Mengenal Andi Baso Ali, Sosok Penting di Balik Islamisasi di Poso

 Mengenal Andi Baso Ali, Sosok Penting di Balik Islamisasi di Poso

Mengenal Andi Baso Ali, Sosok Penting di Balik Islamisasi di Poso

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Proses islamisasi di Poso, Sulawesi Tengah melibatkan banyak tokoh-tokoh penting dari berbagai wilayah Nusantara. Selain ada nama Syaikh Abdullah Raqi (abad ke-17) ulama asal Minangkabau dan Sayyid Idrus b. Salim al-Jufri (abad ke-20) ulama dari Palu, terdapat nama penting lain yakni Andi Baso Ali.

Jadi diskursus tentang masuknya Islam di Poso, sosok Andi Baso Ali memiliki pengarus besar terhadap proses islamisasi di kawasan tersebut. Lantas siapakah sosok Andi Baso Ali ini sesungguhnya?

Pakar filologi Islam dan dosen magister Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Ahmad Ginanjar Sya’ban menjelaskan bahwa sosok Andi Baso Ali merupakan sosok memiliki pengaruh besar dalam sejarah Islam Poso.

Ginanjar mengungkapkan Andi Baso Ali hidup pada akhir abad 19 M dan awal abad 20 M. Andi Baso Ali dicatat sebagai sosok seorang saudagar kaya yang berasal dari Kesultanan Luwuk di Palopo (Sulawesi Selatan).

“Ia (Andi Baso Ali) kemudian “membuka” kampung Mapane, mendirikan rumah besar dan masjid di sana. Makam Andi Baso Ali dan keluarganya pun terdapat di Mapane,” ungkap Ginanjar Sya’ban dalam ulasannya yang diunggah di akun Facebook pribadinya, dikutip Ahad (9/8/2020).

Bahkan hingga kini, keberadaan rumah, masjid dan makam Andi Baso Ali masih dapat diziarahi banyak orang. Ginanjar menjelaskan, masjid tersebut berbahan utama kayu berukir, berukuran tidak terlalu besar.

“Dalam catatan sejarahnya, masjid ini didirikan pada tahun 1923. Menurut tradisi masyarakat setempat, masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Nunu. Hal ini karena di dekat masjid pada saat itu terdapat pohon “Nunu”, yang dalam bahasa Poso berarti “Beringin”,” jelasnya.

Selain itu lanjut Ginanjar ada hal menarik dari sosok Andi Baso Ali. Ia mengatakan di kampung Mapane inilah Abdi Baso Ali berjumpa dengan sosok Albert Christian Kruyt, seorang tokoh penginjil Belanda yang tiba di Mapane pada tahun 1892.

“Saat tiba di Mapane, Kruyt diterima dengan penuh hormat dan hangat oleh Andi Baso Ali. Tak hanya itu, Andi Baso Ali bahkan menemani Kruyt melakukan perjalanan ke wilayah pegunungan Poso untuk bertemu dengan warga pedalaman,” ujarnya.

Saat itu kata Ginanjar, ada semacam “kesepakatan” antara Andi Baso Ali dan Kruyt, bahwa misi kristenisasi yang dilakukan oleh Kruyt hendaknya tidak dilakukan di kawasan pesisir pantai, karena penduduk Poso di wilayah pesisir pantai telah memeluk agama Islam.

“Dakwah kristenisasi Kruyt pun akhirnya menyisir wilayah pegunungan,” tandasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply