Niat Puasa Ramadan dan Maksud Tabyit al-Niat 

 Niat Puasa Ramadan dan Maksud Tabyit al-Niat 

Hadis keutamaan Ramadan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Di antara satu dari tiga rukun puasa versi kitab Safinatun Najah adalah niat. Niat tempatnya adalah di hati, sedangkan melafalkan niat hukumnya adalah sunnah.

Ada perbedaan mendasar antara niat puasa wajib dengan puasa sunnah. Di antaranya adalah persoalan tabyit al-niyyat. Niat berpuasa harus dilakukan pada setiap malam sebelum terbitnya fajar (tabyit al-niat).

Tabyit al-niat adalah niat berpuasa antara terbenamnya matahari dan terbitnya fajar (waktu subuh). Dengan demikian, orang yang berpuasa diwajibkan niat dimulai dari terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar.

Adapun puasa sunnah, tidak ada kewajiban untuk itu. Oleh karena itu, seseorang yang melakukan puasa sunnah dibolehkan (sah) berniat puasa pada siang hari di hari itu asal belum zawal (matahari condong ke barat).

Sedangkan orang tersebut belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa sebelum niat seperti makan, bersetubuh, melakukan kekufuran, haid, nifas dan gila. Jika ia telah melakukan hal-hal tersebut sebelum berniat, maka puasa sunnahnya tidak sah. Syaikh Nawawi menjelaskan:

(قَوْلُهُ فِي الْفَرْضِ) خَرَجَ بِهِ النَّفْلُ فَيَكْفِي فِيْهِ نِيَّةٌ بِالنَّهَارِ قَبْلَ الزَّوَالِ بِشَرْطِ انْتِفَاءِ الْمُنَافِي قَبْلَ النِّيَّةِ كَأَكْلٍ وَجِمَاعٍ وَكُفْرٍ وَحَيْضٍ وَنِفَاسٍ وَجُنُوْنٍ وَإِلاَّ فَلاَ يَصِحُّ الص��َوْمُ

Kata “al-fardu” mengecualikan puasa sunnah. Niat puasa sunnah boleh (sah) dilakukan pada siang hari sebelum matahari condong ke Barat dan dengan syarat seseorang belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sebelum niat seperti makan, bersetubuh, kufur, haid, nifas dan gila. Jika ia telah melakukannya, maka puasa sunnahnya tidak sah. (Syaikh Nawawi, Kasyifatus Saja, hlm. 457)

Niat Puasa Sebulan Penuh; Solusi dan Alternatif

Imam al-Zayyadi menegaskan, jika seseorang berniat puasa seluruhnya (jami’a syahri ramadhan) di malam pertama bulan Ramadan, maka niat tersebut dianggap tidak cukup (lam yakfi).

Namun untuk berjaga-jaga ketika suatu saat seseorang lupa niat, seyogyanya ia berniat puasa seluruhnya di awal malam bulan Ramadhan. Hal ini bertaqlid pada imam Malik yang membolehkan niat puasa hanya di permulaan saja.

Walhasil, seseorang yang berniat puasa Ramadan boleh melakukannya setelah salat maghrib, setelah salat tarawih atau pada pertengahan malam, selagi belum masuk waktu subuh. Jika waktu subuh telah masuk, sementara seseorang lupa tidak niat, maka puasanya tidak sah, namun ia tetap berkewajiban untuk tidak makan dan minum (imsak) sampai masuknya waktu berbuka. (Syaikh Nawawi, Kasyifatus Saja, hlm. 468)

Kemudian dawuh imam al-Zayyadi dipahami bahwa dengan niat taqlid kepada Imam Malik, bukan berarti kita tidak perlu lagi berniat setiap malam. Akan tetapi hal itu hanya dijadikan solusi dan alternatif jika di antara malam-malam selama bulan Ramadan, kita benar-benar lupa niat.

Jadi, selain niat puasa seluruhnya, kita wajib berniat setiap malam sebagaimana tradisi yang telah berjalan (setelah salat tarawih). Keterangan seperti ini juga terdapat dalam kitab Sabil al-Huda karya K.H. Ahmad Idris Marzuqi Lirboyo.

Lafaz Niat Puasa dan Komponen-Komponennya

Niat puasa Ramadhan minimal adalah نَوَيْتُ الصَّوْمَ غَدًا مِنْ رَمَضَانَ (Saya berniat puasa Ramadhan untuk besok hari). Penyebutan kata “ramadhan” menjadi syarat sahnya niat puasa wajib.

Tujuannya untuk membedakannya dengan puasa sunnah. Sedangkan penambahan kata “ghadan” bertujuan agar niatnya menjadi lebih sempurna (kana akmal).

Sedangkan penyebutan lafaz فرضا، أداء، هذه السنة، لله تعالى hukumnya adalah sunnah. Artinya, meski tanpa menggunakan keempat lafaz tersebut, puasa tetap sah.

Khusus kata “al-sannah”, jika seseorang men-ta’yin-nya (menyebut secara khusus) dan ternyata salah (menyebut tahun depan. Padahal harusnya tahun ini), dan ia melakukannya dengan sengaja dan tahu hukumnya, maka puasanya tidak sah karena dianggap tala’ub (bercanda).

Sebaliknya, jika ia melakukannya karena lupa atau atau tidak mengetahui hukumnya, maka puasanya tetap sah. Dalam hal ini, Syaikh Nawawi berkata:

وَلاَ يُشْتَرَطُ اَلتَّعَرُّضُ لِلْفَرْضِيَّةِ وَلاَ الأَدَاءُ وَلاَ الْإِضَافَةُ إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَلاَ تَعْيِيْنُ السَّنَةِ. فَإِنْ عَيَّنَهَا وَأَخْطَأَ، فَإِنْ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا لَمْ يَصِحَّ لِتَلاَعُبِهِ، وَإِنْ كَانَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلاً صَحَّ.

Tidak disyaratkan (dalam niat berpuasa) menyebut kata fardhan, ada’an, lillahi ta’ala dan menyebut kata sanah. Bahkan jika seseorang men-ta’yin kata sanah (tahun) dan ternyata salah, maka diperinci sebagai berikut; jika ia sengaja dan tahu hukumnya, maka puasanya tidak sah. Sebaliknya, jika ia lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka puasanya tetap sah. (Syaikh al-Nawawi, Kasyifatus Saja, hlm, 459)

Lafaz Niat yang Lengkap dan Sempurna

Agar menghasilkan niat dan pahala yang sempurna, maka seseorang dianjurkan niat dengan kalimat yang sempurna pula. Redaksi niat puasa yang lengkap adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ

Atau sebagaimana niat yang biasa kita baca:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى

Cara membacanya dengan mengidhafahkan lafaz “ramadhan” kepada isim isyarah (hadzihi), agar idhafah yang terjadi bersifat ta’yin (khusus) karena yang dimaksud adalah ramadhan tahun ini. Seseorang juga disunnahkan menambahkan kalimat إيمانا واحتسابا setelah lafaz هذِهِ السَّنَةِ dan sebelum lafaz للهِ تَعَالَى. Sehingga redaksinya berbunyi:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا فَرْضًا للهِ تَعَالَى

Saya berniat puasa esok hari untuk menjalankan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini dengan keimanan dan mencari ridha-Nya fardhu karena Allah

Abdul Wadud Kasful Humam

Dosen di STAI Al-Anwar Sarang-Rembang

Terkait

Leave a Reply