Krisis Afghanistan, Dua Orang Mengklaim Sebagai Presiden yang Sah

 Krisis Afghanistan, Dua Orang Mengklaim Sebagai Presiden yang Sah

Soal kasus terhadap krisis Afghanistan, ada dua orang mengklaim sebagai Presiden yang sah. Siapa saja mereka?

HIDAYATUNA.COM – Rakyat Afghanistan menyatakan bahwa mereka merasa sangat kecewa atas Presiden Ashraf Ghani dan saingannya Abdullah Abdullah yang mengambil sumpah serentak untuk mengklaim kursi kepresidenan, yang selanjutnya ditakutkan akan menjerumuskan negara yang telah lama dilanda perang itu ke dalam krisis politik yang baru.

Pada hari Senin, kedua pemimpin itu telah mengadakan upacara pelantikan mereka masing-masing dan membentuk pemerintahan paralel, dengan Abdullah yang menolak untuk mengakui pelantikan Ghani.

Beberapa sumber telah mengkonfirmasi bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS), yang dipimpin oleh utusan khusus Zalmay Khalilzad, telah bernegosiasi dengan Abdullah selama 24 jam terakhir untuk mencapai penyelesaian yang berakhir dengan baik.

Situasi ini mirip dengan apa yang terjadi pada tahun 2014, ketika intervensi dari John Kerry dalam perselisihan yang sama seperti saat ini, berakhir dengan terbentuknya ‘National Unity Government’ setelah kesepakatan pembagian kekuasaan di Afghanistan telah disepakati oleh Ghani dan Abdullah.

Namun, pada kali ini AS gagal membawa para pihak yang berselisih kepada penyelesaian yang baik, yang akhirnya menghasilkan perkembangan yang tidak biasa pada hari Senin kemarin. Abdullah membantah hasil pemilihan yang telah diumumkan pada bulan lalu dan menyatakan dirinya sebagai pemenang.

Sementara itu, warga Afghanistan menyaksikan krisis baru yang sedang merebak di negaranya ini dengan perasaan gugup dan ketidakpercayaan.

Ketika ditanya siapakah sebenarnya presiden Afghanistan yang sah, Mohammad Rashid, seorang tukang daging berusia 29 tahun di Kabul barat, menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, “Saya tidak yakin. Keduanya tidak ada yang pantas mendapatkan posisi itu.”

“Mereka berdua memiliki kesempatan untuk bekerjasama, tetapi mereka tidak melakukan apa-apa. Tingkat aksi kekerasan lebih buruk dari sebelum-sebelumnya, dan perekonomian sedang dalam kesulitan,” kata Rashid, yang menyaksikan kedua versi upacara pelantikan presiden melalui televisi kecil di tokonya.

Dia mengatakan bahwa dia merasa sangat tertekan karena kedua pemimpin tersebut tidak dapat mewujudkan perdamaian bagi negara yang telah lama dilanda perang itu.

“Sebelumnya, hal seperti ini belum pernah terjadi di belahan dunia manapun. Tak akan ada hal baik yang didapatkan dari peristiwa ini, dan tidak akan ada harapan yang tersisa untuk masa depan yang damai setelah menyaksikan perkembangan hari ini,” tambahnya.

Terlepas dari klaim presiden mana yang mereka dukung, sentimen serupa juga diungkapkan oleh para warga Afghanistan di ibukota.

“Tentu saja Ashraf Ghani adalah pemimpin yang sah karena AS yang memilihnya. Abdullah dapat mencalonkan dirinya dalam beratus-ratus proses pemilihan, tetapi itu tidak akan berarti, karena AS telah memilih Presiden Ghani, dan merekalah yang menjalankan pertunjukannya,” kata Humayoon, seorang agen properti berusia 45 tahun.

Meskipun Humayoon percaya diri atas pilihannya untuk Ghani, ia merasa tidak ada harapan atas hasil yang damai untuk krisis politik saat ini.

“Setiap negara memiliki satu pemimpin yang bertugas menjalankan tugasnya, dan negara kami terbagi antara dua kubu pemerintahan. Kami tidak dapat memprediksi masa depan, tetapi jalur yang kami tempuh saat ini sangatlah salah. Arah tujuan yang dipilih oleh para pemimpin kami pasti berakhir kepada situasi krisis,” katanya. (Aljazeera.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply