Kisah Inspiratif Anak Tukang Becak Kuliah S3

 Kisah Inspiratif Anak Tukang Becak Kuliah S3

HIDAYATUNA.COM – Kisah Inspiratif Raeni anak tukang becak yang berprestasi, Raeni merupakan gadis kelahiran 13 Januari 1993 yang sangat aktif di kampus, ia juga salah satu peraih beasiswa LPDP S3 di Inggris. Raeni Alumni Universitas Negeri Semarang (UNNES)   Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE).

Awalnya tidak begitu banyak yang mengenalnya sosok Raeni. Ia dikenal sejak mendapatkan penerima beasiswa Bidikmisi. Waktu acara wisuda, ia diantar oleh sang ayahnya, yang bernama Mugiyono menggunakan becak ketika menghadiri acaranya.

Pekerjaan Ayahnya memang tukang becak yang setiap hari mangkal dekat rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal. Pak Mugiyono menjalani sebagai tukang becak setelah berhenti sebagai karyawan pabrik kayu lapis. Menjalani sebagai tukang becak memang sulit, penghasilannya pun tak menentu.

Penghasilan ayahnya sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu perhari. Karena penghasilanya sangat minim, ia juga menjadi penjaga malam di sekolahan dengan upah 450 ribu per bulan untuk tambahan biaya kehidupan keluarganya.

Meski keadaan keluarga kurang mampu, Raeni ingin membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi sempurna, yaitu IPK 4. Raeni selalu mempertahankan prestasinya, hingga lulus dan ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.96.

Raeni, seorang yang memiliki tekad baja dengan semangatnya, Ia berpikir kelak akan menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. Jadi, tidak ada alasan bagi siapapun yang ingin kuliah tapi terkendala dengan biaya pendidikan.

Masi Banyak beasiswa yang ditawarkan oleh UNNES untuk mahasiswa berprestasi yang kurang mampu, di antaranya adalah beasiswa Bidikmisi.

Prestasi yang ia dapatkan, membuat banyak ditawari berbagai perusahaan untuk bekerja. Hingga ada beberapa yang menawarinya beasiswa untuk kuliah S2 di Inggris, seperti yang diimpikannya.

Akhirnya, kabar tentang Raeni pun terdengar sampai ke telinga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang kala itu masih menjabat sebagai Presiden RI. Raeni pun mendapatkan undangan khusus untuk bertemu dengan SBY.

Tidak hanya sekedar bertemu saja, tetapi SBY juga memberikan hadiah kepada Raeni beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan studi S2-nya di Universitas Birmingham di Inggris.

Jurusan Raeni yang di ambil adalah program Magister of Science, International Accounting and Finance melalui program beasiswa LPDP. Tidak mudah bagi Raeni untuk menempuh kuliah di luar negeri.

Karena kehidupan keluarganya sangat pas-pasan. Sebenarnya tidak memungkinkan bagi Raeni untuk bisa kuliah ke luar negeri. Namun, dengan jiwa tekad yang bulat untuk merubah roda kehidupannya, ia tetap mendaftarkan diri untuk melanjutkan kuliahnya.

Karena anak yang mempunyai jiwa tekad, sang Ayah pun memutuskan untuk mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon untuk biaya kuliah Raeni. Semenjak itulah, ayahnya menarik becak demi sang anak.

Dari situ lah, Raeni tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan orangtuanya. Sebab, Raeni belajar dari orangtuanya yang begitu kerja keras dan membuatnya ia gigih untuk terpilih sebagai penerima beasiswa.

Raeni mendapatkan beasiswa bidikmisi dan menjadi salah satu di antara 1.850 siswa di UNNES yang mendapat beasiswa dengan biaya gratis. Raeni sangat bahagia dengan kabar tersebut, tetapi ia sempat merasa minder dengan kondisi keluarganya.

Namun, itu semua hasil kerja kerasnya Raeni dan mencoba menghilangkan rasa kurang percaya diri dengan kondisi kelurga kurang mampu itu untuk selalu berprestasi. Seiring waktu, Raeni tumbuh menjadi pribadi yang mudah bergaul dengan siapa saja di kampus.

Selain itu, Raeni yang memiliki keinginan untuk menjadi guru, ia membuktikannya dengan prestasi selama kuliah untuk menjadi guru. Raeni mengaku tidak memiliki strategi khusus apa-apa, ia hanya belajar sungguh-sungguh dan mengatur waktu dengan efisien.

Raeni pun mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu yang singkat, hanya 3.5 tahun dan sering mendapatkan indeks prestasi cumlade.

Sempat di abdikan melalui akun Instagramnya @raeni_raeni pada bulan Desember 2016 yang lalu, dia memposting foto wisuda kelulusan S2-nya di Universitas Birmingham, Inggris diselesaikan dalam waktu 1 tahun.

Sekarang, Raeni telah kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikannya dan dari kepulangan Raeni mendapatkan sambutan dari berbagai pihak. Hal tersebut sempat diabadikan di akun Facebooknya Raeni, momentum itu dibanjiri sejumlah postingan dari para sahabatnya.

Terdapat kutipan komentar dari sahabatnya Seperti Dian Setyawati “Masih ingatkah dengan salah satu sosok inspiratif kita, Raeni, penerima program beasiswa Bidikmisi yang beberapa tahun lalu diberi kesempatan bertemu dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani karena prestasinya yang lulus dengan predikat terbaik, IPK 3,96 di Universitas Negeri Semarang”.

Ungkapan Pak SBY “Alhamdulillah hari ini diberi kesempatan bertemu dengan Raeni lagi setelah setahun gak ketemu. Gelar yang dibawa mungkin sudah berbeda, studi magisternya di Inggris sudah selesai, tetapi karakternya tetep sama, bersemangat dan rendah hati.” Begitulah Raeni, sosok cerdas namun tetap rendah hati.

Kepulangan Raeni, ia sempat menjadi bintang tamu pada acara talkshow di salah satu televisi swasta bersama dengan ayahnya. Menurut informasi yang didapat, pada bulan Januari 2017, Raeni akan mulai mengajar menjadi salah satu dosen di Universitas Negeri Semarang.

Di tahun 2018, Raeni kembali memberikan berita membanggakan untuk kedua orang tuanya. Anak dari tukang becak itu berhasil menembus Beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi S3 di almamaternya yaitu Universitas Birmingham, Inggris.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply