhadap dunia. Hal-hal yang tidak menyenangkan (menyusahkanmu) membawa kamu kepada ketaatan, kesadaran, dan kesucian dirimu. Ingatlah firman Tuhan: “Apabila Kami memberikan kenikmatan kepada manusia, mereka menyimpang dan berpaling. Akan tetapi, jika mereka ditimpa kemalangan, kesusahan, doa dan zikirnya panjang.”


Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Redaksi

Terkait

Leave a Reply