Kiai Haji Abdullah Syafi’i, ‘Macan Betawi Kharismatik’

 Kiai Haji Abdullah Syafi’i, ‘Macan Betawi Kharismatik’

HIDAYATUNA.COM – Kiai Haji Abdullah Syafi’i, lebih dikenal dengan nama Kiai Dulloh, beliau  adalah pendiri dan pengasuh pertama Perguruan as-Syafi’iyah di Jakarta. Ia pernah menjabat sebagai Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada periode pertama dan Ketua Umum Majelis Ulama DKI Jakarta pada periode pertama dan kedua. Ia merupakan ayah dari Dra.Hj. Tuti Alawiyah, mantan Menteri Sosial dan Menteri Peranan Wanita pada masa Orde Baru sekaligus yang menjadi pengasuh Perguruan asy-Syafi’iyah saat ini.

Kiai Dulloh adalah ulama keturunan Betawi yang terkenal dengan julukan “Macan Betawi Kharismatik.” Ia juga dikenal sebagai ulama yang ahli ilmu agama dan mempunyai pandangan luas yang mengacu pada masa depan. Menurut Prof. KH. Ali Yafie mengatakan bahwa “KH. Abdullah Syafi’i adalah tokoh pemberani, ikhlas, dan tak jemu dalam berdakwah. Dia sangat tegas dalam menegakkan Amar ma’ruf nahi munkar.” Meskipun K.H Abdullah Syafi’i telah lama wafat, namun sejumlah karya Almarhum masih akan mudah diingat orang. Perguruan Asy-Syafi’iyah di Jakarta dan sejumlah buku karangannya adalah sebagian warisan beliau yang sangat berharga.

Sejumlah “Istimewa”

Abdullah Syafi’i lahir di jakarta pada 10 Agustus 1910. Pendidikan formalnya tak tinggi. Dia hanya belajar di SD selama dua tahun, lalu ia keluar atas inisiatif sendiri karena merasa cara pembelajaran sekolah yang ia rasa lamban. Dia lalu belajar ke ulama-ulama dari satu habaib ke habaib lainnya dengan cara rihlah. Dengan bersepeda, Syafi’i mencari ilmu dan tak hanya di seputar Jakarta tetapi juga kita ke Bogor. Dia belajar fikih, tafsir, tasawuf, dan lain-lain.

Abdullah Syafi’i setiap hari belajar tidak kurang dari 4 jam, ia menggunakan waktunya untuk membaca kitab dan dilanjutkan dengan membuat intisarinya. Sejak belia, Abdullah Syafi’i memang tertarik pada dakwah, ia pandai mengaji dan juga berpidato.

Pada usia 13 tahun, Abdullah Syafi’i bersama sang ayah (Syafi’i bin H. Sairan) dan juga neneknya pergi menunaikan ibadah haji. Empat tahun berikutnya, pada 1927, dia mulai mengajar baca-tulis Alquran dengan bermodalkan empat santri.

Pada tahun 1933, saat usianya 23 tahun Abdullah Syafi’i mendirikan Masjid Al-Barkah di Bali Matraman, Jakarta Selatan. Dari masjid ini dia mendirikan Majelis Taklim Al-Islamiyah, yang merupakan sebuah forum pengajian. Aktivitas ini kemudian berkembang pesat sampai membuka cabang di Kebon Jeruk Jakarta Barat, Pejaten Jakarta Selatan, dan Bekasi Jawa Barat. Majelis Taklim khusus Ikhwan diasuh oleh dirinya sendiri, sedangkan yang akhwat, diasuh oleh istrinya.

Tahun 1940-an menjadi tahun berduka baginya, dengan wafatnya sang ayah. Menyusul setelah itu, nama Majelis Taklim Al-Islamiyah olehnya diubah menjadi Asy-Syafiiyah. Dan seiring dengan perkembangan forum pengajian, Madrasah Diniyah pun dikembangkan. Selanjutnya ia mendirikan Madrasah Tsanawiyah pada 1957, disusu Raudhatul Atfhfal pada 1969, dan Sekolah Dasar pada 1970. Juga didirikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan Perguruan Tinggi.

Lembaga Pendidikan dan pesantrennya menyebar, tak hanya di Bali Matraman, Jakarta Selatan. Tapi juga ke sejumlah tempat seperti Jatiwaringin Jakarta Timur dan Sukabumi Jawa Barat. Selain itu, ada pula pengembangan kegiatan sosial, seperti pendirian poliklinik, Pesantren Yatim Piatu, dan pesantren khusus penghafal Alquran. Bahkan, didirikan juga Radio Asy-Syafi’iyah.

Sosok Abdullah Syafi’i terbilang cukup istimewa. Di masa awal, setiap kali bertabligh dia selalu membawa dagangan, mulai dari songkok sampai dengan baju koko. Ia memiliki prinsip bahwa dakwah harus jalan terus, namun keluarga perlu dinafkahi antara lain dengan berdagang.

Keistimewaan lain, dia tetap rajin menimba ilmu kapan pun juga. Dia berprinsip, bahwa kita harus terus belajar dengan banyak membaca. Misal, di saat berdakwah dan berdagang ia tak pernah lupa untuk selalu membawa kitab. Adapun kitab miliknya, di setiap halamannya selalu penuh catatan.

Berdakwah sambil mencari nafkah dengan berdagang seperti yang dilakukan Abdullah Syafi’i ternyata punya hikmah tersendiri. Misalnya, menumbuhkan simpati dari jamaah. Akibatnya, pertama, dagangannya laris sebab boleh jadi para pembelinya punya asumsi bahwa muamalat mereka pasti halal dan berkah. Kedua, donatur berdatangan. Mereka percaya dengan sikap amanah Abdullah Syafi’i.

Abdullah Syafi’i terus meluskan majelis-majelis taklimnya di berbagai kota. Tak hanya di berbagai pelosok negeri sendiri, tapi dakwahnya juga sampai ke Singapura dan Malaysia. Bahkan, juga lewat radio yang didirikannya. Di antara hal prinsip yang dipegang Abdullah Syafi’i, bahwa beda pendapat itu tak perlu sampai merusak silaturrahim. Dia sendiri dikenal toleran dengan lingkungannya. Maka, muda dimengerti jika relasi Abdullah Syafi’i sangat banyak.

Abdullah Syafi’i pernah aktif di Partai Masyumi dan berkawan akrab dengan M. Natsir, salah satu tokohnya. Bahkan, Abdullah Syafi’i mengajak M.Natsir masuk ke Majelis Mudzakarah yang dia pimpin. Di Majelis Mudzakarah ia selalu membahas persoalan kontemporer dengan merujuk kepada kitab kuning.

Saat Majelis Ulama Indonesia berdiri pada 1975, Abdullah Syafi’i masuk pada jajaran pengurusnya. Lalu pada tahun 1979-1985, Abdullah Syafi’i menjadi Ketua Umum MUI Jakarta. Kemudian ia menjadi penasihat saat Buya HAMKA di menjadi Ketua Umum MUI.

Sebagai Ketua Umum MUI Jakarta, Abdullah Syafi’i berteman dengan umara. Kala itu dia mengambil posisi sebagaimana ulama yang seharusnya. Banyak kebijakan Ali Sadikin yang dia kritisi. Contohnya soal lokalisasi pelacuran dan perjudian. Lewat tabligh-tabligh, Abdullah Syafi’i aktif menentangnya. Juga, terhadap ide membakar jenazah karena alasan mahalanya tanah dan semakin sempitnya tanah. Sepintas, alasan ide pembakaran mayat (kremasi) itu seperti benar. Padahal, secara syariat jenazah harus dikubur dan bukan dibakar. Akhirnya ide itu pun tak jadi dilaksanakan.

Abdullah Syafi’i juga dikenal sebagai singa podium. Saat berpidato, dia lugas dan tegas. Bila berhadapan dengan pejabat, dia suka mengingatkan bahwa ada kehidupan akhirat setelah di dunia ini. Untuk itu, jabatan harus dipakai secara adil dan bijaksana agar selamat dunia akhirat.

Abdullah Syafi’i sangat mencintai ilmu. Bahwa, pada menit-menit terkahirnya saat akan “dipanggil’ oleh Allah ke haribaanNya, dia masih meminta putra-putrinya agar selalu membaca sebuah kitab. Lebih jauh, salah seorang putranya mengatakan bahwa Abdullah Syafi’i memiliki semnagat menuntut ilmu yang tinggi dan seorang pembaca yang kuat.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply