Memanfaatkan [Waktu] Sahur

 Memanfaatkan [Waktu] Sahur

Oleh: Muhammad Arifin. MA*

Kata tentu sedikit banyak sudah mengerti makna kata sahur. Ya, dalam bahasa Indonesia, kata “sahur” diartikan dengan ‘makan pada dini hari (disunahkan menjelang fajar sebelum subuh) bagi orang-orang yang akan menjalankan ibadah puasa’. Kata “sahur” ini kita serap dari bahasa Arab sahr atau sahar yang maknanya adalah ‘waktu pada akhir malam menjelang terbitnya fajar’. Karena itulah, makan yang kita lakukan pada waktu sebelum fajar itu disebut sahur.

Sahur adalah salah satu hal yang membedakan cara berpuasa umat Nabi Muhammad saw. dengan umat-umat sebelumnya. Ini kita pahami dari sabda Rasulullah saw. yang mengatakan, “Perbedaan antara puasa kita dengan puasa Ahl Kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah sahur.” (HR Muslim). Ini juga kita pahami dari adanya perintah anjuran Rasulullah saw. untuk bersahur, “Bersahurlah karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Soal puasa memang bukan soal kuat-kuatan. Meskipun kita kuat berpuasa tanpa makan sahur, misalnya, kita tetap dianjurkan untuk makan sahur. Di negara-negara yang memiliki empat musim, ada masa tertentu di mana waktu siang jauh lebih pendek dibandingkan dengan waktu malam. Dengan waktu puasa hanya sembilan jam atau kurang seperti yang terjadi di Chili, misalnya, sangat mungkin orang sanggup berpuasa tanpa harus makan sahur. Tetapi, walaupun begitu, umat Islam di sana tetap dianjurkan untuk makan sahur terutama untuk memperoleh keberkahan yang disampaikan oleh Rasulullah saw. pada hadis di atas.

Di sisi lain, kesunahan makan sahur juga dimaksudkan agar kita membiasakan diri bangun sebelum waktu Subuh. Dengan membiasakan makan sahur sebelum puasa, kita menjadi terbiasa bangun tidur sebelum waktu Subuh. Orang-orang sukses pada umumnya tidur lebih awal dan bangun lebih awal, bangun tidur sebelum waktu Subuh. Dengan memiliki kebiasaan bangun tidur sebelum Subuh, kita paling tidak sudah memiliki kebiasaan baik mengikuti jejak orang-orang sukses.

Hal itu wajar, karena waktu sahur itu juga merupakan waktu yang istimewa. Di antara kebiasaan baik orang-orang bertakwa adalah mereka tidur malamnya sedikit (menggunakan sebagian waktu malam untuk salat malam), dan membiasakan beristigfar pada waktu sahur, yakni saat-saat menjelang masuk waktu Subuh. Ini kita pahami dari firman Allah swt. yang maknanya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam (surga yang penuh) taman-taman dan mata air. (Di surga) mereka dapat mengambil apa saja yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam (waktu sahur) mereka memohon ampunan (kepada Allah). (QS al-Dzariyat [51]: 15-18).

Dari sini kita bisa mengerti mengapa ulama-ulama kita terdahulu menyisihkan waktu kurang lebih sepuluh menit sebelum azan Subuh sebagai tanda imsak. Itu bukan berarti bahwa setelah imsak kita sudah tidak boleh lagi makan minum, tetapi lebih sebagai peringatan untuk memanfaatkan waktu-waktu yang sangat berharga menjelang Subuh itu untuk memperbanyak istigfar. Manfaatkanlah sepuluh menit, dua puluh menit, menjelang azan Subuh untuk memperbanyak istigfar.

Begitu istimewanya waktu menjelang masuknya Subuh ini untuk beristigfar memohon ampun kepada Allah, sampai-sampai Nabi Ya’qub a.s. memanfaatkannya untuk memohon ampun untuk anak-anaknya. Mari kita baca surah Yusuf, kisah Nabi Yusuf a.s.

Singkat cerita, ketika baju Nabi Yusuf a.s. diusapkan ke wajah ayahnya (Nabi Ya’qub a.s.), sang ayah pun sembuh dari kebutaan dan kembali dapat melihat. Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. akhirnya menyesal atas kesalahannya, dan memhon kepada sang ayah untuk memohon ampun kepada Allah untuk mereka. Nabi Ya’qub pun berjanji akan memintakan ampun untuk mereka seperti disebut pada ayat ini: Dia (Ya’qub) berkata, “Aku akan memohon ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yusuf [12]: 98).

Disebutkan bahwa permohonan ampun atau istigfar Nabi Ya’qub untuk anak-anaknya itu tidak langsung dilakukan pada saat anak-anaknya meminta, tetapi ditunda sampai waktu sahur. Itu karena waktu sahur sangat-sangat istimewa dan saat yang tepat untuk memohon ampun.

Ada riwayat dari Ibrahim bin Hathib dari ayahnya bahwa ia berkata, “Aku pernah mendengar pada waktu sahur ada seseorang di sudut masjid berkata, ‘Wahai Tuhanku. Engkau memerintahkan aku, aku pun menaati-Mu. Ini adalah waktu sahur, maka ampunilah aku.’ Aku melihat ke arah orang itu, ternyata dia adalah Ibnu Mas’ud r.a.”

Sekarang terserh kita masing-masing. Memanfaatkan waktu menjelang Subuh itu untuk menonton acara TV, atau untuk memperbanyak istigfar atas dosa-dosa kita yang teramat banyak ini. Pilihan ada di tangan kita.


Dewan Pakar Pusat Studi Al-Quran

Source: FB PSQ

Redaksi

Terkait

Leave a Reply