Langkah BMT UGT Sidogiri Dalam Memangkas Mata Rantai Tengkulak

 Langkah BMT UGT Sidogiri Dalam Memangkas Mata Rantai Tengkulak

Langkah BMT UGT Sidogiri Dalam Memangkas Mata Rantai Tengkulak. Seperti Apa? Simak Selengkapnya di Artikel di Bawah Ini

HIDAYATUNA.COM, Pasuruan – Ketua Pengurus Kopsyah BMT UGT Sidogiri Abdul Majid menegaskan, program pengembangan Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) Baitul Maal wa Tamwil (BMT) Usaha Gabungan Terpadu (UGT) Sidogiri ke depan adalah meningkatkan pelayanan kepada anggota.

“Dalam arti, para anggota BMT UGT Sidogiri tidak hanya berharap SHU saja, melainkan juga usahanya bisa berkembang dan maju bersama koperasi,” jelas Majid dalam acara Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2019 KSPPS BMT UGT Sidogiri, Pasuruan, Senin (24/2/2020).

Untuk itu, lanjut Majid, pihaknya akan meningkatkan layanan digitalisasi dan meningkatkan kelompok-kelompok usaha anggota dan kerjasama usaha antar anggota di seluruh Indonesia.

“Kami memiliki 10 cabang di 10 provinsi. Maka, silaturahmi antar cabang menggunakan digitalisasi. Ini sebagai bukti bahwa koperasi tidak ketinggalan zaman,” ujarnya.

Selain itu, Majid akan meningkatkan kolaborasi usaha antar sesama anggota di seluruh Indonesia. Misalnya, petani di Lumajang bisa menjual produknya ke Jakarta, Surabaya, dan lainnya.

“Langkah ini dipastikan akan memangkas mata rantai tengkulak. Sehingga, mereka bisa meraih keuntungan lebih bagus lagi,” katanya.

BMT UGT Sidogiri yang baru saja mendapat perkuatan permodalan sebesar Rp 50 miliar dari LPDB KUMKM akan terus meningkatkan pemberdayaan usaha mikro dan kecil agar lebih kuat lagi.

“Usaha mikro dan kecil akan dirancang bisnisnya agar tidak saling menghantam satu sama lain. Kita akan lebih mengarahkan kepada sinergi usaha antar sesama anggota BMT UGT Sidogiri,” tutupnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koperasi dan UKM,  Teten Masduki berharap, KSPPS BMT UGT Sidogiri bisa menjadi holding usaha bagi koperasi pondok pesantren (Kopontren) lainnya, agar bisa berkembang lebih cepat lagi.  “Harus ada dan terbentuk konglomerasi Kopontren di Indonesia,” kata Teten.

Teten menilai saat ini peta persaingan di luar, khususnya dengan usaha besar, sudah sangat ketat. “Saya rasa, BMT Sidogiri sudah siap dari sisi pengalaman, kemampuan manajerial, hingga modernisasi untuk naik kelas menjadi sebuah holding usaha bagi Kopotren lainnya,” hemat Teten. (AS/Hidayatuna.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply