Kisah Beramalnya Orang Miskin yang Diabadikan Al-Qur’an

 Kisah Beramalnya Orang Miskin yang Diabadikan Al-Qur’an

Kisah Beramalnya Orang Miskin yang Diabadikan Al-Qur’an


HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Orang miskin yang melakukan amal memiliki kedudukan khusus di hadapan Allah SWT. Sebuah kisah beramalnya orang miskin ini bahkan sampai diabadikan di dalam Al-Qur’an.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh ulama muda ‘alim Gus Baha atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim dalam sebuah video pengajiannya dikutip Hidayatuna.com, Rabu, 8 Juli 2020.

“Seperti cerita yang diabadikan Qur’an: wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusihim walau kaana bihim khashaashatun,” ungkap Gus Baha.

“Itu, Nabi mengumumkan, “Saya (Nabi) punya tamu, tapi hari ini saya ndak bisa hormat tamu.”

Kemudian ada seorang sahabat yang usul agar dirinya saja yang menjamu si tamu tersebut, “Saya, ya Rasulullah.”

Gus Baha menjelaskan, “Perlu dicatat, dulu di Arab itu gak ada warung, gak ada go food. Gak bisa kamu pesan online, terus nanti delivery gitu, gak bisa,” jelasnya.

Nah terus, akhirnya datang lah si tamu Nabi tersebut ke rumahnya si sahabat tadi. Si sahabat tadi kemudian berytanya ke istrinya. “Istri saya, ada makanan gak?”

“Gak ada, adanya hanya untuk jatahnya bayi.” jawab si istri sahabat tersebut.

Terus, “Ya sudah, bayinya kamu tidurkan, supaya jatah (makanan untuk si bayi) itu dimakan tamunya Rasulullah,” kata si Sahabat.

Si istri menjawab, “Tapi kan jatahnya orang satu. Tamunya kan malu kalau gak ada yang menemani (makan).”

“Ya sudah lampunya dimatikan, pura-pura kamu yang menemani.”

Kemudian dihidangkanlah dua piring. “Satu ada piring sama sendok pura-pura (untuk) menemani makan, yang satu (tamunya) makan betul,” ujar Gus Baha.

Kisah ini, lanjut Gus Baha diabadikan di dalam al-Qur’an. “Karena apa? Dramatis,” ungkap Gus Baha.

“Sehingga, pagi-pagi (saat) dia (si sahabat) datang ke Nabi. (ia ditanya Nabi) “Kamu punya amal apa? Sehingga tadi malam ada ayat: “wa yu’tsiruuna ‘alaa anfusihim walau kaana bihim khashaashatun.” (Mereka mengalahkan kepentingan dirinya sendiri meskipun punya kepentingan sendiri). Demi tamu tadi.”

Terus cerita dia (si sahabat), “Tamu tadi malam ya Rasulullah, yang saya sanggup menghormatinya, sebetulnya saya gak punya apa-apa, hanya (punya makanan) jatah bayi.”

“Itu saja dramatis. Bayinya ditidurkan dahulu. Terus pura-pura menemani (makan), (sementara) lampu dimatikan.”

Redaksi

Terkait

Leave a Reply