Memahami Kritik Abdul Qadir al-Jaelani: Pemaknaan Asy’ariyah atas Istawa

 Memahami Kritik Abdul Qadir al-Jaelani: Pemaknaan Asy’ariyah atas Istawa

Syekh Abdul Qadir Jaelani (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Syaikh Abdul Qadir al-Jilani al-Hanbali dalam kitab al-Ghunyah ketika membahas makna kata istawa, berkata demikian:

ولا على معنى العلو والرفعة كما قالت الشاعرية ¹

“Istawa juga tidak bermakna uluw dan rif’ah (kemahatinggian) seperti dikatakan oleh para ulama Asy’ariyah.”

Kutipan itu sering dijadikan sebagai senjata utama oleh pendaku salafi/wahabi untuk menolak pendapat Asy’ariyah. Mereka juga membenturkan Syaikh Abdul Qadir dengan golongan mayoritas tersebut.

Mungkin karena mayoritas Asy’ariyah menyanjung Syaikh Abdul Qadir sebagai waliyullah besar. Dengan begitu, mereka sengaja membesar-besarkan kritik beliau tersebut atas Asy’ariyah.

Namun perlu dicatat bahwa dalam konteks utuh kutipan tersebut, beliau menolak pendapat Asy’ariyah dan seluruh pendapat kelompok mana pun yang memaknai istawa. Semua penafsiran terhadapnya ditolak tak tersisa, baik itu dari Asy’ariyah, Muktazilah dan lainnya.

Bahkan meskipun itu penafsiran mayoritas ulama sekalipun. Tetapi di saat yang sama beliau tidak menetapkan satu pun makna alternatif sehingga istawa dimutlakkan tanpa makna apa pun.

Anti Takwil Bukan Berarti Anti Asy’ariyah

Tindakan demikian dalam diskursus ilmu kalam disebut sebagai posisi tafwidh yang juga menjadi salah satu pendapat Asy’ariyah. Dengan kata lain, pendapat beliau sendiri yang menafikan seluruh makna itu sebenarnya adalah pendapat Asy’ariyyah juga.

Ingat, Asy’ariyah mengakui dua posisi dalam menyikapi nash sifat-sifat Allah, yaitu posisi tafwidh dan posisi takwil.² Ini yang sering dilupakan oleh banyak orang, terutama yang mengkritik Asy’ariyah tanpa ilmu.

Jadi, anti takwil bukan berarti anti Asy’ariyah, namun hanya semata tidak sepakat dengan Asy’ariyah yang menakwil tapi sepakat dengan Asy’ariyah yang mentafwidh. Kritik semacam ini sama sekali bukan masalah.

Selain itu perlu dicatat bahwa yang menafsirkan istiwa’ dengan uluw dan rif’ah/irtifa’ itu bukan hanya Asy’ariyah. Tetapi juga Taymiyun/Pendaku salafi/Wahabi yang notabene adalah pihak sering membenturkan antara Asy’ariyah dengan Syaikh Abdul Qadir.

Ketika para Taymiyun tersebut berdalil menetapkan sifat uluw, maka dalilnya adalah ayat istiwa’. Ketika mereka menuduh (baca: memfitnah) Asy’ariyah menolak Uluw, yang dikeluarkan juga ayat istiwa’.

Artinya sifat uluw dan istiwa’ dianggap satu paket yang saling menafsiri satu sama lain. Lihat saja misalnya Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh yang berkata:

فإذن معنى (استوى) في لغة العرب العلو والارتفاع  ³

“Kalau demikian, maka istawa dalam bahasa Arab adalah Uluw dan irtifa'”.

Tidak Paham Pendapat Syaikh Abdul Qadir

Bin Baz ketika ditanya makna istawa juga sama berkata:

قوله : الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [طه:5]، فسره علماء السنة بأنه العلو والارتفاع،  ⁴

“Firman Allah [Ar-Rahman istawa atas Arays] ditafsirkan oleh para ulama sebagai uluw dan irtifa'”.

Oleh karena itu, wajar bila salah satu website mereka, yakni ar.islamway.net yang berdasarkan banyak kutipan ulama salaf kemudian menyatakan sebagai berikut:

والاستِواء عند السَّلف هو العلوُّ والارتفاع، وهو إجْماع السَّلف الصَّالح، ولا خِلاف بينهم في ذلك. ⁵

“Istiwa’ menurut salaf adalah uluw dan istifa’. Itu adalah ijmak salafussaleh dan tidak ada perbedaan di antara mereka”

Ini berarti para Taymiyun yang berakal sehat seharusnya tidak mendiskreditkan Asy’ariyah dengan kritik Syaikh Abdul Qadir. Kritik yang menentang pemaknaan istawa dengan makna uluw dan rif’ah/irtifa’ sebab itu juga adalah pemaknaan mereka sendiri. Cukup aneh ketika mereka membenarkan Syaikh Abdul Qadir yang jelas-jelas menyalahkan diri mereka sendiri.

Di lain sisi, pernyataan Syaikh Abdul Qadir itu juga menjadi bukti bahwa yang dipahami olehnya adalah Asy’ariyah. Adalah kelompok yang menetapkan sifat uluw dengan berdasarkan ayat istiwa’.

Dengan demikian, pihak yang menuduh Asy’ariyah menafikan sifat uluw dengan menukil pendapat Syaikh Abdul Qadir. Justru orang yang tidak paham pendapat Syaikh Abdul Qadir sendiri bahkan bertentangan dengannya.

 

 

 

________________________

¹. Abdul Qadir al-Jilani, al-Ghunyah

². an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim

³. Shalih bin Abdil Aziz Alu Syaikh, Syarh al-Aqidah Alwasithiyah

⁴. Bin Baz, Ma’na Qauwlihi Ta’ala Arrahman ‘Ala al-Arsy istawa,  binbaz.org.sa

⁵. ar.islamway.net, al-‘uluw wa al-istiwa’.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply