Korban Bom Bali Kecewa Pelaku Justru Dapatkan Perhatian Lebih

 Korban Bom Bali Kecewa Pelaku Justru Dapatkan Perhatian Lebih

Salah satu korban bom Bali mengaku merasa kecewa, pasalnya para pelaku bom justru dapatkan perhatian lebih

HIDAYATUNA.COM, Denpasar – Hampir genap delapan belas tahun sejak peristiwa Bom Bali terjadi. Hal tersebut masih meninggalkan dampak traumatik bagi para korban maupun mereka yang kehilangan anggota keluarganya. Namun yang kini banyak dirasakan dirasakan oleh para korban adalah kekecewaan.

Para korban menilai pemerintah belum memberikan perhatian terhadap korban selain mereka juga membutuhkan kompensasi. Mereka juga mengaku kecewa melihat fakta bahwa justru palaku terorismelah yang banyak mendapatkan perhatian ketimbang mereka para korban.

Seperti dikatakan Suyanto salah seorang korban Bom Bali yang kini berprofesi sebagai tukang las.

“Kita lihat di TV malah mereka yang pelaku teror malah diperhatikan, ya dapat pendidikan keluarganya. Pokoknya mereka jadi istimewa. Kami yang jadi korban kok malah tidak dapat perhatian,” ujar Suyanto.

Seperti dikutip hidayatuna.com, Sabtu (14/3/20),sebelumnya perwakilan korban Bom Bali 2002 mendatangi ‘Rumah Apresiasi’ Anggota Komisi III DPR RI daerah pemilihan Bali, I Wayan Sudirta Jum’at siang. Mereka adalah para korban Bom Bali yang tergabung dalam Yayasan Isana Dewata.

Theolina selaku koordinator dari Yayasan Isana Dewata mengatakan mendatangi rumah aspirasi dengan harapat dapat dibantu menyampaikan aspirasi para korban bom bali untuk dapatkan perhatian juga bantuan sebagaimana yang mereka butuhkan.

“Kami datang ke rumah inspirasi ingin meminta bantuan agar pemerintah memberikan kompensasi dan restitusi, karena kami sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga pekerjaan bagi korban pemboman oleh teroris 18 tahun lalu di kawasan Kuta, Bali,” ungkap Lina.

Lina mengungkapkan banyak korban dari Bom Bali yang kini menderita cacat seumur hidup, para ibu yang kehilangan suaminya dan harus mengurus anak-anak mereka dan memerlukan pendidikan dan masih banyak kondisi korban yang hingga kini memprihatinkan.

Pihak mereka berharap sebagaimana yang diatur Undang-Undang Anti Terorisme bahwa korban terorisme menjadi tanggungan Negara dapat dilaksanakan sehingga mereka mendapatkan keadilan.

Menanggapi hal tersebut I Wayan Sudirta mengatakan bahwa pihaknya akan memfasilitasi apa yang menjadi keluhan para korban,

“Ini tragedy kemanusiaan yang memerlukan kepedulian semua pihak,” ujarnya. (AS/Hidayatuna.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply