Lazismu UHAMKA Gelar Pelatihan Untuk Dai Perkotaan

 Lazismu UHAMKA Gelar Pelatihan Untuk Dai Perkotaan

Lazismu UHAMKA gelar pelatihan untuk dai perkotaan. Langkah ini dilakukan agar para dai perkotaan bisa mengajarkan Islam yang ramah.

HIDAYATUNA.COM, Jakarta — Lembaga Amil Zakat Nasional (Lazismu) Universitas Muhammadiyah Prof.DR. Hamka (Uhamka) Jakarta menggelar pelatihan dan pendampingan bagi sejumlah dai oerkotaan.

Kegiatan tersebut bekerjasama dengan LPP AIK Uhamka, MPM DKI Jakarta, dan LPCR DKI Jakarta di Mini Theather Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Jakarta.

Manajer program Lazismu, Falhan Nian Akbar mengatakan dai dalam perkembangan yang lebih modern tidak sekedar memiliki kemampuan menjadi khotib, muadzin atau ceramah. Ia menganggap dai perlu kemampuan memberdayakan umat.

“Dai yang mampu melihat situasi objek dakwah yang dapat dinilai sebagai sumber informasi pemberdayaan,” kata Falhan dalam siaran pers dikutip Senin (9/3/2020).

Falhan menjelaskan, program Dai Perkotaan bisa dikolaborasikan dengan semua pihak sehingga dapat mengintegrasikan dakwah dan pemberdayaan.

“Nilai lebih dari program ini dai selama pelatihan dan pendampingan mendapat wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana membuat program pemberdayaan,” ucapnya.

Rektor Uhamka, Gunawan Suryoputro mengatakan kegiatan seperti ini menurutnya dapat memberi manfaat sesuai kebijakan pendidikan yang akan diberlakukan oleh kemendikbud di perguruan tinggi.

“Jika bisa berjalan perkembangan dakwah cabang dan ranting maka akan berdampak pada kegiatan pendidikan,” kata Gunawan.

Gunawan menyebut di Uhamka ada program keterampilan sertifikasi, yang bertalian dengan kebijakan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Isi dari SKPI ialah keterampilan yang melengkapi masa studi mahasiswa dengan kegiatan yang dapat meningkatkan keahliannya.

“Kegiatan softskill itu dapat dihitung sebagai sistem kredit semester (SKS) bila mahasiswa memilih sebagai tugas akhir. Sehingga tugas akhir itu bisa menjadi laporan tertulis yang berbeda dengan penelitian skripsi,” ujarnya.

Ia mencontohkan mahasiswa FKIP bisa magang di sekolah-sekolah Muhammadiyah sebagai wujud kegiatan dakwah. Sebab ia menilai perlu ada keseimbangan antara pengetahuan dan keahlian yang didapat dari magang.

“Untuk menjembataninya pendidikan karakter menjadi penting. Selain keimanan yang terpenting bagi mahasiswa tidak hanya pandai tapi mampu beradaptasi dan tidak mudah putus asa,” ujar Gunawan.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply