Muslim India Ajukan Petisi “Politik Buldoser” ke Pengadilan Tinggi

 Muslim India Ajukan Petisi “Politik Buldoser” ke Pengadilan Tinggi

Muslim 102 Tahun Galang Dana untuk Pengungsi Ukraina (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, India – Kelompok Muslim India mengajukan petisi ke pengadilan tinggi negara setelah adanya praktik politik buldoser. Partai Bharatiya Janata (BJP) yang disinyalir terlibat dalam praktik politik buldoser ini diminta agar tidak menghancurkan rumah-rumah Muslim.

Partai sayap kanan Hindu yang berkuasa itu disinyalir berpartisipasi dalam insiden kekerasan kepada Muslim di negara bagian itu.

Jamiat Ulama-e-Hind, salah satu organisasi terkemuka ulama Islam milik sekolah pemikiran Deobandi di India mengelurakan sebuah pernyataan. Pihaknya mengatakan, organisasi tersebut telah mengajukan petisi di pengadilan.

Mereka “menentang politik berbahaya buldoser yang telah mulai menghancurkan minoritas, terutama Muslim. Dengan kedok pencegahan kejahatan di negara-negara bagian yang diperintah BJP.”

Keputusan itu diambil setelah pemerintah di negara bagian Madhya Pradesh menghancurkan puluhan rumah dan toko milik banyak Muslim. Muslim setempat dituduh melempari batu pada prosesi Hindu, dan tindakan serupa juga dilaporkan di negara bagian Gujarat.

Dalam pembelaannya, Jamiat Ulama-e-Hind telah mendesak pengadilan untuk mengeluarkan instruksi.

“Para menteri, legislator, dan siapa pun yang tidak terkait dengan penyelidikan kriminal harus menahan diri dari membagi tanggung jawab pidana. Mengenai tindakan kriminal di depan umum atau melalui komunikasi resmi apa pun sampai keputusan oleh pengadilan pidana,” bunyi intruksi tersebut.

Jamiat Ulama-e-Hind juga menyatakan telah mengajukan petisi secara online. Permintaan untuk sidang awal petisi “dapat diajukan kepada Ketua Mahkamah Agung India dalam beberapa hari ke depan.”

Para pejabat pun segera mengklaim bahwa mereka telah mengidentifikasi para perusuh. Menanggapi “kerusakan properti pribadi atau publik akan dipulihkan.”

Pihak berwenang kemudian melanjutkan untuk menghancurkan beberapa properti dan rumah. Kebanyakan dari mereka milik “keluarga Muslim yang kurang beruntung secara ekonomi.”

 

 

 

Sumber: TRT World/IQNA

Redaksi

Terkait

Leave a Reply