Khutbah Jum’at: Keutamaan Puasa Bulan Syawal

 Khutbah Jum’at: Keutamaan Puasa Bulan Syawal

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ إِفْتَتَحَ أَشْهُرَ الْحَجِّ بِشَهْرِ شَوَّالَ, وَجَعَلَهُ مَتْجَرًا لِنَيْلِ الْفَضَائلِ , وَأَيْقَظَ فِيْهِ ذَوِى الْهِمَمِ الْعَالِيَةِ وَالأَحْوَالِ, الْعَالِمِيْنَ بِأَنَّهُمْ فِي هذِهِ الدَّارِ عَلَى يَقِيْنِ الظَعْنِ وَاْلاِرْتِحَالِ, اصَّارِفِيْنِ الْهِمَمَ فِي التَّزَوُّدِ , مِنْ دَارِ الْاِنْتِقَالِ إِلَى دَارِ الْمالِ , الْحَافِظِيْنَ لِأَوْقَاتِهِمْ عَنِ الْبَطَالاَتِ وَالْأَشْغَالِ, الدَّائِبِيْنَ فِي طَلَبِ الْفَضَائِلِ فِي الْحَالِ, نَظْرُ كُلٍّ مِنْهُمْ فِي الْخَيْرِ جَوَّالٌ, وَلِسَانُهُ بِالْحَقِّ قَوَّالٌ, وَهِمَّتُهُ مَصْرُوْفَةٌ فِيْمَا يِصْلحُ الْأَعْمَالَ, فَالْمَاضِى بِإِكْمَالِهِ وَرَفْوِ الْإِخْلاَلِ, وَالْحَالَ بِاغْتِنَامِهِ قَنْلَ الْفَوَاتِ وَالزَّوَالِ, وَالْمُسْتَقْبَلَ بِالْاِسْتِعْدَادِ لَهُ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الْأَفْعَالِ, فَسُبْحَانَهُ مِنْ إِلَهٍ عَظِيْمٍ مُتَفَرِّدٍ بِصِفَاتِ الْكَمَالِ وَالْجَلاَلِ, عَالِمٌ بِمَوَاضِعِ الْاِخْتِيَارِ وَالْمُحَالِ, أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ وَيَرْضَى غَيْرَ مُسْتَغْنٍ عَنْهُ فِي حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ, وَأَشْكُرُهُ وَأَيَادِيْهِ عَلَى شَاكِرِهِ دَوَّاٌل,

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالُ, شَهَادَةً تَنْفِي الشِّرْكَ وَتُنَافِى الضَّلاَلَ, وَأَرْجُوْهُ أَنْ يَجْعَلَهُ لِحَيَاتِي آخِرَ مَقَالٍ, وَأَنْ يُؤَمِّنَنِى بِهَا يَوْمَ الْمَخَاوِفِ وَالْأَهْوَالِ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَلِيْلُهُ الصَّادِقُ الْمَقَال, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى عَبْدِكَ ورَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرُ صَحْبٍ وآلٍ, أَمَّا بَعْدُ,  

Ma’asyirol muslimin, rohimakumulluh

Wahai anak Adam, bertaqwalah kepada Allah SWT. Semata, hindarilah perbuatan maksiat, sebab dia pasti akan menjerumuskan kita kelembah kerugian dan kehinaan. Jangan kita rusak perbuatan baik yang telah kita lakukan dibulan Ramadhan, jangan pula kita nodai waktu-waktu dan kondisi suci kita di bulan itu. Jangan kita ganti kenikmatan munajat dan mendekatkan kepada Allah di dalamnya dengan yang lain.

Sebab, sebagaimana perbuatan-perbuatan baik dapat menghapus keburukan, demikian pula perbuatan-perbuatan tercela dapat membatalkan amal saleh. Ingatlah, tanda-tanda sebuah kebaikan itu diterima adalah melakukan kebaikan itu sendiri secara koِntinu, dan tanda sebuah kebaikan ditolak adalah jika kebaikan itu diikuti perbuatan buruk.

Pepatah bijak mengatakan, “satu dosa yang dilakukan setelah berobat lebih buruk disbanding 70 dosa yang dilakukan sebelumnya” Imam Muslim meriwayatkan Hadis dari Abu Ayyub RA. Bahwasanya Nabi Muhammad SAW. Bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَالَ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ

“Barang siapa berpuasa Ramadan lalu dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa sepanjang waktu.”

Dalam ibadah puasa terdapat petunjuk akan iman dan tekad untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Bisyr al-Hafi pernah ditanya, “Ada suatu kaum yang giat beribadah dan bersungguh-sungguh melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Akan tetapi, manakala Ramadhan pergi, mereka pun meninggalkan itu semua. Lantas, apa pendapat kita?”

Dia menjawab, “Amat buruk kaum itu. Mereka tidak mengenal Allah, kecuali hanya pada bulan Ramadhan.” Hasan Bashri juga pernah berkata, “Amal seorang mukmin tidaklah memiliki batasan waktu tanpa adanya kematian.” Kemudian, ia membaca firman Allah,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS. al-Hijr [15]: 99)

Maka, seolah-olah kita sedang berada di waktu sekarang, padahal waktu itu sejatinya telah berlalu. Seakan-akan kita sedang bersama harta kekayaan, padahal sejatinya ia sedang berpaling dari kita. Seolah-olah kita sedang menikmati kekuasaan, padahal sejatinya ia sedang menghilang. kita sedang bersama malaikat maut yang membuat kalian resah. Kalian tengah bersama malaikat penjaga catatan amal. Seolah-olah kalian tengah bersama seseorang, padahal dia tengah ditimpa sesuatu yang tak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya, tak ada daya ataupun tipu daya yang bisa menyelamatkannya.

Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah, wahai para hamba Allah. Persiapkanlah segala sesuatunya untuk diri kita sendiri pada kesempatan yang diberikan ini. Sebab, kesempatan itu sejatinya hanya beberapa hari dan malam yang dapat dihitung.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ. وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ. لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ. لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri.

“Mereka itulah orang-orang fasik. Tidaklah sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga. Para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Sekiranya Kami turunkan al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (QS. al-Hasyr [59]: 18—21)

Semoga Allah memberkahi saya dan Saudara semua dalam al-Quran yang agung, dan semoga Dia memberi manfaat kePada saya dan Saudara semua melalui ayat dan al-Qur’an yang bijaksana itu. DIa-lah Tuhan yang Mahabaik, Mahamulia, Raja dari segala Raja, Maha Welas Asih, Maha Berbuat Baik, dan Maha Penyayang.


بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply