Kopi Demokratis

 Kopi Demokratis

Banyak kisah humor yang di dalamnya mengandung banyak pelajaran penting. Salah satunya adalah tentang kisah Kopi Demokrasi.

HIDAYATUNA.COM – Si Ahmed rupanya mangkel. Obrolan di pesawat dengan Kyai Adung membuatnya penasaran. Dia ingin serius ngobrol dengan kyai kolot itu.

“Ya, udah. Datang aja ke rumah.”

“Oke. Nanti saya datang. Tapi saya ingin obrolan yang serius. Bukan akal-akalan.”

“Ane tunggu,” kata Kyai Adung.

Di Bandara Adi Sucipto mereka berpisah. Kyai Adung dengan urusannya. Si Ahmed dengan urusanya sendiri. Tak lupa, Kyai Adung menitipkan alamat dan nomor teleponnya.

Rupanya benar. Sebulan kemudian si Ahmed datang menyambangi Kyai Adung. Dari rumahnya, si Ahmed sudah menyiapkan pemikiran yang lebih canggih. Dia kepingin membuat Kyai Adung semaput sekalian.

Berhasil. Si Ahmed berhasil membuat kyai kampung, kolot, dan jail itu seperti orang kesambet.

Meneng beberapa menit mendengar lontaran pemikiran si Ahmed.

“Tak jarang, saya merasa penganut pagan dan politeis itu lebih rasional. Mereka memuja sesuatu yang nyata memberi manfaat.”

Glek!

Kyai Adung menelan ludah. Tapi tenggorokanya terasa makin kering. Ini bocah diempanin apaan waktu kecilnya, yak ?” begitu pikir Kyai Adung di antara keherananya mendengar ocehan si Ahmed.

“Lha, terus, napa ente kagak pindah saja jadi penganut pagan atau politeis supaya rasional? kata Kyai Adung mulai buka suara.

“Itu urusan hati saya.”

Lha, terus nape ente yang merasa bahwa penyembah pagan dan politeis itu lebih rasional. Nape ente jadi ragu ngikut menyembah berhala kalau emang nyata lebih memberi manfaat?

He he he, nyantailah, Kyai.

Nyantai gimana? Ucapan ente itu sudah berbahaya. Dimana syahadat ente kalau gitu?”

Si Ahmed tertawa ngikik. Hatinya puas bikin Kyai Adung seperti orang kebakaran Jenggot. Makin tumpahlah ocehan si Ahmed. Makin berani kalimat-kalimatnya. Apalagi dia ngutip ocehan kawanya yang lain bahwa Islam katanya adalah ajaran oplosan.

Karena itu, tidak ada Islam yang murni sebab dari sononya, Islam itu ajaran hasil oplosan.

Kyai Adung merasa dibakar emosi. Ingin rasanya di tendang saja pantat si Ahmed yang tepos itu. Tapi Kyai Adung ingat bahwa si Ahmed adalah tamunya yang harus dihormati.

“Banyak orang sangat tegang membicarakan kepercayaan pada Tuhan. Kenapa tidak rileks aja?

Kyai Adung merasa disindir.

“Kata Pak Loanes, percaya kepada banyak tuhan itu lebih asyik, lebih demokratis. Tuhan yang hanya satu itu otoriter.”

Gubrak !

Kyai Adung benar-benar semaput dang klenger.

“Masya Allah, istighfar, Med!”

Lho iya yang tunggal itu sering kali otoriter.

Eh, Med emang benar ente sekarang dukung sekaligus pelaku poligami? Setahu ane, mana ada pahlawan liberal poligami.

Si Ahmed nyengir. Ini urusan Tuhan, kok lari ke bini pikirnya.

“Siapa yang bilang? Fitnah itu. Saya setia dengan pasangan saya. Saya anti poligami. Cukup satu istri.

Saya bukan ustadz-ustadz bahlul yang doyan kawin dan ngoleksi bini!” si Ahmed agak sewot.

Yang sudah-sudah, pahlawan liberal itu memang anti poligami. Tapi, nidurin anak gadis orang sampai hamil dilakonin. Kyai Adung jadi ingat kasus penyair yang diadukan ke polisi gara-gara ada anak gadis orang dibikin bunting.

Saran ane, sih ente kawin lagi biar empat bini. Empat itu lebih asyik, lebih demokratis, lho, Med.

Kalau Cuma satu mah, otoriter!

Gubrak !

Giliran si Ahmed hampir semaput.

Bah, jangan nyuruh saya. Kyai aja kalau mau!

Lha kan ane lebih suka monoteis yang otoriter. Kan ente bilang yang banyak lebih demokratis.

Kalau banyak tuhan itu lebih asyik dan demokratis, apalagi lebih banyak bini.”

Kwakwaww!

Wajah si Ahmed merah-merah kayak rajungan di jerang di atas wajan. Rupanya angin berbalik arah.

Tadinya dia sudah girang bisa ngerjain Kyai Adung.

Lebih girang lagi lihat Kyai kolot itu blingsatan mendengar pemikiranya. Tapi sekarang, dia merasa dirinya yang jadi bulan-bulanan logika kyai kampung itu.

“Kyai, pernahkah Anda duduk santai memikirkan konsep Tuhan seperti apa yang akan Anda percayai seperti memilih kopi yang akan anda seduh pagi ini?”

“Oh, tentu pernah dan bisa.”

“Cobalah lakukan itu.”

“Ane akan lakukan. Tunggu sebentar. Ane akan ke dapur. Menyeduh, lalu kita pikirkan konsep Tuhan seperti logika ente menyeduh kopi.”

Kyai Adung beranjak ke dapur. Beberapa saat kemudian keluar lagi membawa nampan dan dua cangkir kopi.

“Tapi, bukan berarti Anda menyeduh kopi untuk saya, lho,”kata si Ahmed yang tampak basa-basi.

“Oh, enggak. Bahkan sekedar secangkir kopi, sangat wajar untuk seorang tamu yang sangat mencintai demokrasi.”

Kyai Adung ngikik dalam hati.

“Tapi sejujurnya, banyak pilihan kopi itu emang lebih asyik rupanya,” ujar Kyai Adung lagi.

“Oh, ya?

“Nyai, istri saya, ternyata juga penganut kopi demokratis. Di dapur dia menyediakan pilihan kopi.

Ada Kapal Selam,  Ayam Jago, Neskape, Liong, dan ada lagi merek yang ane kagak hafal.”

“Lalu, kopi apa yang Anda seduh, Kyai?”

“Untuk ane, ane suka Liong.”

“Untuk saya, apa ?”

“Silahkan dicoba dulu. Biasanya penikmat kopi tahu betul, kopi apa yang tengah di teguknya.”

Si Ahmed meraih cangkir. Diteguknya sekali, dua kali, tiga kali, sampai empat kali. Tapi dia tidak tahu, merek kopi apa yang dihidangkan untuknya.

Rasa Kapal Selam bukan. Ayam jago juga bukan. Apalagi Neskape. Kopi Liong rasanya juga bukan.

Si Ahmed bingung. Kopi apa ini ? Rasanya, kok, enteng dan aromanya aneh.

“Kopi ini aneh. Saya baru merasakanya.”

“Ane bahkan belum pernah sekalipun meneguknya,” kata Kyai Adung.

“Loh, kenapa bisa begitu ? Padahal ini dari dapur yang sama?”
“Ane hanya coba-coba saja. Ane ambil sedikit Ayam Merak. Sedikit Kapal Api. Sedikit Neskape dan sedikit kopi Liong. Ane campur jadi satu. Lalu ane lihat ada bubuk hitam di atas piring kaleng.

Mungkin istri ane belum sempat meletakkan pada wadahnya.

Ane ambil dua sendok. Ditambah dua sendok gula kemudian ane seduh. Itulah cangkir kopi yang ente nikmati. Ane duga, rasanya demokratis sekali. Kalau kopi ane oteriter. Wkwkwkwk…’’

Si Ahmed cembetut.

Sekonyong-konyong, Nyai, istri Kyai Adung keluar membawa piring kaleng. Setelah menyapa si Ahmed sebentar, Nyai membuang sesuatu seperti bubuk hitam. Kyai Adung penasaran.

“Lho kok bubuk kopinya di buang, sih Nyi?

“Bubuk kopi ? Kopi apaan ?” Nyai tidak kalah heran.

“Itu yang barusan Nyai buang, bubuk kopi, bukan ?”

“Iye. Kopi cap pantat panci.”

“Ha? “Kyai Adung merasa belum tahu merek itu.

“Ini bukan kopi, Mas, tapi kerak panci. Panci kita bocor. Barusan di tambal sama Lukman. Supaya tambalanya nempel, pancinya di kerok dulu. Lha, barusan yang saya buang kerak panci, bukan bubuk kopi,” Nyai santai.

Twew!

“Bujug ! Jadi barusan yang gue seduh buat si Ahmed, kerak pantat panci dong,” keluh Kyai Adung.

Kyai Adung ngelirik Ahmed. Ahmed melotot ke wajah Kyai Adung. Si Ahmed mulai grogi.

Masalahnya , cangkirnya sudah tiris. Cairan hitam di cangkirnya sudah pindah semua ke perutnya.

“Bwahahhaha… “Tawa Kyai Adung meledak.

“Sori, Med. Ane kagak tahu kalau kopi yang ane seduh barusan, kopi kerak pantat panci!”

Si Ahmed semaput beneran.

“Huek! Hek! Huek ! Kampret !” kata si Ahmed.

“Med, ternyata urusan kopi saja, terlalu demokratis itu enggak selamanya enak, ya ?

Apalagi urusan Tuhan. Udah, balik maning nag Tauhid aja, Med.”

Qiqiqiqiqiqi…. Kyai Adung ngikik.            

Sumber: Kyai Kocak vs Liberal                

Baca Juga: Humor Sufi, Timur Lenk vs Nasrudin Soal Keledai Membaca           

Redaksi

Terkait

Leave a Reply