Kiai Ishom: Intoleransi Merebak bak Jamur di Musim Hujan

 Kiai Ishom: Intoleransi Merebak bak Jamur di Musim Hujan

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin atau Kiai Ishom Sebut Intoleransi Merebak Bak Jamur di Musim Hujan

HIDAYATUNA.COM, Pangkal Pinang – Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin menegaskan bahwa Intoleransi dan radikalisme, meski dengan alasan agama sekalipun, tetap perbuatan yang berlawanan dengan Islam dan berbahaya bagi kehidupan bersama.

Sedangkan Islam, kata Kiai Ishom, menganjurkan kepada setiap pemeluknya untuk menebar keselamatan, kasih sayang, dan menumbuhkan segala bentuk kebajikan. 

“Kedua penyakit tersebut selain perlu dicegah bagi mereka yang belum terjangkiti, tetapi perlu diobati bagi mereka yang telah terjangkiti, dan perlu diamputasi bagi mereka yang akut dan menularkan penyakit ini,” tegasnya pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII Tahun 2020 di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, Kamis (27/2/2020).

Menurut Kiai Ishom, Intoleransi dan radikalisme juga berbahaya karena destruktif, meruntuhkan tatanan masyarakat Indonesia, bahkan dunia.

“Keharusan melawan sikap intoleran dan radikal bukan sekedar karena agama Islam memerintahkannya, melainkan karena keduanya merusak citra Islam yang seharusnya dijaga oleh para pemeluknya dan juga karena keduanya bertentangan secara diametral dengan tujuan syariat Islam,” jelasnya.

“Al-Syaikh Abdullah Bin Bayyah menulis sebagai berikut: ‘Di antara tujuan syariat Islam adalah memperindah citra Islam’,” imbuh Kiai Ishom.

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini faktanya, intoleransi merebak bak jamur di musim hujan. Sebagian komunitas muslim, bahkan para ASN hingga sebagian kecil anggota TNI terpapar radikalisme. Berbagai riset dan survei yang dilakukan akademisi di kampus-kampus maupun LSM menyimpulkan bahwa intoleransi dan radikalisme telah mencemari kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga mengancam kehidupan sosial kita yang semula tenang dan harmonis.

“Perbedaan agama yang dianut relatif masih sering menjadi sumber konflik yang tidak mudah dikelola. Sudah tentu, ini mengancam keharmonisan hidup dalam rumah besar bersama, Indonesia,” paparnya.  

“Bahkan dalam satu agama yang sama, seperti yang terjadi pada sementara umat Islam, perbedaan penafsiran maupun ekspresi keberagamaan masih amat rawan konflik dan seringkali menafikan rasa persaudaraan,” sambungnya.

Kiai Ishom juga menyoroti kelompok kecil kaum muslim namun bersuara lantang menjadi tantangan bagi kita semua yang mendambakan kehidupan yang lebih harmonis. Mereka itu selain amat sering bersikap diskriminatif, intoleran, juga bersikap radikal, kepada sesama muslim dan lebih-lebih terhadap non muslim. 

“Sebagian anggotanya tidak segan memberikan stigma negatif. Mudah sekali mengkafirkan, meneror, hingga memerangi siapa saja yang dinilai tidak sejalan dengan ideologi mereka. Kelompok kecil yang seringkali berteriak nyaring mengatasnamakan umat Islam tersebut saya pandang hanya sebagai sekelompok orang yang aktif berebut tempat dalam lapangan kekuasaan. Namun, mengabaikan keutuhan bangsa,” pungkasnya. (AS/Hidayatuna.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply