Mayoritas Muslim, Islam di Uzbekistan Memprihatinkan

 Mayoritas Muslim, Islam di Uzbekistan Memprihatinkan

Mayoritas Muslim, Islam di Uzbekistan Memprihatinkan

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Sebagai bekas pecahan negara Uni Soviet, Uzbekistan kini memiliki penduduk mayoritas muslim. Namun taukah Anda, bahwa ternyata kondisi Islam di Uzbekistan justru sangat memprihatinkan.

Dimana saat ini, banyak penduduk muslim di negara yang baru merdeka tahun 1991 itu tidak tahu rukun Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan lain lain. Hal ini sebagaimana laporan Republika dikutip Hidayatuna.com, Rabu (29/7/2020).

“Mereka tidak pernah menjalankan ibadah ritual sehari-hari, sholat misalnya. Pada bulan Ramadhan, mereka juga tidak berpuasa. Mereka bahkan terheran-heran, ketika ditanyakan, mengapa mereka tidak sholat dan puasa,” tulis laporan tersebut.

Meski demikian, mereka para muslim di Uzbekistan mengaku sangat bangga dengan Islam. Muslim Uzbekistan menganut bermazhab Hanafi. ”Yes, I am Muslem,” kata Abdul Madjid salah seorang warga muslim di Uzbekistan.

Melihat kondisi umat Islam di sana, tampaknya sangat ironis. Pasalnya di tempat itulah dulu lahir ulama-ulama besar yang pengaruhnya menyebar ke seluruh dunia. Seperti Imam Bukhari.

Menurut Abdul Madjid, banyak di antara Muslim Uzbekistan yang tidak tahu bahwa sholat, puasa, dan rukum Islam yang lain merupakan keharusan setiap umat Islam untuk menjalankannya.

Hal lainnya yang sangat memprihatinkan, meskipun jumlah masjid tidak begitu banyak, tetapi tidak banyak pula orang yang sholat di sana. Di masjid tertua di Kota Tashkent (ibukota Uzbekistan) misalnya, terlihat hanya orang-orang tua, berumur di atas 50 tahunan, yang masih rajin sholat.

“Pemandangan seperti itu juga terlihat di masjid Imam Bukhari di Samarkand,” sambung laporan Republika.

Keprihatinan tentang kondisi masyarakat Muslim Uzbekistan ini akan semakin bertambah, manakala menengok sejarah Uzbekistan sendiri. Sebelum dicaplok oleh Uni Soyet yang komunis, Uzbekistan merupakan gabungan dari tiga buah kerajaan Islam, yaitu Bukhara, Khiva, dan Kokand yang pada tahun 1860-1870 berada di bawah pengaruh kekaisaran Rusia.

“Ketika itu Agama Islam begitu jaya di daerah ini,” tandasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply