Mencintai Saudara adalah Bagian dari Bentuk Iman

 Mencintai Saudara adalah Bagian dari Bentuk Iman

HIDAYATUNA.COM – Salah satu aspek kajian terpenting dalam sejumlah besar kandungan Al-Quran dan Hadis Nabi adalah persoalan Iman.  Namun iman (kepercayaan) sering kali diletakkan dalam ruang ruang transendent dan tidak membumi. Manusia lumrahnya memahami iman hanya sebatas relasi vertikal antara manusia dan sang penciptannya. iman dipandang sebatas persoalan teologis kepada Allah, Rasul, kitab-kitab, malaikat, hari kiamat, dan takdir.

Pemahaman seperti ini memberi semacam jurang pemisah antara hubungan Tuhan dengan manusia, dan hubungan manusia dengan tuhan. Padahal dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah adalah disebutkan iman memiliki cabang lebih dari 70 turunan. Yang tertinggi adalah ucapan syahadat “Tiada Tuhan selain Allah”, dan yang peling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di jalan, bahkan rasa malu adalah bagian dari turunan iman.

Persoalan iman nampaknya dipahami hanya berhenti pada ranah teologis (Rukun Iman 6) seperti yang dipahami selama ini oleh sebagian besar umat Islam. Padahal Al-Qur’an dan hadis-hadis tentang iman menyatakan secara tegas bahwa iman selalu dikaitkan dengan amal saleh dan akhlak. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam surah al-Kahfi ayat  30.

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

Artinya: Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Barynya membagi iman dalam 3 cabang. Yaitu; perbuatan hati, perbuatan lisan dan perbuatan jasmani. Di setiap tiga cabang ini memiliki turunanya sendiri-sendiri. Seperti perbuatan jasmani, dibaginya lagi menjadi sub cabang, yaitu perbuatan jasmani yang berkenaan dengan badan, dan perbuatan jasmani yang berkenaan dengan orang lain.

Dalam Jami’ Shahih, Imam Bukhari menghimpun hadits-hadits yang berkenan dengan iman, salah satunya adalah “mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri adalah bagian dari bentuk iman”

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Anas RA dari Nabi SAWbersabda, “Tidaksempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Makna hadits ini menurut Ibnu Hajar adalah.  

Dalam hadits riwayat Ibnu Hibban dijelaskan لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ الإِيْمَانَ    (seseorang tidak akan mencapai hakikat keimanan). maksudnya adalah kesempurnaan iman. Tetapi orang yang tidak melakukan apa yang ada dalam hadits ini, dia tidak menjadi kafir, kata مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (sebagaimana mencintai diri sendiri) dari kabaikan. Kata khair (kebaikan) mencakup semua ketaatan dan segala hal yang dibolehkan di dunia dan akhirat, sedangkan hal-hal yang dilarang oleh agama tidak termasuk dalam kategori al-khair. Adapun cinta adalah menginginkan sesuatu yang diyakini sebagai suatu kebaikan. Yang dimaksud dengan mencintai diri seadalah, mencintai diri dengan melakukan perbuatan yang baik-baik, jika mencintai diri sendiri ternyata cara memperlakukan dirinya buruk, maka itu dinamakan bukan mencintai tapi mencelakakan diri.

Imam Nawawi mengatakan, “Cinta adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang diinginkan. Sesuata yang dicintai tersebut dapat berupa sesuatu yang dapat diindera, seperti bentuk, atau dapat juga berupa perbuatan seperti kesempurnaan, keutaman, mengambil manfaat atau menolak bahaya. Kecenderungan di sini bersifat ikhtiyari (kebebasan), bukan bersifat alami atau paksaan. Maksud lain dari cinta di sini adalah senang jika saudaranya mendapatkan seperti apa yang dia dapatkan, baik dalam hal-hal yang bersifat indrawi atau maknawi.” Abu Zinad bin Siraj mengatakan, “Secara zhahir hadits ini menuntut kesamaan, sedang pada realitasnya menuntut pengutamaan, karena setiap orang senang jika ia lebih dari yang lainnya. Maka apabila dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, berarti ia temasuk orang-orang yang utama.”

Namun pendapat ini masih berpeluang untuk dikritik, karena maksudnya adalah menekankan untuk bersikap tawadhu ‘ (rendah hati), sehingga dia tidak senang untuk melebihi orang lain, karena hal ini menuntut adanya persamaan, sebagaimana firman Allah, “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.” Semua ini tidak akan sempurna kecuali dengan meninggalkan perbuatan dengki, iri, berlebihan, kecurangan dan lainnya yang termasuk dalam perangai buruk. Wallahu A’lam

Redaksi

Terkait

Leave a Reply