Pandangan Islam tentang Evolusi Manusia

 Pandangan Islam tentang Evolusi Manusia

Dalam pandangan Islam, kehidupan manusia tidaklah sesesuai dengan teori Darwin. Lantas bagaimana pandangan Islam tentang evolusi manusia.

HIDAYATUNA.COM – Ada dua macam uraian Al-Quran tentang kejadian manusia. Pertama uraian tentang kejadian Adam, seperti dalam surah al-Baqarah ayat 30 :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Kedua tentang reproduksi manusia (kejadian anak cucu Adam) seperti dalam surah al-Mukminun ayat 12-14 :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا ٱلنُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا ٱلْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا ٱلْمُضْغَةَ عِظَٰمًا فَكَسَوْنَا ٱلْعِظَٰمَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَٰهُ خَلْقًا ءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ

Ketika berbicara tentang kejadian Adam, Allah SWT menginformasikan kepada malaikat : “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah, Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya” (QS. Shad : 71-71).

Ayat ini seperti yang kita baca, demikian pula ayat-ayat lain yang berbicara tentang kejadian Adam tidak menguraikan kecuali proses awal dari tahap-tahap kejadiannya (katakanlah tahap A, yaitu tanah dan tahap akhirnya katakanlah Z, yaitu ditiupkannya ruh). Nah, apa yang terjadi antara A dan Z tidak dijelaskan oleh al-Quran.

Para ulama Islam sebelum kelahiran Darwin (1804-1872 M) pernah mengemukakan adanya proses panjang yang dialami makhluk tuhan hingga mencapai tingkat binatang cerdas (manusia) atau makhluk sosial yang diberi amanah kekhalifahan di bumi ini.

Proses panjang itu walapun dengan perincian yang berbeda-beda dikemukakan oleh para filosof Islam seperti al-Farabi, al-Quzwaini dan kelompok Ikhwan ash-Shafa yang berbicara tentang periode-periode penciptaan. Bahkan secara tegas Muhammad bin Syakir Bin ‘Abd ar-Rahman al-Katabi (1287-1363 M) menjelaskan bahwa “kera” merupakan periode makhluk sbelum manusia. Ibnu Khaldun (1332-1406 M) juga mengisyaratkan hal yang sama.

Memang, jika seseorang ingin menguatkan teori Darwin melalui ayat-ayat al-Quran, dia dapat saja menunjuk firman Allah SWT dalam surah an-Nuh ayat 14 : وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا “Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.”

Akan tetapi, ini merupakan perkiraan semata, sedangkan kita tidak ingin mengatasnamakan al-Quran untuk menguatkan perincian suatu teori ilmiah yang belum mapan, apalagi pandangan tentang asal-usul manusia sebagaimana diungkapkan oleh Darwin telah dikritik oleh tidak sedikit ilmuan.

Kesimpulannya adalah bahwa al-Quran dan Hadist Shahih Nabi SAW tidak menjelaskan tentang umur alam raya ini, dan tidak juga menjelaskan perincian kejadian “manusia pertama”. Bagi yang ingin menguatkan teori Darwin atau menolaknya silahkan menerima atau menolaknya atas nama penelitian ilmiah, bukan atas nama al-Quran.

Oleh karena itu, kitab suci ini hanya menjelaskan periode pertama (tanah) dan periode akhir dari kejadian manusia. Oleh karena itu pula jika terbukti secara ilmiah, serta meyakinkan mengenai keberadaan teori Darwin atau teori lainnya tentang proses kejadian menusia pertama, sedikit pun hal tersebut tidak bertentangan dengan salah satu ayat al-Quran, karena al-Quran tidak pernah memerinci proses tersebut dan memang tidak semua persoalan diperinci didalamnya. Wallahu ‘Alam

Sumber : M. Quraish Shihab menjawab 1001 Soal Keislaman yang patut anda ketahui

Redaksi

Terkait

Leave a Reply