Kontekstualisasi Pesan-Pesan Ilahi Di Dalam Wahyu Pertama Untuk Masa Kini

 Kontekstualisasi Pesan-Pesan Ilahi Di Dalam Wahyu Pertama Untuk Masa Kini

Oleh: Prof. Dr. Ahmad Thib Raya (Guru Besar Ilmu Al-Qur’an UIN Jakarta)

HIDAYATUNA.COM – Tanggal 17 Ramadhan Allah menurunkan turunnya Al-Qur’an al-Karim. Sehubungan dengan hal tersebut, saya ingin menyampaikan kembali pesan-pesan ilahi yang terdapat di awal surat al-‘Alaq atau Surat Iqra’ itu. Pesan-pesan ilahi di dalam limat ayat itu, saya rangkum dan saya sarikan sebagai berikut.

Perintah membaca yang ada di dalam ayat ini, dan diminta untuk membaca hingga tiga kali hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad saja untuk membacakan apa yang diturunkan kepadanya. Tetapi, juga perintah membaca itu juga secara konteks kekinian ditujukan pula kepada umat Nabi Muhammad untuk membaca. Mereka diperintahkan untuk membaca, membaca, dan membaca terus. Tidak hanya wahyu yang dibaca, tetapi juga apa saja yang ada di alam ini, baik yang tertulis, maupun yang tidak tertulis, baik yang ada di dalam Al-Qur’an maupun yang ada di alam nyata ini. Seorang pelajar, seorang siswa, seorang mahasiswa, dapat memiliki wawasan yang luas tentang segala sesuatu melaui kegiatan membaca. Seorang dosen sangat dituntut untuk banyak membaca, membaca, dan membaca terus. Seorang penulis, tidak akan bisa menulis dengan baik kalau tulisannya tidak didasarkan pada data-data, pengetahuan, dan ilmu yang diperolehnya melalui membaca. Bahkan, menurut saya untuk menjadi penulis yang baik, maka membacanya harus tiga kali lipat dari pada menulis. Satu kali menulis artikel, harus didukung oleh tiga kali kegiatan membaca.

Untuk memulai sesuatu pekerjaan, termasuk kegiatan membaca, menulis, dan mengajar, kita diperintahkan untuk memulainya dengan menyebut nama Allah (Bismillah), tidak hanya sebagai terbarukan (mendapat keberkahan), tetapi taat perintah. Di dalam hadis disebutkan, sesuatu pekerjaan yang tidak diawali dan dimulai dengan bismillah adalah abtar (buruk).

Apa pun ilmu dan pengetahuan yang kita miliki adalah anugerah dan pemberian Allah yang luar biasa, yang harus disyukuri. Allah yang memberikan ilmu/pengetahuan kepada manusia. Kalau Allah tidak memberikan ilmu pengetahuan, maka manusia tidak mungkin dapat memiliki ilmu itu. Ilmu yang dimiliki itu harus disyukuri. Cara mensyukurinya adalah dengan memanfaatkan ilmu/pengetahuan itu untuk kebaikan, untuk kemaslahatan kehidupan manusia, dan juga siap untuk mengajarkannya kepada siapa pun yang membutuhkan ilmu itu

Ilmu itu harus dicari secara sungguh-sungguh melalui berbagai media, baik melalui bacaan-bacaan yang disampaikan secara lisan maupun melalui tulisan-tulisan yang ditulis dengan perantaraan pena. Karena ilmu yang diperoleh adalah anugerah Allah, maka dalam mencarinya pun kita harus memohon pertolongan Allah dengan doa agar ilmu yang dicari dapat diperoleh dengan mudah.

Allah juga berpesan bahwa sebanyak apa pun ilmu yang kita peroleh, maka ilmu Allah jauh lebih luas dari ilmu manusia mana pun. Sebanyak apa pun hasil bacaanmu, itu adalah anugerah Allah, sebagai الأكرم. Kita tidak boleh sombong dengan ilmu yang kita peroleh. Yang sombong dengan ilmunya hanyalah Allah

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ini, menjadi bekal utama baginya untuk mempersiapkan diri sebagai utusan Allah. Dengan pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh melalui bacaan-bacaan dan tulisan-tulisan itu, seseorang akan mampu menjalankan misinya, melaksanakan tugasnya dengan baik. Ini menjadi pelajaran penting bagi setiap manusia untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menghadap tantangan hidup.

Semoga kita semua menjadi insan pembaca, seperti yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Saw., pada saaat turunnya wahyu pertama itu.

Sumber: FB Ahmad Thib Raya

Redaksi

Terkait

Leave a Reply