Meneladani Akhlak Terpuji Para Petani

 Meneladani Akhlak Terpuji Para Petani

Mari kita meneladani akhlak terpuji para petani. Dalam kehidupan ini banyak sekali keteladan terpuji dari aklak para petani.

Oleh: Sofia Ainun Nafis*

HIDAYATUNA.COM – Indoneisa terkenal dengan negara agraris. Artinya penduduk Indonesia kebanyakan adalah seorang petani. Ketersediaan pangan ditengah pandemi Covid-19 tidak dirisaukan pemerintah. Karena musim panen baru saja berlalu. Dan itu berarti lumbung padi Indonesia baru juga mengembung. Tentu saja dalam hal ini petani adalah orang yang paling berjasa. Bukan hanya petugas tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan, petani pun mengambil bagian.

Meskipun pemerintah sering gembar gembor menganjurkan warga untuk di rumah saja, namun lain cerita dengan petani jelas tidak bisa. Para petani yang tersebar di desa-desa masih melakukan aktifitas seperti biasa. Mencangkul, panen padi, tanam padi, mopok galeng hingga membajak sawah. Corona seolah tak dianggap musuh berbahaya olehnya, lebih lagi tidak ada pilihan lain. Padahal informasi update pasien positif corona yang telah dua ribuan baru saja ia dengar via televisi rumah. Niat untuk meneruskan pekerjaan di sawah maupun ladang tidak surut.

Bertani merupaka pekerjaan yang sangat berat, berat dalam fisik maupun materi, dan itu tak bisa disangkal. Meskipun tersengat panas matahari juga tersiram derasnya hujan, para petani tetap berpendirian teguh dalam merawat tanamannya. Dari sini bisa kita tarik benang merah jika petani mengajarkan kesabaran yang tiada batas. Sejalan dengan konsep sabar yang dicontohkan Rasulullah Saw kepada umatnya.

Tentu kita tak asing lagi dengan kisah beliau dilempari batu oleh penduduk Thaif saat beliau berdakwah di sana. Rasuullah dihina, diejek hingga dilempari batu dan menyebabkan Rasul luka parah disekujur tubuh. Namun, apakah Rasul membalasnya? Tidak! sama sekali tidak. Bahkan Rasul mendoakan penduduk Thaif. Begitulah Rasul mengajarkan konsep sabar yang tiada batasnya kepada kaumnya.

Proses bercocok tanam hinngga menghasilkan beras yang menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia mempunyai proses sangat panjang. Mulai dari menyemai bibit padi membutuhkan setidaknya sehari semalam perendaman, lalu dibiarkan selama dua hari untuk proses perkecambahan. Baru setelah bibit padi mulai berkecambah, bibit padi mulai disebar.         

Sambil menunggu bibit padi siap tanam, petani tak akan berpangku tangan. Para petani mempersiapkan lahan yang akan digunakan untuk menanam padi. Persiapan dilakukan sedemikain rupa agar kualitas padi baik, tentu saja buntut panjangnya berasnya juga baik. Otomatis kualitas bahan pangan masyarakat juga baik. lagi-lagi petani mengajarkan akhlak baik pada manusia, yakni giat bekerja dan tidak bermalas malasan saja.

Setelah kurang lebih 3-4 minggu maka bibit padi siap ditanam. Dalam tradisi Jawa saat padi telah selesai ditanam maka di pojok sawah ditaruh cok bakal dan petani mengadakan wiwid. Cok bakal adalah semacam sesajen yang berisi rempah-rempah, telur dan uang. Sedang wiwid adalah hajatan kecil-kecilan yang diantarkan pada para tetangga sekitar. Substansi dari cok bakal maupun wiwid adalah sedekah. Bisa dikatakan keduanya adalah ‘rayuan’ kepada Allah SWT agar tanamannya kelak baik-baik saja hingga panen tiba. Tentu saja dengan niat semua pekerjaan diserahkan pada Sang Pencipta. Dalam Islam karakter petani yang seperti ini dengan istilah lain adalah Tawakal.

Dalam masa pertumbuhan padi kesabaran petani kembali diuji. Karena disamping padi beranjak tumbuh juga dibarengi rumput yang tak kalah subur. Petani akan mencabutinya dengan tekun, ulet dan sabar.

Melihat padi yang menghijau sejauh mata memandang hingga berisi padi barangkali  menjadi kebahagiaan tersendiri di sudut hati petani. Dan tentu saja ia akan mengucap syukur tak terkira kepada Sang Maha Kuasa dalam sujud-sujud panjangnya. Sudah pasti petani mengajarkan kembali tentang akhlak terpuji, yakni bersyukur atas kenikmatan yang didapatkan. Allah sudah menjelaskan dalam surat Ibrahim ayat 7. Bahwa siapapun yang bersyukur kepada Allah, niscaya Allah akan menambah kenikmatan. Sebaliknya, siapapun yang kufur maka Allah akan mengurang nikmat.

Filosofi padi semakin berisi semakin merunduk boleh jadi benar-benar dipegang oleh para petani, pasalnya tiada kesombongan secuilpun jika panen melimpah menghampiri. Jikalau panen tak semelimpah sawah tetangga sifat iri dengki tak jadi risaunya. Tetap bersyukur atas karunia yang diberi Allah SWT. Bertani yang dianggap pekerjaan remeh ternyata malah mengajarkan manusia mendekat kepada Sang Khalik. Maka benar saja jika konsep IKIGAI –konsep menuju hidup bahagia ala orang jepang- mencontohkan para petanilah yang mencapai kesempurnaan dengan lengkap langkah konsep tersebut hingga menggapai kebahagiaan yang hakiki.

Mahasiswa STAI Khozinatul Ulum Blora

Redaksi

Terkait

Leave a Reply