Masjid Aschabul Kahfi di Perut Bumi

 Masjid Aschabul Kahfi di Perut Bumi

HIDAYATUNA.COM – Apakah kalian tahu cerita tentang Ashabul kahfi ? yakni cerita tentang 7 pemuda dan seekor anjing yang terkurung di sebuah gua selama 309 tahun. Di Indonesia, terdapat sebuah masjid yang berada di kedalaman perut bumi. Masjid ini bernama Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghribi, masjid ini berada di kedalaman 5 meter dari permukaan tanah.

Berlokasi di Kelurahan Gedungombo, Kecamatan Semanding, Tuban, Jawa Timur. Masjid ini banyak di kenal karena merupakan destinasi wajib bagi para peziarah, khususnya bagi peziarah wali limo  (lima wali) yang ada di Jawa Timur dan Madura. Masjid ini sering dikunjungi para peziarah dan pengunjung karena lokasinya yang strategis, tepatnya masjid ini berada di jalur pantura Jawa, yang menjadi jalur para peziarah.

Masjid ini menjadi unik karena posisinya yang ada di dalam sebuah goa. Dulunya, goa tersebut adalah goa yang terbengkalai dan dijadikan tempat pembuangan sampah. Namun kemudian ada seorang ulama bernama KH Subchan yang merubah goa tersebut menjadi sebuah masjid yang juga difungsikan sebagai pesantren. Posisinya yang terletak di bawah tanah membuatnya minim polusi dan menghadirkan ketenangan sendiri bagi para peziarah yang ingin melaksanakan ibadah.

Kecantikan dan keindahan masjid ini terlihat dari stalaktit dan stalagmit yang mencuat dari langit-langit ataupun dari bawah. Stalaktit yang menggantung berpadu indah dengan pilar-pilar megah masjid. Masjid ini juga menyajikan ornamen kaligrafi dan ukiran di bebatuan dengan huruf arab dan jawa kuno.

Jika dilihat dari luar, masjid ini tidak memiliki kubah besar dan menonjol layaknya masjid yang lain. Untuk memasuki area masjid ini, pengunjung diwajibkan melewati pos penjagaan. Pos penjagaan ini terhubung dengan dinding yang di kiri-kanannya terdapat kaligrafi berwarna coklat. Diatas bangunan ini terdapat papan bertuliskan “Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi”.

Disekitar tulisan tersebut, terdapat menara yang tingginya seukuran pohon kelapa yang menjulang tidak terlalu tinggi. Lorong yang menghubungkan teras dengan ruangan-ruangan akan terlihat begitu kita masuk pos penjagaan. Untuk memasuki area  masjid di perut bumi itu, pengunjung harus menuruni tangga ke bawah.

Saat kita masuk kedalam, mata kita akan dimanjakan oleh ruang-ruangan indah yang didesain sedemikian rupa. Misalnya di ruang utama, terdapat beberapa pilar dari marmer dan onyx berwarna putih kecoklatan. Lantainya pun terbuat dari marmer dengan warna senada, sebagian dinding masjid masih beruba stalagtit yang menggantung indah diantara para pilar, lalu ditengahnya terdapat batu marmer besar yang dilapisi plat berwarna hijau dan berukirkan kaligrafi arab.

Seperti pada umumnya, masjid perut bumi ini juga memiliki kubah, walau kubah tidak terlalu besar tapi identitas masjidnya sudah terasa kental sekali. Dan tak jauh dari tempat tersebut terdapat tempat santai para pengunjung yang terkesan Asri dan menentramkan. Sering terlihat ditempat tersebut orang yang mengamati dan mengagumi keunikan masjid yang baru ditemukan satu satunya ini. Pilar kokoh penyangga pada ruang utama itu juga membuat kesan daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Selain itu, setiap lorong yang ada di goa juga terdapat stalagmit yang mencuat dari permukaan. Suasana kontras yang dihasilkan dari dinding goa yang masih dirembesi air menetes mengeluarkan air. Sebagian batu berwarna-warni, namun sebagian lainnya masih berwarna putih kekuningan.

Menurut penanggung jawab pos penjagaan, sebagian besar dinding masjid didominasi oleh batu karang laut. Bukan tak ada alasan, namun keberadaan dinding batu karang ini karena lokasi masjid yang hanya berjarak 1 km dari bibir pantai utara. Jika pintu masuk ada di pos penjagaan, maka berbeda dengan pintu keluar dari masjid ini. Tak seperti masjid kebanyakan yg pintunya memiliki fungsi ganda. Masjid ini memiliki pintu masuk dan pintu keluar yang berbeda.

Tak hanya berfungsi sebagai masjid, di lahan dengan luar 3 hektar tersebut, terdapat berbagai ruangan, diantaranya ruang istighosah, ruang belajar al-Qur’an dan lorong-lorong yang biasa digunakan para santri untuk belajar. Di area masjid ini, juga terdapat pondok perut bumi yang juga dibangun oleh KH Subchan Mubarok kala itu.

Proses pembangunan masjid ini terbilang cukup lama, sejak ditemukan pada tahun 1998, baru pada tahun 2002 masjid ini memulai pembangunannya. Yang mana KH Subchan turun tangan secara langsung dalam pembangunan dan pendekorasian masjid ini. Pada tahun 2011, barulah bentuk masjid ini mulai terlihat.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply